Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Opini

REZEKI

×

REZEKI

Sebarkan artikel ini

Oleh : ADE HERMAWAN

Rezeki berarti segala pemberian dari Allah SWT kepada makhluk-Nya, baik bersifat material (terlihat) maupun spiritual (tak terlihat), yang dapat digunakan untuk kelangsungan hidup dan ketaatan kepada-Nya.

Kalimantan Post

Rezeki terbagi dua yaitu material dan spiritual. Rezeki lahiriah (materi) berupa makanan, pakaian, tempat tinggal, kendaraan, uang, dan kesehatan fisik. Ini adalah sarana pendukung kehidupan di dunia. Sedangkan rezeki batiniah (spiritual) berupa keimanan, akhlak mulia, ketenangan hati (tuma’ninah), serta kesempatan untuk melakukan amal saleh.

Pandangan Islam mengenai rezeki adalah bahwa Allah telah menetapkan porsi rezeki setiap makhluk sebelum mereka dilahirkan, rezeki seseorang tidak akan diambil oleh orang lain dan tidak akan meleset dari pemiliknya, Rezeki bukan sekadar hadiah tapi juga ujian. Apakah harta tersebut membuat pemiliknya taat atau justru lalai. Di akhirat kelak, setiap rezeki materi akan ditanyakan dari mana didapatkan dan untuk apa digunakan.

Rezeki bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak yang kita manfaatkan di jalan yang benar. Harta yang menumpuk di bank namun tidak dimakan atau disedekahkan pada hakikatnya belum menjadi rezeki kita yang sebenarnya.

Manusia diciptakan untuk beribadah, namun ibadah membutuhkan energi dan sarana. Rezeki berupa makanan memberikan kekuatan fisik untuk salat dan puasa. Rezeki berupa harta memungkinkan seseorang menjalankan rukun Islam lainnya seperti zakat, sedekah, dan haji.

Logikanya, Bagaimana seseorang bisa khusyuk beribadah jika perutnya lapar atau pikirannya terbebani utang yang menumpuk? Maka, rezeki yang cukup adalah fondasi bagi stabilitas spiritual.

Islam sangat menjunjung tinggi kehormatan. Rezeki yang cukup menghindarkan manusia dari perilaku meminta-minta yang dapat merendahkan martabat di hadapan sesama manusia. Dengan memiliki rezeki sendiri, seseorang memiliki kemandirian ekonomi yang membuatnya hanya bergantung (bertawakal) kepada Allah, bukan kepada belas kasihan makhluk.

Baca Juga :  ZUHUD MENURUT ULAMA SUFI

Pentingnya rezeki terletak pada fungsi sosialnya. Rasulullah SAW bersabda bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Rezeki Materi digunakan untuk membantu kaum dhuafa, membangun fasilitas umum, dan menggerakkan roda ekonomi umat. Rezeki ilmu atau keterampilan digunakan untuk mendidik dan memecahkan masalah di masyarakat. Tanpa rezeki (baik harta maupun kemampuan), tangan manusia akan terbatas dalam melakukan aksi perubahan sosial.

Pentingnya rezeki juga terletak pada fungsinya sebagai alat uji. Rezeki menunjukkan siapa kita sebenarnya. Saat rezeki sempit, apakah kita tetap sabar dan tidak menghalalkan segala cara? Saat rezeki lapang, apakah kita menjadi dermawan atau justru sombong? Melalui pengelolaan rezeki, kualitas iman seseorang dibentuk dan dibuktikan.

Ketenangan batin tidak datang dari jumlah rezeki, melainkan dari keyakinan akan sumbernya. Seseorang yang memahami bahwa rezekinya sudah diatur oleh Allah tidak akan terjebak dalam kompetisi yang tidak sehat atau rasa iri dengki. Ia paham bahwa apa yang menjadi jatahnya tidak akan meleset. Keyakinan ini menghilangkan beban mental yang sering memicu stres.

Rezeki yang diperoleh dengan cara yang halal dan diridhai Allah membawa energi positif. Secara spiritual, harta yang bersih membuat hati merasa cukup. Perasaan cukup inilah yang merupakan kekayaan sejati yang membebaskan batin dari rasa haus yang tak pernah usai. Menyadari rezeki sebagai titipan membuat seseorang lebih mudah bersyukur.

Kita diperintahkan mencari rezeki yang bukan hanya halal (secara hukum), tapi juga thayyib (baik/berkualitas). Rezeki yang baik memungkinkan seseorang mengakses makanan yang bergizi. Tubuh adalah amanah, dan memberikan asupan yang baik (halal dan bergizi) adalah bentuk syukur yang langsung berdampak pada kebugaran fisik dan sistem imun. Banyak penyakit fisik (seperti hipertensi, asam lambung, atau gangguan tidur) berakar dari pikiran yang kalut karena mengejar materi secara berlebihan atau rasa takut kehilangan harta. Ketika batin tenang karena percaya pada jaminan rezeki Allah, tubuh pun menjadi lebih rileks dan berfungsi optimal. Rezeki berupa kesehatan fisik memungkinkan manusia untuk bergerak, bekerja, dan beribadah. Sebaliknya, kerja keras yang dibarengi dengan rasa syukur akan menjaga metabolisme tubuh tetap aktif, berbeda dengan kerja keras yang didorong oleh ambisi serakah yang justru merusak kesehatan.

Baca Juga :  Polemik Penonaktifan Jaminan Kesehatan Warga Banjarmasin

Mencari rezeki bagi seorang kepala keluarga bukan sekadar rutinitas ekonomi, melainkan bentuk ibadah yang paling utama. Nafkah adalah Sedekah Tertinggi. Rasulullah SAW menegaskan bahwa satu dinar yang diinfakkan untuk keluarga jauh lebih besar pahalanya dibandingkan dinar yang dikeluarkan untuk jihad atau sedekah sunnah lainnya. Rezeki yang halal digunakan untuk memenuhi hak-hak dasar (pangan, sandang, papan) anggota keluarga. Ini memastikan keluarga hidup dalam keadaan terhormat dan tidak terlantar.

Iklan
Iklan