KAZAKHSTAN, Kalimantanpost.com – Indonesia dan lima negara anggota Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) resmi membuka bab baru kemitraan strategis melalui penandatanganan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) yang diproyeksikan mendorong lonjakan perdagangan hingga USD 10 miliar dalam 3-5 tahun ke depan.
Perjanjian yang ditandatangani di Saint Petersburg, Rusia pada 21 Desember 2025 lalu ini menjadi “jembatan emas” yang menghubungkan dua kekuatan ekonomi raksasa: Indonesia dengan GDP USD 1,4 triliun dan EAEU dengan ekonomi sekitar USD 2 triliun.
Hal ini merupakan salah satu pencapaian strategis yang dilakukan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Kazakhstan dan Tajikistan, Dr. M. Fadjroel Rachman.
Untuk itu Kalimantan Post berkunjung ke kediaman resminya di Astana (13/2) untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.
“Perjanjian ini bukan sekadar dokumen diplomatik, tetapi fondasi kokoh untuk kemakmuran bersama 460 juta populasi Indonesia dan Eurasia,” tegas Dubes Fadjroel seraya menambahkan bahwa saat ini pihaknya tengah melaksanakan finalisasi implementasi dan peta jalan (road map) yang terukur untuk mencapai target-target perdagangan jangka menengah atas perjanjian yang telah ditandatangani para wakil perdana menteri kelima negara dan Indonesia yang diwakili Menteri Perdagangan Budi Santoso serta disaksikan juga oleh lima kepala negara Kazakhstan, Rusia, Armenia, Belarus dan Kyrgystan, seperti Presiden Kazakhstan Kassym Jomart Tokayev dan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin di Saint Petersburg, Rusia.
Diketahui Uni Ekonomi Eurasia atau Eurasian Economic Union atau EAEU adalah blok ekonomi regional yang terdiri dari lima negara Kazakhstan, Rusia, Armenia, Belarus, dan Kyrgyzstan. Didirikan pada 2014, EAEU bertujuan memfasilitasi pergerakan barang, jasa, modal, dan tenaga kerja antaranggota secara bebas. Dengan total populasi 180 juta jiwa dan pangsa pasar yang luas, EAEU menjadi mitra dagang potensial bagi Indonesia dalam mengembangkan ekspor non-tradisional.
Dengan demikian Juru Bicara Presiden Republik Indonesia (2019 – 2021) ini meyakini bahwa perjanjian FTA Indonesia-Eurasia merupakan jembatan emas yang menghubungkan dua populasi besar di Indonesia 280 juta orang dan di Eurasia 180 juta orang.
“Bayangkan dua kekuatan ekonomi, Indonesia USD1,4 trillion dan Uni Ekonomi Eurasia sekitar USD2 trillion. Hal ini jelas membuka peluang menggandakan nilai perdagangan Indonesia – EAEU pada tahun 2025 senilai USD5,2 miliar menjadi lebih dari USD10 miliar lebih dalam 3 – 5 tahun mendatang” tambah Fadjroel yang saat wawancara dengan Kalimantan Post berlangsung sambil menikmati Soto Banjar makanan favoritnya.
Perjanjian perdagangan bebas ini terdiri atas 15 bab termasuk akses pasar, fasilitasi perdagangan, kerjasama ekonomi, juga memformalkan “preferential tariffs” hingga 90,5 persen untuk produk Indonesia, yang mewakili 95,1 persen total import Uni Ekonomi Eurasia dari Indonesia.
Untuk Indonesia dan Kazakhstan nilai perdagangan dapat mencapai target baru yaitu USD 2 miliar; ketika perdagangan terbuka investasi dan pariwisata juga akan meningkat signifikan antara Indonesia dan kelima negara anggota Uni Ekonomi Eurasia; perjanjian perdagangan bebas ini juga segera membuka potensi raksasa peluang ekonomi dan bisnis di Eurasia dan Indonesia, dalam suatu strategic partnership yang terukur dan terencana baik dalam jangka menengah dan panjang
“Produk Indonesia akan memperoleh akses pasar kompetitif dan lebih luas dan diharapkan ekspor produk Indonesia seperti minyak sawit dan turunannya, kakao, kopi, barang konsumsi, alas kaki, tekstil dan produk tekstik, produk perikanan, karet alam, furniture, dan elektronik akan meningkat termasuk ekspor ke pasar Indonesia untuk produk Kazakhstan dan Uni Ekonomi Eurasia seperti pupuk, besi dan petroleum (minyak mentah).
Dubes Fadjroel yang warga Asli Banjar, mendukung pernyataan Ketua Komisi Ekonomi Eurasia Bakytzhan Sagintayev bahwa, “Implementasi perjanjian perdagangan bebas ini akan menggandakan perdagangan Indonesia dengan negara-negara anggota Uni Ekonomi Eurasia” tegasnya.
Selain itu, “Mengingat Kazakhstan sekarang tertinggi dalam GDP/kapita sekitar USD15.000 dengan populasi 20 juta orang, merupakan penentu strategis untuk menyukseskan perjanjian perdagangan bebas ini,” jelasnya.
Terkait Kazakhstan, ekspor dan impor barang pertanian dan industri Kazakhstan akan berkontribusi besar pada peningkatan nilai perdagangan Kazakhstan dan Indonesia.Nilai perdagangan tertinggi Kazakhstan-Indonesia sebesar USD691,3 juta pada tahun 2022.
Dubes Fadjroel meyakini Kazakhstan – Indonesia dapat menggandakan nilai perdagangan dari tahun 2022, menuju target baru USD2 miliar.
Hal ini dibuktikan dengan upaya KBRI Astana untuk menambah kemajuan baru dan segera dalam bidang transportasi logistik, direct flight (penerbangan langsung) , bebas visa, perlindungan investasi, MoU Energi dan Mineral baik G to G maupun B to B yang melibatkan bisnis besar seperti Kazmunaygaz, Eurasian Resources Group, Pertamina dan Mind.ID, PT Inalum, PT Borneo Alumina Indonesia, serta penyelesaian berbagai MoU, seperti perlindungan investasi dan sister city Astana dan Nusantara, juga peluang kerjasama ekonomi dan bisnis dengan 17 provinsi di seluruh Kazakhstan yang dikunjungi Dubes Fadjroel, serta perjanjian bilateral lainnya, termasuk kunjungan timbal-balik Presiden Kassym Jomart Tokayev ke Jakarta, dan Presiden Prabowo Subianto ke Astana,” papar Dubes Fadjroel.(nau/KPO-1)















