Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
HEADLINE

Tokoh Islam Banua Gerah Gegara Gembong Narkoba

×

Tokoh Islam Banua Gerah Gegara Gembong Narkoba

Sebarkan artikel ini

Banjarmasin, KP – Tokoh Islam Banua gerah dan terpukul gegara gembong Narkoba.

Menyusul terbongkar jaringan narkoba internasional dimana gembongnya, Fredy Pratama alias Miming berasal dari Banua.

Kalimantan Post

Pasalnya, daerah ini dikenal sangat religus dan gamis.

“Kita semua sudah tahu sejak dulu di Kalsel, pemakai dan peredaran narkoba masuk terbanyak di Indonesia,” ujar Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Kalimantan Selatan (PWNU Kalsel) Nasrullah AR, Jumat (15/9).

Pertanyaan sekarang, lanjut dia, dimana selama ini aparat penegak hukum dan Badan Narkotika Nasional (BNN) hingga kasus Fredy, baru terungkap.

Itu pun lelaki yang dijuluki Escobar Indonesia tak tersentuh dan sampai sekarang belum tertangkap.

“Tak mungkin aparat tidak tahu masalah maraknya peredaran narkoba maupun pengedarnya, khususnya di Kalsel. Ada apa ini semua,” tandasnya.

Menurut Nasrullah lagi, dugaan beberapa tempat kemungkinan sebagai tempat transaksi narkoba.

Sebenarnya, lanjut Nasrullah, ulama di Kalsel sangat marah dengan adanya gembong narkoba dan marak peredaran barang haram.

“Kasihan ulama dan ummat Islam yang mengadakan pengajian rutin di masjid-masjid, mushola serta majelis taklim, namun sebaliknya peredaran narkoba juga marak,” ujarnya.

Nasrullah yang juga Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalsel menambahkan, para ulama hanya bisa melakukan tausiah masyarakat tentang bahaya narkoba dan efeknya.

Diakuinya, memang salah satu cara menghancurkan suatu negara dengan merusak generasi muda salah satunya melalui narkoba.

“Upaya memberangus narkoba dan membikin efek jera, salah satunya dengan cara hukuman mati gembong maupun pengedar narkoba.

Karena barang haram ini membunuh generasi bangsa,” tegasnya.

Dikesempatan itu, Nasrullah juga memuji semangat Presiden RI Joko Widodo menugaskan Kapolri melakukan kerjasama interpol negara lain untuk bersama-sama memberantas narkoba seperti kasus Fredy.

Baca Juga :  Puluhan Ribu Jemaah Padati Terawih Perdana di Masjid Sabilal Muhtadin Meski Diguyur Hujan

“Kita berharap pihak keamanan, khusus di Kalsel benar-benar memerangi narkoba sampai ke akar-akarnya.

Sebab, peredarannya sudah sampai ke kampung-kampung di daerah kita,” tandasnya.

Sebenarnya di Kalsel, lanjut Nasrullah, tak hanya marak narkoba, juga prostitusi online hibgga judi online.

Salah satu tokoh Islam Banua lainnya, H Ahmad Rizqon sangat prihatin dengan gembong narkoba berasal dari Kalsel dan daerah ini sebagai salah satu provinsi tertinggi penyalahgunaan narkoba di Indonesia.

“Sebagai warga banua, kita sangat prihatin karena justru gembong jaringan narkoba ini berasal dari Kalsel.

Ini sedikit banyaknya memberi dampak buruk thd prikehidupan generasi muda kita di Banua,” ujarnya.

Rizqon yang juga Sekjen DPP Badan Komunikasi Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Pusat ini menambahkan, perkara narkoba dipandang dari sudut mana pun adalah sesuatu yang dapat merusak kehidupan, merusak mental beragama seseorang.

Merusak akhlak dan pergaulan, bahkan merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.

Ditambahkan Rizqon, semua pihak harus berikhtiar untuk menyelamatkan generasi muda dari pengaruh narkoba yang sudah merambah disegala lini kehidupan.

“Pemerintah juga harus bersungguh-sungguh untuk mencegah, menindak para pelaku perusak moral bangsa ini,” pintanya.

Sementara itu, Ketua Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalsel Prof Dr H Ridhahani Fidzi mengatakan kalau masalah narkoba di Kalsel memang sudah sejak dulu masuk peringkat nasional.

“Pengedar dan penggunanya sudah sampai ke desa-desa.

Saya sering menerima laporan mahasiswa yang sedang KKN di desa-desa, mereka sering diganggu oleh para pecandu narkoba saat melakukan kegiatan,” paparnya.

Ridhahani yang juga guru besar UIN Antasari Banjarmasin ini menambahkan, mereka juga sering menjadi benturan dengan pengurus Masjid dan Langgar-langgar saat ada pengajian atau acara keagamaan bahkan ada yangberani memerintahkan agar mic masjid dimatikan.

Baca Juga :  “Realisasi Anggaran Dipercepat”

“Aparat sudah cukup maksimal melakukan pencegahan dan penindakan, tapi masih kalah banyak dengan para pelakunya yang selalu bertambah jumlahnya.

Kami berharap semua orang tua, masyarakat, tokoh agama, harus ekstra ketat melakukan pengawasan terhadap keluarganya dan masyarakat demi menyelamatkan mereka sebagai generasi yang akan datang,” paparnya

Diketahui sebelumnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Kalsel mencatat sebanyak 57.723 kasus penyalahgunaan narkoba selama empat tahun terakhir, tepatnya mulai tahun 2019 hingga pertengahan tahun 2023.

“Jumlah kasus ini membawa Kalsel sebagai salah satu provinsi tertinggi penyalahgunaan narkoba di Indonesia, yang masuk dalam daftar sembilan besar kawasan rawan narkoba dengan prevalensi 1,8 atau 3,4 juta penduduk,” kata Kepala BNN RI, Komjen Polisi Prof Dr Petrus R Golose. (mau/K-2)

Iklan
Iklan