BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Komisi III DPRD Kota Banjarmasin turun langsung ke proyek Jembatan Cemara Ujung Sungai Andai (CUSA) untuk melihat kondisi lapangan yang sejak lama jadi keluhan warga. Kunjungan ini bukan sekadar formalitas. Mereka ingin memastikan sejauh mana pekerjaan berjalan dan apa yang sebenarnya membuat jembatan itu tak kunjung bisa difungsikan maksimal, meski anggaran terus digelontorkan.
Di lokasi, rombongan melihat sendiri kerusakan pada konstruksi tahap awal yang sempat menelan biaya besar. Kerusakan itu bukan satu dua titik, tapi mencolok. Beberapa bagian jembatan amblas, struktur pendekat retak, dan bekas runtuhan memperlihatkan jelas bahwa ada masalah sejak perencanaan awal.
Ketua Komisi III Muhammad Ridho Akbar mengatakan kondisi ini jauh dari memuaskan. Ia menegaskan bahwa publik punya hak tahu ke mana larinya anggaran yang sudah mencapai puluhan miliar.
“Tahap pertama saja sudah habis 12 miliar, tapi hasilnya banyak yang rusak dan tidak bisa digunakan, ini bukan angka kecil,” ucap Ridho.
Kerusakan yang terjadi disebut pihak teknis sebagai akibat faktor alam. Namun, Komisi III menilai alasan itu tidak cukup. Dengan anggaran setinggi itu, mereka menilai konstruksi seharusnya mampu menahan dinamika sungai.
“Kalau memang sudah tahu karakter sungai kuat, perencanaan harus matang dari awal, jangan bangun bertahap tapi kualitasnya kalah oleh arus,” tambahnya.
Kepala Bidang Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Banjarmasin, Kartika Estaurina, menjelaskan serangkaian evaluasi sudah dilakukan. Ia menyebut tim ahli dari Unlam sudah dilibatkan untuk mengidentifikasi penyebab pasti kerusakan di tahap pertama.
“Kami sudah minta tim ahli untuk analisis lengkap, dugaan awal kerusakan dipicu sudden impact dari arus sungai yang menghantam struktur,” kata Kartika.
Masalah tidak berhenti di kerusakan. Dari sisi pembiayaan, jembatan ini sudah memakan total anggaran hingga Rp 36 miliar lebih dari tiga tahap pembangunan, dan masih membutuhkan tambahan 14 miliar lagi untuk tahap akhir pada 2026. Padahal, progres tahap ketiga yang nilainya Rp2,3 miliar baru mencapai sekitar 73 persen dan masih minus deviasi hampir tiga persen.
Komisi III menilai pembengkakan biaya ini tidak bisa dibiarkan tanpa evaluasi menyeluruh. Mereka menyoroti kenapa anggaran sebesar itu tidak langsung diarahkan pada konstruksi yang lebih kuat, yang memungkinkan jembatan bisa dilintasi kendaraan roda empat.
Komisi III mengingatkan warga Sungai Andai sudah terlalu lama menunggu. Macet berkepanjangan masih terjadi karena jembatan belum benar-benar dapat difungsikan dengan aman dan layak. Mereka menegaskan pembangunan tidak boleh asal jalan tanpa memperhitungkan risiko kerusakan yang membuat anggaran terbuang sia-sia.
Kartika menambahkan beberapa penyesuaian konstruksi akan dilakukan mengingat lokasi berada di tanah rawa. Menurutnya, karakter tanah rawa memang menuntut perlakuan teknis khusus agar struktur tetap stabil.
Kunjungan Komisi III ini menjadi lampu kuning bagi seluruh pihak yang terlibat. DPRD memastikan akan membuka RDP lanjutan untuk mengusut lebih detail penyebab kerusakan awal dan memantau penggunaan anggaran di tahap berikutnya.
Ke depan, proyek jembatan CUSA harus dirampungkan dengan perhitungan matang, pengawasan ketat, dan akuntabilitas penuh. Publik tidak butuh janji baru, mereka butuh jembatan yang akhirnya benar-benar bisa dipakai. (nug/KPO-3)














