SAMARKAND, Kalimantanpost.com – Kota bersejarah di Uzbekistan, Samarkand, kembali menjadi sorotan internasional lewat berbagai konferensi ilmiah skala besar yang digelar di Komplek Imam Bukhari International Scientific Research Center (IBISRC).
Kalimantan Post biro Jakarta yang berkesempatan meliput rangkaian konferensi disana melaporkan bahwa sejumlah kegiatan ilmiah bergengsi yang digelar di IBISRC merupakan langkah baru dalam kajian multibudaya dan memperkuat jaringan akademik global menjelang pembukaan komplek Pemakaman Imam Bukhari yang akan segera diresmikan.
Pada 2-3 Oktober 2025 misalnya, sebuah konferensi bertema “Religion and Multilingualism: Disseminating the Qur’an and Islamic Literature in European and Asian Societies”, tengah berlangsung.
Konferensi ini merupakan kolaborasi lintas kawasan antara ERC-Synergy Project EUQU – The European Qur’an dan Università di Napoli L’Orientale yang dihadiri para ilmuwan, sejarawan, dan pakar linguistik mengeksplorasi transformasi Al-Qur’an dari abad ke-15 di Liberia hingga pengaruhnya di wilayah Malaya, dari Kaukasus hingga Asia Tengah.
Tantangan modern dalam mendistribusikan teks suci Al-Qur’an tanpa menimbulkan polarisasi menjadi fokus utama diskusi.
Dalam pidato pembukanya, Profesor Shovosil Ziyodov, Direktur Imam Bukhari Center, menekankan pentingnya dialog lintas budaya melalui pelestarian dan penyebaran teks suci serta sastra Islam. Ia menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya menjadi pegangan spiritual, tetapi juga pemicu dialog antarperadaban.
Menurutnya, ketika Al-Qur’an dilafalkan dalam berbagai bahasa dan dibawa ke konteks sosial-budaya berbeda, ia tidak hanya bertahan, tetapi justru tumbuh dan memperkuat pemahaman bersama.
Ziyodov menegaskan bahwa karya besar Imam Bukhari — yang dikenal sebagai pemimpin ilmu hadis — bukan hanya tentang pengumpulan dan penghafalan, tetapi bagaimana nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kerendahan hati dapat disebarkan melalui beragam medium bahasa dan budaya.
Ia menyatakan, “Kita tidak hanya menyebarkan teks, tapi menyebarkan nilai: empati, keberanian untuk berdialog, dan penghormatan terhadap keragaman.”
Dengan nuansa akademik yang tinggi namun penuh semangat kemanusiaan, acara ini berujung pada deklarasi terbuka: bahwa Samarkand, sekali lagi, menjadi rumah bagi dialog damai antarjemaah dan peradaban.
Di bawah cahaya binaan kuno yang memeluk keajaiban ilmu, dunia kembali mengingat bahwa Al-Qur’an, dalam kenyataannya, adalah buku yang tidak pernah selesai ditulis — karena setiap generasi, setiap bahasa, membawanya menjadi cerita yang baru, tetapi tetap sama maknanya.
Sementara itu pada 28-29 Oktober 2025 IBISRC akan menyambut 125 delegasi Indonesia termasuk para akademisi dari UIN Syarif Hidayatullah dan IIQ Jakarta yang hadir menjadi pembicara dalam konferensi internasional bertajuk Imam Bukhari & Scholarship in The Muslim World 2025.(Rof/KPO-1)















