Oleh : Nor Hasanah, S.Ag, M.I.Kom.
Pustakawati UIN Antasari Banjarmasin
Di tengah hiruk-pikuk era digital, ketika informasi mengalir tanpa henti dan perhatian publik menjadi komoditas, ada satu peran penting yang kerap luput dari sorotan yaitu penjaga sunyi informasi bangsa. Mereka tidak selalu tampil di layar, jarang menjadi tajuk utama, tetapi kehadirannya menentukan kualitas pengetahuan publik dan ketahanan nalar masyarakat. Tanpa mereka, informasi mudah tergelincir menjadi kebisingan; dengan mereka, informasi berpeluang menjadi pencerahan.
Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dengan tema “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat” mengingatkan kita bahwa kesehatan pers dan kekuatan bangsa tidak lahir dalam ruang kosong. Ia bertumpu pada ekosistem informasi yang bekerja secara senyap namun konsisten, mulai dari kerja jurnalistik yang beretika hingga praktik literasi informasi yang menopang pemahaman publik. Di sinilah para penjaga sunyi itu berperan.
Era digital telah mengubah wajah informasi. Kecepatan menjadi nilai utama, sementara kedalaman kerap terpinggirkan. Media sosial dan platform digital mendorong penyebaran konten yang memicu emosi, bukan refleksi. Algoritma memperkuat apa yang populer, bukan selalu yang benar. Akibatnya, hoaks, disinformasi, dan manipulasi data menemukan ruang subur. Dalam kondisi seperti ini, pers menghadapi ujian besar: menjaga kebenaran tanpa kehilangan relevansi.
Pers yang sehat sejatinya bekerja tidak hanya dengan kecepatan, tetapi dengan ketelitian. Ia memverifikasi fakta, memberi konteks, dan menyajikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun, kerja pers yang baik membutuhkan penopang. Informasi yang akurat tidak akan berdampak luas jika publik tidak memiliki kemampuan untuk memahami dan menilainya. Di sinilah literasi informasi menjadi kunci dan para penjaga sunyi informasi bangsa mengambil peran.
Perpustakaan, pustakawan, pendidik literasi, dan pengelola pengetahuan bekerja jauh dari sorotan, tetapi kontribusinya mendasar. Mereka membantu masyarakat menavigasi kompleksitas informasi, mengenali sumber tepercaya, membaca data dengan kritis, serta memahami konteks sosial dan historis sebuah informasi. Di era big data dan kecerdasan buatan, peran ini semakin relevan. Tanpa literasi, data hanya menjadi deretan angka yang mudah dipelintir.
Penjaga sunyi informasi bangsa juga hadir di ruang redaksi. Editor yang teliti, peneliti data, dan jurnalis yang sabar menelusuri dokumen sering kali tidak dikenal publik. Namun, merekalah yang memastikan sebuah berita tidak sekadar cepat, tetapi benar. Dalam tekanan ekonomi media yang mengedepankan klik dan trafik, keteguhan mereka menjadi benteng terakhir kualitas jurnalistik. Ketika standar ini runtuh, yang rapuh bukan hanya media, tetapi kepercayaan publik.
Tema HPN 2026 menautkan kesehatan pers dengan kedaulatan ekonomi. Keterkaitan ini sangat nyata. Keputusan ekonomi mulai dari tingkat rumah tangga hingga negara kini sangat bergantung pada informasi. Informasi yang keliru dapat memicu kepanikan, merugikan konsumen, dan menyesatkan kebijakan. Pers yang sehat, ditopang oleh literasi informasi yang kuat, mampu menyajikan data ekonomi secara berimbang dan kontekstual. Inilah kontribusi nyata para penjaga sunyi dalam menopang ekonomi berdaulat.
Namun, tantangan mereka tidak ringan. Di tengah arus komersialisasi informasi, kerja-kerja sunyi sering dianggap tidak produktif secara ekonomi. Investasi pada literasi, riset data, dan verifikasi membutuhkan waktu dan sumber daya. Sementara itu, hasilnya tidak selalu langsung terlihat. Padahal, tanpa investasi ini, biaya sosial yang harus ditanggung jauh lebih besar: polarisasi, ketidakpercayaan, dan melemahnya kohesi sosial.
Bangsa yang kuat membutuhkan warga yang mampu berpikir kritis dan mengambil keputusan rasional. Kemampuan ini tidak muncul secara instan. Ia dibentuk melalui proses panjang, melalui interaksi dengan informasi yang sehat dan lingkungan literasi yang mendukung. Para penjaga sunyi informasi bangsa memastikan proses ini tetap berjalan, meski sering tanpa apresiasi yang memadai.
Ke depan, tantangan informasi akan semakin kompleks. Deepfake, konten sintetis, dan manipulasi data berbasis kecerdasan buatan menuntut kemampuan baru dalam verifikasi dan literasi. Pers tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan perpustakaan, lembaga pendidikan, peneliti, dan komunitas literasi menjadi kebutuhan mendesak. Ekosistem inilah yang akan menentukan apakah informasi menjadi alat pembebasan atau justru alat manipulasi.
Hari Pers Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan hanya bagi insan pers, tetapi bagi seluruh ekosistem informasi. Apakah kita telah memberi ruang dan dukungan yang cukup bagi para penjaga sunyi ini? Apakah kebijakan publik, model bisnis media, dan budaya konsumsi informasi masyarakat telah berpihak pada kualitas, bukan sekadar kuantitas?
Semua kita tentunya sangat yakin bahwa penjaga sunyi informasi bangsa adalah fondasi yang sering tak terlihat, tetapi menentukan arah masa depan. Mereka menjaga agar informasi tetap bernilai, pengetahuan tetap bermakna, dan nalar publik tetap jernih. Dalam dunia yang semakin bising, kerja-kerja sunyi inilah yang justru paling menentukan. Menjaga mereka berarti menjaga pers tetap sehat, ekonomi tetap berdaulat, dan bangsa tetap kuat.













