Oleh: Noorhalis Majid
Pemerhati Sosial Budaya
Bulik kampung bagi urang Banjar, bukan sekedar ketemu keluarga dan handai tolan. Mendatangi para tetuha keluarga yang masih hidup. Lebih jauh dari itu, menghubungkan ikatan antara masa kini dan masa lalu. Ditandai dengan tradisi ziarah, mengunjungi makam orang tua, nenek, datu, dan leluhur-leluhur lainnya.
Rumah leluhur, salah satu media penghubung masa kini dan masa lalu tersebut. Di dalamnya menyimpan kenangan, cerita dari masa kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga hari tua. Pada semua sudut rumah ada kisah, mengingatkan segala yang pernah terjadi. Ambin, palatar, tawing halat, palidangan, kamar, padu dan semua ruang, tersembunyi kenangan yang tak mudah hilang. Prabot dan semua peralatan yang pernah dipakai, menyisakan cerita yang menarik untuk dituturkan. Panginangan, pakucuran, kacip, lasung gangsa, piring malawin, tajau, gumbang, dan segala yang pernah digunakan di masa lalu, menjadi media pengingat berbagai kenangan.
Sebab itu, di hulu sungai, agar rumah tidak mudah berpindah kepemilikan kepada orang lain, dan tetap menjadi wadah bersama untuk berkumpul, di halamannya terdapat kubur leluhur, terutama generasi pertama yang telah merintis untuk tinggal di tempat itu. Kalau pun ada pekuburan keluarga, tempat bermakam seluruh leluhur yang pernah hidup, letaknya pasti tidak terlalu jauh dari rumah. Melalui ziarah kubur itulah cerita masa lalu dituturkan pada generasi berikutnya. Termasuk anak cucu, buyut, cicit, antah, yang tidak sempat menemuinya. Ditanamkan, bahwa tanpa perjuangan dan jasa generasi sebelumnya, mustahil lahir generasi setelahnya. Termasuk segala keberhasil yang diraih sekarang, adalah buah dari perjuangan generasi masa lalu yang berkorban memberikan pendidikan, menanamkan nilai-nilai dan mendisiplinkan segala kebiasan yang baik sebagai bekal hidup.
Ketika berziarah, bukan hanya surah yasin dan doa-doa yang dipanjatkan, tapi berbagai cerita teladan masa lalu, dan segala nasehat juga dikenangkan. Tidak jarang diperkenalkan anak cucu yang turut hadir, seolah penghuni kubur mendengar perkenalan dan keberhasilan anak cucu yang datang berziarah. Sebab itu, jangan heran di tempat-tempat pemakaman, sehari menjelang lebaran, atau selepas sholat Idul Fitri, tempat-tempat pemakaman ramai dengan pengunjung. Rasanya tidak afdol kalau jelang dan saat lebaran, tanpa berziarah ke makam leluhur. Seperti ada yang kurang, ketika orang-orang tercinta yang telah mendahului, namun tidak sempat diziarahi.
Setelah berziarah, tentu saja mendatangi para tetuha yang masih hidup. Biasanya, generasi yang paling tua, menjadi tempat berkumpul utama. Kalau masih ada datu, di rumah datu lah semua anak cucu, buyut, cicit dan antah berkumpul. Bila datu sudah tiada, di rumah nenek atau kai. Bila itu juga sudah tiada, berpindah ke rumah julak, gulu, mamarina, atau amang. Pokoknya, siapa dari keluarga yang tertua dan masih hidup, ke rumah itulah semua juriat keluarga berkumpul.
Dengan demikian, kalau kebetulan berumur panjang, maka segala fase kehidupan akan dilalui, mulai menjadi antah, cicit, cucu, anak, orang tua, julak, kakek atau nenek, datu dan moyang. Bisa dibayangkan, betapa panjang kehidupan dijalani dan betapa banyak generasi lahir silih berganti.
Lantas, masakan apa yang mampu mengembalikan kenangan masa lalu? Tentu saja masakan yang kerap dimasak oleh mama, nenek atau datu setiap datang lebaran. Masakan yang tidak hanya akrab di lidah, namun juga merasuk dalam ingatan dan bawah sadar yang membentuk selera. Soto Banjar, Lontong, Ketupat, Buras, Lamang, Apam Batanak, dan sebagainya, sesuai kebiasaan tiap-tiap keluarga, dan berbagai makanan tersebut, menjadi favorit dengan rasa yang khas.
Tidak jarang sajian makanan tersebut menjadi penanda, pengingat masa lalu terkait figur seseorang yang sangat dirindukan. Bergantung siapa yang kerap membuat masakan penuh kenangan tersebut, entah itu mama, nenek atau datu.
Bersedekah, berbagi kebahagiaan kepada anak-anak atau orang tua dalam bentuk pemberian uang, adalah moment menggembirakan. Sebab itu, bank dan tempat penukaran uang baru, selalu ramai tiap jelang lebaran. Dan seperti sangat memahami, pada setiap jelang lebaran, kerap Bank Indonesia mengeluarkan uang baru sebagai pengganti uang lama. Tahun ini, uang hasil redenominasi, menjadi hadiah yang menarik lagi unik.
Berbagi kebahagiaan dalam bentuk uang, boleh jadi terinspirasi dari tradisi angpau dari saudara-saudara marga Tionghoa. Berupa pemberian uang dalam amplop merah saat imlek atau perayaan lainnya. Dari orang tua kepada anak, atau anak ke orang yang lebih muda. Simbol keberuntungan dan kasih sayang. Entah dari mana inspirasinya, yang pasti sedekah dalam Islam, adalah satu bentuk ibadah yang sangat mulia, karena mau dan mampu berbagi kebahagiaan berupa harta, dan hal tersebut mensyaratkan kelapangan.
Setelah melepas rindu dan kebahagiaan bersama keluarga besar, barulah kemudian mengunjungi kerabat, tetangga, guru-guru, kawan akrab, dan teman-teman sepermainan. Betapa senangnya hati, manakala masih dapat mengunjungi guru-guru, kawan akrab dan teman sepermainan. Berbagi cerita, kebahagiaan dan rasa syukur. Cerita, keluguan serta kelucuan masa lalu, menjadi pengingat betapa akrabnya hubungan yang sudah terjalin. Seketika semua memori yang sudah lama terkubur, hadir kembali menjadi penghubung ke masa kini. Bahkan cerita si fulan, atau si anu dengan si anu yang telah tiada, akan menjadi penanda bahwa waktu dan kehidupan yang dilewati sudah cukup lama.
Baelangan, sebagai bentuk dan cara menyambung tali silaturrahmi, tidak cukup hanya melalui WhatsApp. Sebagus apapun rangkaian kata disusun untuk menjalin silaturrahmi pada group WhatsApp, tidak akan mampu mengalahkan tradisi “baelangan”. Padanya ada kehangatan, keakraban, dan jiwa serta hati yang saling tersambung satu sama lain.
Sebab itu, bulik kampung bahari raya bagi urang Banjar, bukan sekedar datang dan kembali kepada keluarga induk. Lebih jauh dari itu, menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Boleh jadi segala keberhasilan, kesuksesan dan bahkan kejayaan dengan segala ketenaran yang telah diraih hari ini, pondasinya justru dibangun sejak di kampung halaman. Nilai, etos dan semangatnya, justru ditanamkan oleh generasi sebelumnya, yang nisan kuburnya sudah makin lapuk dimakan usia. (nm)











