RANTAU, Kalimantanpost.com – Lapangan Basket Bur Anwar, Rabu (13/8), dipenuhi sorak-sorai dan tawa riang. Pegawai dari berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lingkup Kabupaten Tapin beradu ketangkasan dalam Festival Olahraga Tradisional Balogo dan Bakatikan dalam rangka memeriahkan HUT ke-80 Republik Indonesia.
Sebanyak 29 SKPD mengirimkan tim terbaiknya. Tercatat sekitar 145 peserta mengikuti perlombaan yang mengandalkan kelincahan, strategi, dan kekompakan tim.
Dua permainan khas Banua ini berhasil menghadirkan suasana meriah yang membangkitkan semangat kebersamaan.
Plt Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdakab Tapin, H Taufiqurahman, yang mewakili Bupati Tapin saat membuka kegiatan, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar lomba.
“Ini adalah cara kita mempererat silaturahmi di lingkungan pemerintah daerah sekaligus melestarikan budaya lokal yang sarat nilai kebersamaan,” ujarnya.
Taufiqurahman menilai, di tengah arus modernisasi, menjaga permainan tradisional adalah bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.
Menurutnya, Balogo dan Bakatikan memiliki filosofi gotong royong, sportivitas, dan strategi yang tak kalah penting dari olahraga modern.
“Permainan Balogo dan Bakatikan, yang dulunya hanya dimainkan di halaman rumah atau lapangan desa, kini naik kelas menjadi ajang resmi antarinstansi,” tambahnya.
Selain mempertahankan kearifan lokal, kegiatan ini juga menjadi sarana rekreasi bersama yang mempererat hubungan kerja.
Pemkab Tapin berharap festival ini, dapat menghidupkan kembali permainan tradisional.
“Kalau kita tidak menjaga, lama-lama akan dilupakan. Padahal di dalamnya ada nilai-nilai penting untuk membangun karakter masyarakat,” kata Taufiqurahman.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Tapin, Eko Haryono, menyebut antusiasme peserta sebagai bukti bahwa olahraga tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.
“Peserta sangat bersemangat, bahkan latihan sudah dilakukan jauh-jauh hari. Ini membuktikan bahwa nilai kebersamaan dan kegembiraan menjadi daya tarik utama,” katanya.
Eko menambahkan, pihaknya akan mendorong agar lomba semacam ini tak hanya digelar saat HUT RI.
“Kami ingin menjadikannya agenda rutin yang masuk kalender event daerah, sehingga generasi muda makin mengenal dan mencintai permainan tradisional Banua,” ujarnya.
Dengan semangat kemerdekaan, para peserta menutup festival dengan penuh kebanggaan. Bagi mereka, kemenangan bukan hanya soal trofi, tapi juga tentang menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah masyarakat. (abd/KPO-4)