Kalimantan Post - Aspirasi Nusantara
Baca Koran
Space Iklan
Space Iklan
Iklan Utama
Banjarmasin

Semarak Ramadan di Masjid Muhammadiyah Sungai Miai, Sahur 30 Hari dan Pintu Terbuka untuk Iktikaf

×

Semarak Ramadan di Masjid Muhammadiyah Sungai Miai, Sahur 30 Hari dan Pintu Terbuka untuk Iktikaf

Sebarkan artikel ini
IMG 20260222 WA0048

BANJARMASIN, Kalimantanpost.com – Ramadan di Masjid Muhammadiyah Sungai Miai tak sekadar menjadi momentum ibadah rutin.

Di masjid yang terletak di kawasan Sungai Miai ini, bulan suci dihidupkan dengan kebersamaan, kepedulian, dan semangat memakmurkan rumah Allah melalui buka puasa bersama, sahur berjemaah selama 30 hari penuh, hingga tadarus dan iktikaf setiap malam.

Kalimantan Post

Ketua DKM Masjid Muhammadiyah Sungai Miai, Ir. HN Muslih Abdurahman, mengatakan, kegiatan ini telah menjadi agenda tahunan yang terus diperkuat dari waktu ke waktu.

Tujuannya bukan hanya berbagi hidangan, tetapi juga merawat ukhuwah dan mempererat silaturahmi antarjemaah.

“Alhamdulillah, sudah dua tahun terakhir kami menyiapkan sahur bersama sejak awal Ramadan hingga hari ke-30. Pada Ramadan 1447 Hijriah ini, sambutan jemaah semakin besar. Setiap sahur kami menyiapkan sekitar 75 porsi,” ujarnya.

Menurut Muslih, angka tersebut bukan sekadar jumlah makanan yang dibagikan, melainkan cerminan antusiasme dan semangat kebersamaan warga sekitar. Banyak jemaah yang datang dari berbagai kalangan—remaja, orang tua, hingga pekerja malam—memilih bersantap sahur di masjid sebelum menunaikan salat Subuh berjemaah.

Dari Berbagi Hidangan, Tumbuh Ikatan Kebersamaan

Setiap sore Ramadan, suasana masjid mulai ramai. Warga berdatangan membawa makanan untuk berbuka puasa bersama (bukber). Hidangan sederhana tersaji, namun kebersamaan yang terbangun menghadirkan kehangatan yang sulit tergantikan.

Kegiatan buka puasa bersama menjadi ruang perjumpaan yang egaliter. Tak ada sekat sosial. Semua duduk sejajar, menikmati takjil dan hidangan berbuka, lalu bersama-sama menunaikan salat Magrib berjemaah.

“Tujuan utama kami adalah berbagi dan menjalin silaturahmi warga jemaah masjid. Dari kebersamaan inilah semangat beribadah tumbuh,” tambah Muslih.

Semangat berbagi itu juga membuka kesempatan bagi para dermawan untuk ikut berpartisipasi, baik dalam bentuk donasi makanan maupun dukungan dana operasional. Gotong royong menjadi fondasi utama terlaksananya seluruh rangkaian kegiatan Ramadan di masjid ini.

Baca Juga :  Pemkot Banjarmasin Lepas 15 Delegasi Kerja ke Jepang, Angkatan Keempat Siap Jadi Duta Budaya Banjar

{{Tadarus dan Iktikaf, Menghidupkan Malam Penuh Maghfirah}}

Tak hanya siang dan sore, Masjid Muhammadiyah Sungai Miai juga hidup di malam hari. Selepas salat Tarawih, lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari kegiatan tadarus yang digelar rutin sepanjang Ramadan.

Pintu masjid pun dibuka setiap malam untuk jemaah yang ingin beriktikaf, terutama pada sepuluh malam terakhir yang diyakini sebagai malam-malam penuh ampunan dan keberkahan.

“Kami membuka pintu masjid setiap malam untuk jemaah yang ingin iktikaf. Ramadan adalah bulan penuh maghfirah. Kami ingin masjid ini benar-benar menjadi tempat yang nyaman untuk mendekatkan diri kepada Allah,” jelasnya.

Suasana hening, cahaya lampu yang temaram, dan suara bacaan Al-Qur’an menghadirkan ketenangan tersendiri. Di sudut-sudut masjid, jemaah tampak khusyuk bermunajat, membaca Al-Qur’an, atau sekadar berzikir dalam diam.

{{Mengajak Masyarakat Memakmurkan Masjid}}

Lebih dari sekadar program tahunan, rangkaian kegiatan ini menjadi ikhtiar memakmurkan masjid dan menghidupkan nilai-nilai kebersamaan di tengah masyarakat perkotaan.

Di tengah kesibukan dan dinamika kehidupan, Masjid Muhammadiyah Sungai Miai menghadirkan ruang untuk berhenti sejenak, memperkuat iman, serta membangun kepedulian sosial. Ramadan menjadi momentum tepat untuk kembali merapatkan saf, tidak hanya dalam salat, tetapi juga dalam persaudaraan.

DKM masjid berharap semakin banyak warga yang tergerak untuk meramaikan masjid, mengikuti sahur dan buka puasa bersama, tadarus, maupun iktikaf.

Sebab pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, melainkan tentang menumbuhkan kepekaan hati—dan masjid adalah tempat terbaik untuk memulainya.(nau/KPO-1)

Iklan
Iklan