Oleh : AHMAD BARJIE B
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa bagi kita semua, khususnya bagi umat Islam. Karena itu mari sambut kehadirannya dan jalani ibadah puasa dengan senang hati. Bukan seperti senangnya anak-anak karena di bulan ini tersedia banyak makanan enak, atau di malam hari lebih ramai, tetapi kita senang karena di bulan ini dapat menghapus dosa-dosa yang lalu. Sebab siapa saja yang berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharapkan redha Allah SWT, maka Allah akan hapus dosa yang lalu.
Sebaiknya jangan tampakkan rasa malas dan enggan atau berat hati untuk berpuasa. Atau baru beberapa hari berpuasa sudah ingin berhari raya. Seperti ungkapan, baru sehari berpuasa ada yang bilang, 29 hari lagi hari raya. Ini menunjukkan bahwa seolah-olah tidak ikhlas berpuasa, seolah-olah sangat ingin berhari raya, padahal hari raya masih jauh. Sebagai orang beriman mestinya bulan puasa disambut gembira dan hari raya pun disambut gembira. Tetap tiada kegembiraan di hari raya yang lebih tinggi selain didahului dengan berpuasa sebaik-baiknya.
Bulan puasa ini memberi peluang yang seluas-luasnya untuk melakukan penyucian lahir dan batin, bulan pencerahan hidup beragama, bulan untuk meningkatkan ibadah kepada Allah swt dan kepedulian sosial antarsesama manusia.
Kewajiban berpuasa dikenakan kepada: Pertama, orang yang wajib berpuasa adalah orang Islam atau muslim. Lebih spesifik muslim di sini tentu yang beriman, sebab kalau tanpa iman yang kuat tentu orang sulit berpuasa. Sebagaimana firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al Baqarah : 183). Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang lima. Dalam sebuah hadis, Dari Ibni Umar berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Dibangun Islam itu atas lima perkara: Bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwasanya Muhammad adalah Rasulullah, menegakkan shalat, mengeluarkan zakat, berhaji dan berpuasa di bulan Ramadhan”. (HR al-Bukhari). Karena itu, umat Islam wajib berpuasa. Apalagi umat-umat terdahulu juga sudah berpuasa, hanya cara dan bentuknya yang berbeda. Umat Nabi Musa dan Isa juga berpuasa. Jadi, hendaknya puasa kita lebih baik dan berkualitas.
Kedua, orang yang wajib berpuasa adalah orang yang baligh, sampai umurnya, misalnya ditandai keluarnya sperma bagi anak laki-laki dan haid bagi anak perempuan. Jadi pada dasarnya anak-anak kecil belum diwajibkan berpuasa. Meskipun demikian, anak-anak penting untuk dilatih berpuasa, sebab puasa bukan seperti zakat dan haji, begitu mampu orang bisa berzakat atau berangkat haji. Puasa sama dengan shalat, memerlukan latihan, pembiasaan dan pendidikan dari kecil. Mengapa selama ini banyak ornag muslim yang dewasa bahkan tua-tua masih tidak berpuasa, semua itu karena tidak dilatih sejak kecil, sehingga setelah dewasa, puasa menjadi sangat berat. Oleh karena itu para orangtua hendaknya melatih dan membiasakan anak-anaknya berpuasa, tetapi cara mendidik dan melatih itu harus bijaksana, tidak terlalu keras dan tidak pula terlalu lunak. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasa
r, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. (QS. At Tahrim : 6).
Imam Ibnu Katsier dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat ini adalah memerintahkan kepada para orangtua agar mendidik anaggota keluarganya, anak istrnya agar selalu mengerjakan shalat, berpuasa di bulan Ramadhan, berakhlak mulia dan pendidikan Islam lainnya.
Ketiga, berakal, tidak gila atau mabuk, maksudnya orang yang tidak berakal, gila dan mabuk tidak boleh berpuasa. Keempat, suci dari haid dan nifas bagi perempuan. Kelima, berada menetap di kampung, tidak sedang musafir. Keenam, sanggup berpuasa, tidak wajib atas orang yang lemah dan sakit.
Tentu banyak di antara kita yang merasakan lelah, lapar, haus dan dahaga. Kita bawa tidur makin terasa lelah dan lemas, di bawa berjalan atau bekerja otot lemah. Tetapi tetap memiliki harapan, karena beberapa jam lagi akan berbuka bersama keluarga atau buka puasa bersama masyarakat. Dalam kondisi demikian, tentu dapat merasakan, beginilah derita orang-orang yang miskin dan dhu’afa. Bahkan penderitaan mereka jauh melebihi kita, sebab bagi mereka hari-hari dijalani dengan cemas, tidak ada kepastian apa yang harus dimakan karena ketiadaan uang dan harta. Oleh karena itu di bulan puasa ini mari menanamkan rasa solidaritas yang tingg, rasa kepedulian yang dalam, agar memiliki komimen untuk berbagi dan menolong antarsesama manusia. Kerabat, tetangga dan anggota masyarakat yang tidak berpunya hendaknya ditolong, baik bantuan berupa ikan maupun kail. Bagi yang memerlukan pertolongan segera, mari beri ikan berupa uang, atau bahan makanan atau pakaian, dan bagi yang lain diberi bantuan dengan lapangan kerja, kesempatan
berusaha atau pinjaman modal. Terlebih di masa sulitnya mencari pekerjaan sekarang, maka alangkah baiknya pihak berpunya membuka peluang kerja, dan membayar upah pekerjanya dengan layak dan segera.
Allah SWT dan Rasul-nya bersama dengan orang-orang lemah dan miskin. Itu artinya kita semua harus peduli terhadap fakir miskin dan kalangan dhuafa. Kelebihan yang Allah SWT berikan bukan untuk dinikmati sendiri, melainkan harus berbagi dengan orang lain.
Dalam satu riwayat dikisahkan, dulu di zaman Bani Israil ada seorang yang ahli ibadah diberi Allah swt kelebihan atau karomah. Setiap kali berjalan di padang pasir luas selalu saja ada awan yang menaunginya sehingga ia merasa sejuk dan tidak kepanasan. Suatu ketika di tengah padang pasir yang terik, ada seseorang yang suka berbuat maksiat terkapar kepanasan setelah menempuh perjalanan jauh. Orang yang suka maksiat itu berteriak-teriak minta tolong agar diajak serta berjalan di dekatnya, supaya bisa ikut menikmati awan yang sejuk. Tetapi orang yang ahli ibadah tadi menolak, seraya berkata, “Engkau orang yang maksiat tidak berhak ikut berjalan dan bernaung bersamaku, sebab awan itu hanya untukku”. Begitu selesai berucap demikian, seketika itu pula awan itu menghilang, akhirnya orang abid tadi pun ikut berjalan kepanasan sambil menyesali kesombongan dan ketidakpeduliannya menolong orang.
Cerita ini menggambarkan, bahwa kelebihan yang dimiliki, baik ilmu, harta benda, jabatan, kedudukan dan sebagainya hakikatnya adalah milik Allah SWT yang tidak boleh dinikmati sendiri, malainkan harus dibagi dan dirasakan untuk kemaslahatan bersama. Apa yang diterima dari Allah SWT atau dari orang lain hendaknya dikasih pada orang lain, sehingga ada istilah terima kasih. Jangan hanya mau menerima, tetapi enggan mengasih, akhirnya menjadi orang yang bakhil. Orang yang bakhil jauh dari Allah SWT, jauh dari manusia dan dekat dengan neraka, meskipun ia seorang alim atau tahu agama. Sebaliknya orang yang dermawan, suka menolong, meskipun ia orang awam, dekat dengan Allah SWT, dekat dengan manusia dan jauh dari neraka. Dan dalam menolong orang hendaknya tidak pilih kasih dan tidak pamrih, dan jangan mengharapkan balasan dari manusia. Semuanya karena Allah SWT. Wallahu A’lam.












