Oleh : ANDI NURDIN LAMUDIN
Ketika membuka karaoke dan menyanyikan lagu kenangan dari Ebiet G Ade, yang berjudul Mimpi di Parang Tritis, kembali membuka cakrawala kenangan di Yogyakarta. Sewaktu mahasiswa pernah menjadi penduduk Yogyakarta, karena punya SIM, tentunya punya KTP Yogyakarta untuk kendaraan wara wiri di Kota Mahasiswa dan Kota Budaya Yogyakarta. Aku terlena dalam buaian angin malam, matahari pagi di atas puncak bukit karang? Sebatang pohon kering membelah matahariku, aku terkejut dalam diam, mimpi indahkah kau semalam? Kiranya dirimu telah hilang musnah, seperti namamu yang kutulis di pasir ditelan ombak laut selatan.
Kenangan akan Parang Tritis, adalah pantai laut selatan, yang penuh dengan misteri. Orang banyak juga terpengaruh legenda akan Ratu Pantai Selatan. Namun setelah sekian lama aku membaca akan buku tentang Bumi itu Al-Quran dari KH Fahmi Basya, baru aku sedikit mengerti jika pantai selatan mengandung banyak misteri. Jika sebenarnya dahulunya laut itu adalah daratan. Dimana ada kerajaan Ratu Saba yang bernama Siti Balqis, yang diperkirakan kerajaan itu tertimbun di laut selatan. Jika dengan nama Ratu Balqis akan juga mengikuti cerita pasangannya yaitu Nabi Sulaiman. Kota Yogyakarta memang misteri dan penuh arti, apalagi jika pantai selatan, adalah merupakan Yin dan Yang-nya adalah Gunung Merapi. Sehingga dua kutub alam ini mengapit kota Yogyakarta. Bahkan nuansa Islami memang sangat terasa di Yogyakarta, sebagai juga pusat Muhammadiyah, dimana para tokohnya banyak menjadi guru Penulis.
Kenangan itu juga mengingatkan jika pernah mendengar gamelan di Yogyakarta, seperti orang bermain kuda lumping. Namun jika dicari suara itu, ke manapun tidak ketemu. Katanya jika itu terjadi pasti akan kembali lagi ke Kota Gudeg itu. Kota dimana jika peranan Sunan Kalijaga penuh dengan suasana Tasauf, yang mampu mengajak rakyat dengan kreatif seninya. Mengingat karya Sunan Kalijaga dengan Rumekso ing wengi, kajian lagu dendang, yang merupakan penafsiran Islam, dan terhimpunnya para nabi pada tubuh manusia. Dibuat Sunan Kalijaga dengan bahasa Jawa. Kok di Yogyakarta ada yang namanya Kabupaten Seleman? Lagi-lagi karena membaca karangan KH Fahmi Basya, yang katanya kata Seleman itu dari kata Sulaiman, yang memang berhubungan dengan cerita nabi itu pada dahulu kala.
Kalau ke Yogyakarta, tentunya tidak lupa akan menuju Borobudur, bangunan unik yang aneh, di Kota Magelang. Anehnya ketika KH Fahmi Basya mengutak atik bilangan Al-Quran yang dihubungkan dengan angka 19, dan Al Furqan, dibuat sedemikian rupa berbentuk grafik karena sehubungan dengan matematika, yang terdiri dari angka dan huruf, maka seperti bangunan Borobudur? Yang lebih aneh lagi pada relief Borobudur itu, ada cerita manusia yang ditelan ikan paus seperti cerita Nabi Yunus? Juga manusia yang berbicara dengan binatang dan burung-burung seperti Nabi Daud? Ada wanita yang mengangkat kainnya sehingga terlihat betisnya, seperti Balqis? Di dekat kepalanya seperti dalam komik, ada gambar ikan, yang mengisyaratkan dia mengira kaca itu air, tempat ikan bermain.
Telah hilangkah namamu di telan pantai laut selatan? Kemana namamu yang tenggelam dalam waktu dan ombak waktu yang bergulung? Waktu terus berjalan dan menggulung, semua aktivitas dan kreatif manusia yang begitu banyak telah datang ke Yogyakarta, kemudian pulang ke kampung halamannya.