Oleh : Puspita Indah Ariani, S.Pd
Guru SD dan Aktivis Muslimah Kalsel
Baru-baru ini, kita dihebohkan dengan berita pembunuhan satu keluarga yang dilakukan oleh seseorang pemuda mabuk. Kabar ini bukan kabar yang perdana didengar. Sebelumnya juga banyak remaja yang melakukan tindakan kriminal. Ini sungguh membuat hati miris, bagaikan sebuah petaka bagi generasi yang akan datang.
Seperti yang di kutip dari Republika, Kamis 8 Februari 2024 bahwa Kepolisian Resort Penajam Pasir Utara Kalimantan Timur mengungkap kasus pembunuhan oleh seorang remaja berinisial J (16 tahun) terhadap satu keluarga berjumlah lima orang. Diduga motif pembunuhan karena persoalan asmara dan dendam pelaku terhadap korban. Korban dan pelaku adalah tetangga.
Sedangkan motif yang dilakukan pelaku sebagaimana Supriyanto mengatakan, bahwa motif J menghabisi satu keluarga yang juga tetangganya itu, lebih dari persoalan asmara remaja. Menurutnya, kedua pihak memang kerap berselisih atau cekcok sebelum peristiwa nahas tersebut terjadi. Motif kami duga berawal dari rasa dendam antara pelaku dan korban yang diawali beberapa permasalahan di antaranya masalah seperti ayam, korban sempat minjam helm pelaku tapi tidak dikembalikan selama 3 hari,” ujar Supriyanto. (Jawa Post, Kamis/8/2/2024)
Kasus tersebut adalah satu dari sekian banyak potret buram kegagalan Pendidikan Indonesia dalam membentuk siswa didik yang berkepribadian terpuji. Semakin banyak bermunculan peserta didik yang berperilaku keji dan sadis. Kurang kuatnya akidah Islam menyebabkan generasi saat ini bebas melakukan apa saja dia kehendaki. Bahkan, tanpa memikirkan hal yang dilakukan tersebut akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah atau tidak.
Ini adalah ciri penerapan sistem sekularisme dalam kehidupan masyarakat. Dimana sistem ini telah memisahkan agama dari kehidupan. Semua perbuatan tak lagi bersandarkan pada hukum Islam.
Kemudian dalam sektor pendidikan pun, sekularisme saat ini berkiblat dari Peradaban Barat. Misalnya dengan mengurangi pelajaran-pelajaran agama. Pendidikam agama Islam juga sangat sedikit didapat pelajar. Sehingga nilai-nilai akhlakpun begitu sulit diterapkan pemuda saat ini. Akhirnya, lahirlah generasi bermental lemah bahkan tempramen.
Lemahnya sistem sanksi juga menjadi faktor pendukung terjadinya kejahatan. Karena sistem sanksi yang lemah, membuat pelaku kejahatan tidak merasa jera bahkan semakin brutal. Sanksi pada orang yang minum minuman keras misalnya, tidak ada pengaturan yang melarang. Padahal efek dari minuman keras sangatlah buruk yang dapat membahayakan manusia. Karena disaat manusia kehilangan kesadaran, maka semuanya dilakukan berdasarkan nafsu semata.
Berbeda halnya dengan Islam. Islam mengatur semua perbuatan manusia berdasarkan ketentuan syariat. Jelas mana yang haram, halal, bahkan yang mubah sekalipun. Sehingga untuk kasus minuman yang menimbulkan orangnya mabuk, sudah jelas haram. Maka dia akan diberi sanksi sesuai perbuatannya yang telah melakukan perbuatan haram.
Selain itu, Islam juga mempunyai sistem kehidupan terbaik. Salah satunya yaitu dalam sistem Pendidikan yang mampu mencetak generasi berkualitas serta berkepribadian Islam. Karena pendidikan dalam Islam menjadikan pelajaran agama adalah hal yang wajib dipelajari sejak masuk Sekolah Dasar.
Sistem Islam memiliki berbagai strategi yang mampu mencegah tindak kejahatan, salah satunya dengan pengharaman khamar yang merupakan induk kejahatan. Termasuk melarang adanya miras di negara, sehingga tidak ada transaksi jual beli miras di dalam negara yang menjalankan sistem Islam tersebut.
Demikianlah cara Islam mengatasi rusaknya generasi muda. Semua diatasi dari akarnya. Tak hanya membuat aturan atau sanksi belaka, tapi sebelum itu terjadi Islam telah melakukan upaya pencegahan. Semua ini hanya bisa dilakukan bersama-sama. Baik itu melalui individu yang bertakwa, masyarakat yang bertakwa dan juga peran negara yang menjalankan sistem politik Islamnya wallahua’lam












