Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

Genting Gizi atau Pendidikan, Masa Depan Anak Dipertaruhkan

×

Genting Gizi atau Pendidikan, Masa Depan Anak Dipertaruhkan

Sebarkan artikel ini

Oleh : Muhammad Agha Putra Al Fajrin
Mahasiswa Prodi Statistika ULM

Indonesia sedang menaruh harapan besar pada tahun 2045, tepat seratus tahun usia kemerdekaannya. Visi “Indonesia Emas” digambarkan sebagai era keemasan yang ditandai dengan bonus demografi, ekonomi kuat, dan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul. Namun, berbagai isu muncul dalam mewujudkan visi tersebut, tak terkecuali di Kalimantan Selatan: apakah di hari ini anak-anak sedang tumbuh dengan gizi dan pendidikan yang layak? Jika tidak, akankah generasi emas yang diharapkan itu benar-benar akan terwujud?

Kalimantan Post

Dua tantangan besar yang saling terkait dalam membangun SDM berkualitas adalah gizi dan pendidikan anak. Sayangnya, keduanya masih menjadi permasalahan yang mendasar. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting di Kalimantan Selatan tercatat sebesar 22,9 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 19,8 persen. Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan yang pendek, tetapi juga sebagai sinyal adanya gangguan gizi kronis yang berpotensi menurunkan kapasitas kognitif dan produktivitas anak di masa depan.

Anak-anak dengan gizi buruk sering kali mengalami hambatan dalam mengikuti proses belajar. Berdasarkan artikel berjudul “Wasting (Gizi Kurang dan Gizi Buruk) dan Dampaknya pada Anak”, Unicef (2023) menyatakan bahwa anak yang mengalami kurang gizi dan gizi buruk lebih rentan terkena penyakit karena imunitasnya yang rendah, pertumbuhan fisik yang terhambat, dan perkembangan otaknya terganggu. Temuan ini juga sejalan dengan informasi yang dipaparkan dalam Book Chapter of Stunting Volume 2(1) terbitan oleh Nuansa Fajar Cemerlang yang menegaskan bahwa permasalahan gizi terutama terkait stunting tidak sekadar permasalahan fisik, tetapi juga mengganggu perkembangan kognitif, menurunkan kapasitas intelektual, menurunkan produktivitas masa depan, serta meningkatkan risiko penyakit menular di usia dewasa. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah (RLS) di Kalimantan Selatan sebesar 8,94 tahun untuk laki-laki dan 8,29 tahun untuk perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk Kalimantan Selatan belum menamatkan jenjang pendidikan menengah atas. Kondisi ini menjadi sebuah ketimpangan yang menjadi sinyal peringatan bagi masa depan generasi muda, sebab anak-anak yang mengalami gangguan gizi dan pendidikan yang kurang memadai akan menghadapi berbagai tantangan, terutama hal keterbatasan fisik, hambatan kognitif, serta minimnya peluang ekonomi di masa depan.

Baca Juga :  Kapitalisme Membunuh Masa Depan : Generasi Muda Tumbuh dalam Kekacauan

Rendahnya Rata-rata Lama Sekolah (RLS) tentu tidak terjadi tanpa sebab. Berbagai penelitian sebelumnya menegaskan bahwa kemiskinan memiliki pengaruh signifikan terhadap rendahnya RLS. Temuan ini diperkuat penelitian yang dilakukan oleh Kurnia Hidayat, Akadun, dan Anne Friday Safaria (2025) dalam “Strategi Dinas Pendidikan untuk Meningkatkan Rata-rata Lama Sekolah di Kabupaten Sumedang”, yang menunjukkan bahwa kemiskinan, akses pendidikan yang tidak merata, serta rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan merupakan faktor signifikan yang memengaruhi capaian RLS. Dari angka rata-rata sekolah tersebut, bisa saja dimulai anak dari keluarga miskin sering kali harus bekerja lebih awal atau menikah muda. Sementara itu, orang tua yang tidak menamatkan pendidikan formal cenderung tidak mendorong anaknya untuk bersekolah lebih tinggi. Semua ini diperparah oleh buruknya kondisi gizi sejak masa kehamilan hingga balita.

Padahal, dalam dokumen perencanaan nasional seperti RPJMN, pembangunan SDM menjadi prioritas utama menuju Indonesia Emas. Kalimantan Selatan bisa menjadi contoh nyata bahwa pembangunan harus dimulai dari gizi yang baik dan pendidikan yang layak. Bukan sekadar membangun infrastruktur fisik, tetapi memastikan bahwa setiap anak tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki kesempatan yang adil untuk belajar dan berkembang. Jika tidak, maka visi Indonesia Emas hanya akan menjadi sekadar mimpi di atas kertas dengan ambisi besar yang dibangun di atas fondasi yang rapuh.

Persoalan ini bukan semata-mata soal nutrisi atau kenyamanan belajar selama di sekolah. Ini adalah persoalan masa depan bangsa. Tanpa asupan gizi dan pendidikan yang memadai sejak usia dini, anak-anak hari ini untuk tumbuh menjadi generasi yang tidak kompetitif di masa depan. Mereka akan kesulitan menyesuaikan diri dengan tantangan dunia kerja, bahkan bisa terjebak dalam siklus kemiskinan antargenerasi. Sehingga membuat kondisi ini menciptakan lingkaran setan kemiskinan, gizi buruk, dan rendahnya pendidikan yang akan terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya. Anak-anak yang semestinya menjadi harapan bangsa, justru terjebak dalam sistem yang tidak mampu menyediakan gizi cukup dan pendidikan layak. Maka, memperbaiki kualitas gizi dan pendidikan bukan lagi dua agenda yang terpisah, melainkan satu kesatuan strategi pembangunan SDM yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Baca Juga :  Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan

Visi Indonesia Emas 2045 tidak akan terwujud jika kita terus membiarkan anak-anak tumbuh dalam keterbatasan. Jangan sampai kita membangun gedung-gedung tinggi dan jalan tol yang megah, tetapi melupakan bahwa manusia yang akan mengisi masa depan itu sedang tumbuh dengan perut lapar dan tanpa sebuah ilmu. Pada akhirnya, bukan hanya angka ekonomi yang menentukan kejayaan sebuah bangsa, tetapi oleh kualitas anak-anak yang disiapkan untuk mengisi masa depan.

Iklan
Iklan