BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Pemerintah Kota Banjarmasin menaruh perhatian serius terhadap optimalisasi Balai Latihan Kerja (BLK), menyusul inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Wali Kota Banjarmasin ke fasilitas tersebut.
Dalam sidak itu, Wali Kota menemukan sejumlah alat pelatihan hibah dari pemerintah pusat yang belum dimanfaatkan secara maksimal, bahkan sebagian masih tersimpan sejak lama.
Temuan tersebut memunculkan sorotan publik terkait efektivitas pemanfaatan aset negara, khususnya alat pelatihan yang seharusnya menunjang peningkatan keterampilan dan daya saing tenaga kerja lokal.
Wali Kota menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia dan perencanaan program agar fasilitas yang tersedia benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Tenaga Kerja (Diskopumker) Kota Banjarmasin, Isa Anshari, menjelaskan bahwa alat-alat tersebut memang sudah lama tersedia karena merupakan hibah dari pemerintah pusat, namun pada awal penerimaan belum diiringi dengan ketersediaan instruktur.
“Memang alat itu sudah lama ada, tapi karena hibah dari pusat, pada saat itu belum langsung ada instrukturnya,” ujar Isa.
Ia menjelaskan, terdapat 31 unit alat dalam satu paket program pelatihan pengolahan hasil pertanian dan perikanan, termasuk untuk pelatihan pembuatan abon.
Meski sempat belum optimal dimanfaatkan, Isa memastikan kondisi alat masih layak fungsi, bahkan sebagian sudah digunakan dalam kegiatan pelatihan.
“InsyaAllah alat-alat ini akan kami fungsikan dalam program paket pelatihan ke depannya. Alatnya masih bisa difungsikan, dan sebagian juga sudah digunakan,” jelasnya.
Diskopumker Banjarmasin sendiri secara rutin menyelenggarakan program pelatihan keterampilan bagi masyarakat.
Dalam satu tahun, rata-rata dilaksanakan delapan angkatan pelatihan, dengan satu angkatan atau satu kelas berisi 16 peserta, sehingga total peserta pelatihan yang sudh lulus sampai saat ini dapat mencapai sekitar 700 orang.
Adapun jenis pelatihan yang paling diminati masyarakat meliputi menjahit, pengelasan (las), serta pengolahan roti dan kue.
Pelatihan-pelatihan tersebut dinilai memiliki peluang besar untuk langsung diterapkan sebagai usaha mandiri maupun sebagai bekal memasuki dunia kerja.
Sebagai tindak lanjut dari sidak Wali Kota, Pemerintah Kota Banjarmasin mendorong agar perencanaan pelatihan ke depan tidak hanya berfokus pada ketersediaan alat, tetapi juga kesiapan instruktur, kurikulum, serta keberlanjutan program pascapelatihan.
BLK diharapkan dapat berfungsi sebagai pusat peningkatan kompetensi yang konsisten dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Isa Anshari menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap evaluasi dan pengawasan, baik dari pimpinan daerah maupun masyarakat.
Ia berharap optimalisasi pemanfaatan alat hibah serta penguatan program pelatihan ini dapat menjawab kritik yang muncul, sekaligus membuktikan bahwa BLK mampu berkontribusi nyata dalam menekan angka pengangguran dan mendorong kemandirian ekonomi warga Banjarmasin. (sfr/KPO-4).















