BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Aliansi Meratus yang terdiri dari Komunitas Masyarakat Adat, Komunitas Lokal dan Organisasi Masyarakat Sipil Provinsi Kalimantan Selatan, telah melaksanakan konsolidasi terbuka untuk menyikapi usulan pemerintah provinsi Kalimantan Selatan untuk menetapkan wilayah adat meratus sebagai Taman Nasional Pegunungan Meratus.
Mereka memandang bahwa usulan penetapan taman nasional pegunungan meratus tidak hanya mengingkari keberadaannya sebagai Masyarakat Adat dan Komunitas Lokal yang telah mendiami pegunungan Meratus secara turun-temurun dan mempraktikkan model-model pengelolaan hutan dan sumber daya alam secara lestari dan berkelanjutan berdasarkan pengetahuan tradisional dan hukum adat yang dimiliki.
Bahkan menurut mereka, hal itu juga dapat sekaligus akan menggusur dari ruang hidup dan penghidupan masyarakat setempat baik sebagai peladang, petani, dan berbagai bentuk pekerjaan tradisional kami selama ini.
Berdasarkan hal tersebut, Aliansi Meratus menyatakan sikap dengan tegas sebagai berikut:
-Menolak rencana penetapan Taman Nasional Pegunungan Meratus di wilayah adat Masyarakat Adat Meratus di Kalimantan Selatan.
-Mendesak Gubernur dan DPRD Provinsi Kalimantan Selatan untuk segera menarik kembali pengajuan penetapan Taman Nasional Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan.
-Mendesak Kementerian Kehutanan Republik Indonesia untuk menghentikan seluruh proses penetapan Taman Nasional Pegunungan Meratus di Kalimantan Selatan.
-Mendesak kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk Mengimplementasikan Perda Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 2 Tahun 2023 Tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat
Menanggapi penolakan itu, Gubernur Kalimantan Selatan, H Muhidin menyatakan maklum, dirinya menilai penolakan tersebut juga tidak lepas dari kepentingan bersama untuk menjaga ekosistem terutama hewan endemik.
“Kalau penolakan ya kita hargai penolakan itu, tentu ini ada alasan mengapa mereka menolak, tapi tetap kita akan lakukan yang terbaik untuk mereka,” kata Muhidin saat diwawancara usai Paripurna Hari Jadi Kalsel ke 75.
Ia pun mengajak untuk bersama-sama menjaga kelestarian hewan endemik di Banua, seperti monyet dan bekantan yang saat ini sulit ditemukan.
Menurut Muhidin, menjaga kelestarian hewan endemik ini mesti dibarengi dengan merawat lahan-lahan hutan, dicontohkannya seperti memelihara kawasan GeoPark Meratus.
“Seperti di Pulau Curiak, Pulau Bakut, jadi di pulau-pulau itu juga kita lestarikan hewan endemik ini,” singkat Muhidin. (Sfr/KPO-1)