Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Hiburan

Antusiasme Warga Banjar Banua di Semarang Menggema Dengan Penayangan Film “Kuyank”

×

Antusiasme Warga Banjar Banua di Semarang Menggema Dengan Penayangan Film “Kuyank”

Sebarkan artikel ini
IMG 20260131 WA0010

Semarang, kalimantanpost.com – Antusiasme warga Banjar Banua yang tinggal di Semarang memuncak saat mereka menghadiri penayangan film “Kuyank”, sebuah karya terbaru dari sutradara Johansyah Jumberan.

Film ini bukan hanya sekadar tontonan, tetapi juga menciptakan ikatan emosional yang kuat dengan kampung halaman mereka di Kalimantan Selatan.Teater bioskop ternama di Semarang dipadati oleh warga Banjar Banua yang kompak datang untuk menyaksikan film legenda mistis tanah Banua tersebut.

Kalimantan Post

Bahasa Banjar yang digunakan dalam film ini membuat mereka merasa seolah-olah kembali ke kampung halaman dan menghidupkan kembali kenangan masa kecil saat mendengarkan cerita dari orang tua mereka.Ibu Marlina, seorang warga kelahiran Hulu Sungai Selatan (HSS) yang telah puluhan tahun tinggal di Semarang, mengungkapkan kebahagiaannya.

“Saya sangat senang bisa menonton film Kuyank. Ini seperti membawa saya pulang, mengingat cerita-cerita yang dulu diceritakan orang tua saya di kampung,” ujarnya penuh semangat.Sementara itu, Bapak Edy Supriyanta, tokoh masyarakat Banjar Banua, juga turut merasakan momen kebersamaan yang luar biasa.

“Alhamdulillah, Rakat badingsanak berkumpul menonton bersama. Film Kuyank benar-benar menjadi pengikat kita semua,” ucapnya setelah menonton film tersebut.

Dalam menjaga ikatan kebersamaan, warga Banjar Banua secara rutin mengadakan acara kumpul-kumpul yang diberi nama “Bamasakan”. Setiap bulan, acara ini dilaksanakan dengan menggandeng kegiatan “Majelis Agama” sebagai bagian dari rangkaian.

Kegiatan ini menjadi sarana untuk merekatkan hubungan kekeluargaan di antara warga perantauan. Setiap peserta secara sukarela membawa makanan dari rumah, dan hidangan tersebut disiapkan dengan cara bergotong royong memasaknya.

“Acara Bamasakan merupakan momen yang sangat dinanti. Selain bisa menikmati makanan khas Banjar, kami juga bisa berbagi cerita dan mempererat silaturahmi,” kata Bapak H. Syahran, seorang tokoh kelahiran rantau pinang babaris yang dihormati di komunitas Banjar di Semarang.

Baca Juga :  Sheila On 7 "Membius" Puluhan Ribu Penggemar di Banjarbaru

Daya tarik film “Kuyank” tidak hanya terletak pada cerita mistis yang diangkat, tetapi juga pada cara sutradara Johansyah Jumberan mengemasnya dengan nuansa kultural yang kental. Bagi warga Banjar, film ini merupakan sarana untuk memperkuat identitas mereka dan menghargai warisan budaya daerah asal.

Dengan keberhasilan penayangan “Kuyank”, diharapkan lebih banyak film dari kreativitas lokal dapat menembus pasar dan memperkenalkan budaya Banjar lebih luas lagi. Sebagai suatu komunitas, warga Banjar Banua di Semarang menunjukkan bahwa meskipun mereka jauh dari kampung halaman, semangat dan rasa memiliki tetap terjaga.

Penayangan film ini pun menjadi bukti nyata bahwa sinema bisa menjadi jembatan untuk menyatukan ikatan keluarga dan kebudayaan, serta menumbuhkan rasa cinta dan bangga akan asal usul mereka.

Iklan
Iklan