Ibnu Sina mengaku telah melakukan pertemuan dengan pemilik lahan Taher Square di sela-sela pertemuan politik dengan PDI-Perjuangan
BANJARMASIN, KP- Demi mendukung pembebasan lahan tahap pertama proyek NUPREP ( National Urban Flood Resilience Project) atau Program Nasional Ketahanan Banjir Perkotaan, Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina sampai turun tangan.
Tahap pertama di Sungai Veteran, dari Klenteng Soetji Nurani hingga Simpang Ulin terkendala pembebasan lahan terutama pelebaran sungai selebar 8 meter antara Taher Square dan Klenteng Soetji Nurani.
Usai pertemuan dengan Badan Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan 3 di rumah dinas Walikota Banjarmasin, Ibnu Sina mengatakan harus turun langsung melakukan negosiasi dan perundingan dengan pemilik lahan.
Ibnu Sina mengaku telah melakukan pertemuan dengan pemilik lahan Taher Square di sela-sela pertemuan politik dengan PDI-Perjuangan.
Namun, pertemuan ini tidak sampai membicarakan harga untuk pembebasan lahan, namun membicarakan pentingnya untuk melepaskan lahan demi pengendalian banjir di Kota Banjarmasin.
“Dengan pihak Taher Square dan Tampekong kita telah berkoordinasi untuk kepentingan bersama warga Kota Banjarmasin, sesuai dengan komitmen kita menyelesaikan pembebasan lahan tahap pertama, yang tersisa 2 persil, yaitu Taher Square dan Tempekong” kata Ibnu Sina.
“Kita minta untuk berkorban lah bagi warga Kota Banjarmasin terutama di bagian bottle necknya di muara sungai Veteran, ada penyempitan dan belokan arah” ujarnya.
Menurutnya alotnya negosiasi akibat pelebaran sungai ini akan memakan sedikit bagian Tempekong dan lebih banyak di sisi Taher Square.
Ibnu Sina menambahkan ada banyak faktor yang mempengaruhi pembebasan lahan ini, terutama untuk mengikhlaskan lahan dengan harga sesuai dengan penilaian tim appraisal.
“Kemaren kami sempat sampaikan dengan pemilik Taher Square, walaupun termasuk negosiasi pilkada sengaja jua ulun sampaikan saat itu, kita bicarakan” sebut Ibnu Sina.
Kepala Dinas PUPR Kota Banjarmasin, Suri Sudarmadiyah mengatakan secara umum pada tahap 1, hampir semua lahan telah dibebaskan kecuali 2 persil yaitu Taher Square dan Tampekong.
“Kalau ada pihak yang belum setuju, tinggal menjalankan sesuai dengan regulasi yang ada, karena ini memang kepentingan umum” kata Suri Sudarmadiyah.
Anggaran yang telah dibayarkan PUPR untuk pembebasan lahan sekitar 21 Milyar rupiah untuk Sungai Guring Perkapuran, selanjutnya 9 milyar rupiah untuk lanjutannya di Sungai Gardu.
Sementara, Kepala BWS Kalimantan 3, I Putu Eddy Purna Wijaya mengatakan untuk pengerjaan segmen 1 memiliki waktu 2 tahun penyelesaian dengan nilai kontrak sebesar 298 milyar rupiah.
Untuk pengerjaan proyek ini, BWS Kalimantan 3 mulai mengerjakan proyek dari lahan yang sudah dibebaskan. Sementara, untuk desain tidak akan banyak berubah dari desain yang sudah ada.
“Yang jelas 1 atau 2 bulan ini proyek mulai dikerjakan dengan desain yang sama dengan yang ada, substansinya sama, tinggal pengerjaan dilapangan saja” kata I Putu Eddy. (mar/K-3)















