sejumlah petugas dari dinas dan TNI mendatangi tempat itu.
BANJARBARU, KP – Pasca insiden dugaan makanan tak layak konsumsi yakni berbelatung yang menimpa murid SMPN 10 Banjarbaru, aktivitas di Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) di Jalan Caraka Ujung Landasan Ulin Utara 1, terkunci.
Sotuasi belum kembali normal, menyusul dihentikannya sementara kegiatan operasionalnya setelah menimpa murid.
“Beberapa hari ini sepi, belum ada yang bekerja,” ungkap seorang warga.
Kondisi tersebut sejak Senin (27/10), saat sejumlah petugas dari dinas dan TNI terlihat mendatangi tempat itu.
Menurut Ali, sebelumnya dapur tersebut beroperasi hampir setiap hari dengan sistem kerja bergantian.
Diketahui, SPPG Landasan Ulin Utara 1 menjadi sorotan publik setelah ditemukan dugaan belatung pada isian burger yang dibagikan kepada pelajar SMPN 10 Banjarbaru dan TK Pembina Liang Anggang dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menunda
Sementara pihaj Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarbaru menunda pemeriksaan sampel makanan dan air di SPPG Landasan Ulin Utara 1.
Penundaan dilakukan setelah Dinkes menerima surat pemberitahuan penghentian operasional dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“SPPG Landasan Ulin Utara 1 termasuk salah satu yang sebelumnya telah mengajukan Surat Laik Hygiene Sanitasi (SLHS),” kata Kepala Dinkes Banjarbaru, Juhai Trianti Agustina, Rabu (29/10).
Pemeriksaan lapangan yang semula dijadwalkan pada Senin (27/10) akhirnya dibatalkan.
“Informasi yang kami terima dari Kepala SPPI, ada surat dari Direktur Pemantauan dan Pengawasan BGN tentang penghentian operasional SPPG Landasan Ulin Utara 1. Karena itu, rencana pemeriksaan sampel kami tunda,” jelas Juhai.
Ia menambahkan, pihaknya terus melakukan koordinasi intensif dengan BGN Koordinator Wilayah Banjarbaru untuk mengetahui kejelasan lebih lanjut terkait status operasional SPPG tersebut.
“Dinkes selalu berkoordinasi dengan BGN agar proses pembinaan dan pengawasan terhadap penyelenggara program gizi tetap berjalan sesuai aturan,” ujarnya.
Juhai menegaskan, Dinkes Banjarbaru berkomitmen menjaga keamanan dan kelayakan pangan di seluruh SPPG yang beroperasi di Banjarbaru, terutama dalam pelaksanaan program MBG.
Sedangkan Plt Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Banjarbaru, Maulidah, menyampaikan bahwa Dinkes sebelumnya telah memberikan pelatihan keamanan pangan bagi seluruh SPPG di Banjarbaru pada 4 Oktober 2025.
“Usai pelatihan, peserta SPPG langsung mendaftarkan diri untuk memperoleh SLHS, termasuk SPPG Landasan Ulin Utara 1,” ujarnya.
Dari total 20 SPPG yang telah mengikuti pelatihan dan bimbingan teknis (Bimtek) keamanan pangan, tahap berikutnya adalah inspeksi lingkungan serta pengambilan sampel air dan makanan sebagai bagian dari proses sertifikasi.
Lebih lanjut, Maulidah menjelaskan, terdapat tiga syarat utama untuk mendapatkan SLHS, yakni pelatihan keamanan pangan, inspeksi kesehatan lingkungan, serta pemeriksaan kualitas air dan makanan.
“Begitu koordinasi dengan BGN rampung, kami akan lanjutkan pengambilan sampel di lapangan,” imbuhnya.
Terkait penyebab munculnya belatung dalam makanan siap saji yang sempat dikonsumsi siswa tersebut, Maulidah menyebutkan hal itu telah dijelaskan oleh petugas gizi di lapangan.
“Dari keterangan yang kami terima, masalah terjadi karena waktu memasak dan proses pengolahan yang kurang optimal,” tandasnya. (net/dev/K-2)















