Oleh : Ade Hermawan
Dosen Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari
Setiap tahun, pada tanggal 5 Rajab, seolah ada magnet spiritual yang tak tertandingi menarik jutaan jiwa menuju Martapura, Kalimantan Selatan. Momen Haul Abah Guru Sekumpul, Al-‘Alimul ‘Allamah Al-‘Arif Billah Asy-Syaikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani, telah melampaui sekadar peringatan wafat seorang ulama. Ia menjelma menjadi fenomena spiritual dan sosial terbesar di Asia Tenggara. Lautan manusia yang tumpah ruah, kesediaan menempuh puluhan, ratusan bahkan ribuan kilometer, dan kerelaan berdesakan di bawah terik matahari atau guyuran hujan, semuanya demi satu tujuan yaitu mencari keberkahan.
Keberkahan bukanlah sebatas mendapatkan tabarruk (pengambilan berkah) dari sebutir nasi atau air minum di lokasi acara, melainkan pada keputusan batin untuk Mengakui dosa, bertekad memulai hidup yang lebih bersih. Menjadikan mahabbah kepada Rasulullah dan para pewarisnya sebagai energi pendorong amal. Kehadiran Jemaah Haul Abah Guru Sekumpul adalah bukti cinta, dan cinta yang tulus akan menuntun kita pada amal yang tulus pula. Mengamalkan Akhlak Mulia sebagaimana Pesan Abah Guru yang paling mendasar yaitu Manis muka, murah hati, memaafkan kesalahan orang lain, dan jangan menyakiti orang lain.
Momen Haul Abah Guru Sekumpul juga merupakan laboratorium sosial bagi bangsa ini. Di sana, kita menyaksikan bagaimana jutaan individu dari berbagai suku, latar belakang sosial melebur dalam satu wadah persaudaraan.
Keberkahan Haul Abah Guru Sekumpul terpatri kuat dalam fenomena gotong royong dan kedermawanan yang fenomenal. Ribuan relawan yang mengorbankan waktu, tenaga, bahkan harta, menyediakan penginapan gratis, menyediakan makanan gratis, tempat istirahat gratis, dan layanan kesehatan gratis. Mereka tidak mencari pujian, melainkan hanya mengharap ridha Allah dan berkah Abah Guru Sekumpul. Warga lokal yang dengan sukarela membuka rumah mereka, menyediakan toilet, hingga membagi-bagikan konsumsi (nasi bungkus dan air mineral) secara gratis kepada jamaah yang tak dikenal. Ini adalah perwujudan nyata dari wasiat beliau untuk menjadi murah hati. Haul menjadi arena “berlomba-lomba dalam kebaikan” (fastabiqul khairat). Keberkahan tidak hanya didapat oleh yang datang, tetapi juga oleh mereka yang melayani dan memfasilitasi perjalanan spiritual jutaan orang ini.
Keberkahan bagi Relawan
Peringatan Haul Syekh Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani Al-Banjari, selalu menjadi magnet spiritual yang menarik jutaan jemaah dari berbagai penjuru. Ini adalah lautan manusia yang datang dengan satu tujuan yaitu mencari berkah dan meneladani sosok ulama kharismatik dari Martapura, Kalimantan Selatan.
Di balik hiruk pikuk jutaan jemaah, terdapat sebuah fenomena sosial dan spiritual yang tak kalah menarik, bahkan bisa disebut sebagai jantung dari kesuksesan acara akbar ini adalah dedikasi para relawan. Merekalah pilar tak terlihat yang membuat lautan manusia tersebut tetap tertib, terlayani, dan nyaman.
Kehadiran puluhan ribu relawan mulai dari remaja, mahasiswa, hingga orang tua yang tersebar di sepanjang jalur menuju Sekumpul adalah manifestasi nyata dari nilai-nilai luhur yang diajarkan Abah Guru. Mereka tidak hanya menjalankan tugas, tetapi sedang menunaikan ibadah dalam bentuk pengabdian.
Para relawan bekerja tanpa dibayar, bahkan seringkali dengan biaya sendiri. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, dan bahkan harta benda. Mereka adalah penyedia penginapan gratis, penyedia makanan gratis (nasi bungkus, air minum), pengatur lalu lintas, penyedia tempat istirahat, hingga tim medis darurat. Keikhlasan ini menjadi kunci utama yang membedakan kegiatan ini dari acara haul biasa.
Warga di Kota Martapura dan Banjarbaru secara sukarela menjadikan rumah mereka posko istirahat, tempat parkir, bahkan dapur umum. Para relawan dari berbagai latar belakang bersatu padu, menghilangkan sekat-sekat sosial, dan hanya berfokus pada pelayanan kepada jemaah haul Abah Guru Sekumpul.
Bagi para relawan, melayani jemaah adalah cara terbaik untuk mengambil berkah dari majelis haul. Mereka meyakini sabda Nabi Muhammad SAW, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” Dalam filosofi ulama, berkhidmat (melayani) kepada orang saleh dan para pencinta aulia adalah jalan pintas menuju keridaan dan keberkahan.
Keberkahan yang dirasakan oleh para relawan bukanlah semata materi, melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam. Ada kepuasan batin yang tidak ternilai ketika melihat jemaah yang kelelahan bisa beristirahat di posko yang mereka siapkan, atau ketika hidangan sederhana yang mereka bagikan disantap dengan lahap. Setiap relawan secara tidak langsung menerima jutaan doa dari jemaah yang mereka layani. Doa-doa tulus dari para pencari ilmu dan pecinta ulama ini diyakini memiliki kekuatan dan kemustajaban tersendiri. Jaringan antar-relawan dari berbagai daerah dan organisasi menjadi semakin kuat, menumbuhkan rasa persaudaraan Islam (ukhuwah islamiah) yang kokoh.
Haul Abah Guru Sekumpul adalah cermin indah dari wajah Islam yang ramah, peduli, dan penuh pengorbanan. Fenomena relawan ini mengajarkan kita bahwa kekayaan sejati bukanlah pada apa yang kita miliki, tetapi pada apa yang kita berikan.
Keberkahan bagi Jemaah Haul
Haul Abah Guru Sekumpul di Martapura adalah majelis akbar yang dihadiri jutaan jemaah. Bagi mereka yang hadir, baik dari dekat maupun jauh, tujuan utamanya adalah meraih keberkahan (barakah) dari sang waliyullah (wali Allah) melalui majelis peringatan ini.
Jemaah meyakini bahwa berkumpul dalam majelis yang memuliakan seorang wali Allah adalah magnet bagi turunnya rahmat dan ampunan Allah SWT. Dalam hadis disebutkan, majelis zikir dan majelis orang-orang saleh dihadiri oleh para malaikat yang memintakan ampunan bagi mereka yang hadir. Menghadiri haul adalah wujud cinta (mahabbah) kepada almarhum Abah Guru Sekumpul. Kecintaan pada orang saleh diyakini akan menjadi sebab keselamatan dan mendapatkan madad (bantuan spiritual) dari mereka.
Seluruh rangkaian acara, mulai dari pembacaan Maulid, Tahlil, dan Manaqib (riwayat hidup) Abah Guru sekumpul bertujuan untuk mengingatkan jemaah akan keteladanan Abah GuruSekumpul. Jemaah mendapatkan energi spiritual untuk kembali memperkuat ibadah, menjauhi maksiat, dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang dibawa oleh Abah Guru Sekumpul. Pesan-pesan yang disampaikan dalam haul, seperti pentingnya salawat dan menjaga lisan, menjadi pengingat yang diharapkan mampu menancapkan keistiqomahan dalam diri jemaah.
Jemaah datang dengan membawa berbagai hajat dan permohonan. Mereka percaya bahwa berkumpul di tempat yang mulia, bersama ulama dan jutaan pencinta wali, serta waktu yang penuh keberkahan menjadi sebab dikabulkannya doa.
Jutaan jemaah dari berbagai suku, latar belakang sosial, dan negara berkumpul dalam satu barisan. Perbedaan melebur, menyisakan semangat persaudaraan yang tinggi. Pengalaman berdesakan, berjalan kaki jauh, dan berbagi tempat istirahat menumbuhkan rasa empati dan solidaritas yang kuat antar sesama muslim.
Jemaah haul secara langsung merasakan keberkahan melalui dedikasi luar biasa dari para relawan dan masyarakat setempat. Berkah shadaqah (sedekah) yang melimpah ruah, di mana makanan, minuman, bensin, hingga penginapan disediakan secara gratis oleh masyarakat dan relawan. Jemaah adalah penerima manfaat dari kebaikan tulus ini. Suasana yang umumnya aman dan tertib, berkat kerja sama seluruh elemen masyarakat dan aparat, memberikan kenyamanan dan ketenangan batin bagi jemaah.
Kehadiran di haul Abah Guru Sekumpul menjadi penguat janji jemaah untuk mengikuti jalan para ulama. Diharapkan, setelah pulang dari haul, jemaah membawa pulang aura dan semangat kebaikan, menjadi pribadi yang lebih sabar, tawadhu’ (rendah hati), dan lebih rajin beribadah.
Dengan menghadiri Haul, jemaah turut serta melestarikan tradisi memuliakan dzurriyah (keturunan) Nabi dan para Auliya’ (wali Allah), sebuah amalan yang diyakini membawa pahala besar dan memperkuat identitas spiritual umat.
Keberkahan bagi Masyarakat Umum
Masyarakat umum yang berpartisipasi, terutama yang menyediakan fasilitas dan pelayanan gratis, meyakini bahwa mereka sedang menjalankan salah satu amal paling utama, yaitu melayani tamu Wali Allah. Menyediakan makanan, minuman, tempat istirahat, hingga bensin dan tambal ban gratis diyakini sebagai sedekah jariyah (amal yang pahalanya terus mengalir).
Masyarakat berlomba-lomba untuk mengambil bagian dalam amal kebaikan ini, mencari keberkahan harta melalui pemberian. Masyarakat percaya bahwa setiap jemaah yang dilayani akan mendoakan kebaikan bagi pemberi layanan. Keberkahan ini juga datang dari keyakinan bahwa waliyullah (Abah Guru Sekumpul) akan memberikan madad (bantuan spiritual) atau perhatian khusus kepada mereka yang memuliakan tamu haulnya. Partisipasi aktif dalam bentuk pelayanan adalah wujud nyata mengamalkan ajaran Abah Guru Sekumpul tentang kedermawanan, kerukunan, dan cinta sesama tanpa memandang latar belakang. Mereka merasa hidupnya lebih berkah karena mengikuti teladan sang Guru.
Acara Haul Abah Guru Sekumpul telah menjadi katalisator sosial yang luar biasa, memperkuat ikatan persaudaraan dan solidaritas masyarakat Martapura dan sekitarnya. Haul membangkitkan kembali semangat gotong royong yang mungkin sudah memudar. Seluruh lapisan masyarakat, dari pejabat hingga rakyat biasa, bersatu padu membersihkan jalan, mendirikan posko, dan memasak dalam skala besar. Haul menjadi bukti nyata stabilitas sosial dan persatuan di tengah masyarakat. Adanya tujuan bersama untuk memuliakan Abah Guru Sekumpul dan melayani jemaah melahirkan kohesi sosial yang sangat kuat. Masyarakat merasa bangga menjadi bagian dari suksesnya acara akbar ini. Partisipasi tulus masyarakat yang ramah dan dermawan menciptakan citra positif yang mendunia bagi Kalimantan Selatan. Ini adalah berkah nama baik yang tak ternilai harganya dan menarik perhatian dunia terhadap nilai-nilai luhur masyarakat Banjar.












