Oleh : Ahmad Syawqi
Pustakawan UIN Antasari Banjarmasin
Setiap 7 April, dunia memperingati Hari Kesehatan Sedunia. Tahun 2026, tema global yang diusung adalah “Together for health. Stand with science.” Sebuah seruan untuk bersatu demi kesehatan dan berpijak pada sains. Di tengah gempuran informasi digital yang begitu deras, kita sering membayangkan pahlawan kesehatan adalah dokter, perawat, atau tenaga medis di rumah sakit. Tapi ada satu profesi yang nyaris terlupakan, padahal perannya sangat strategis di era banjir informasi: pustakawan.
Ya, pustakawan. Sosok yang selama ini lebih sering diidentikkan dengan rak buku, kartu anggota, dan ruangan sunyi. Namun di zaman ketika hoaks kesehatan menyebar lebih cepat dari virus, ketika algoritma media sosial lebih berkuasa dari fakta ilmiah, pustakawan adalah benteng terakhir literasi kesehatan berbasis sains. Mereka adalah pahlawan kesehatan yang tak berseragam.
Banjir Hoaks Kesehatan
Bayangkan: seorang ibu mencari tahu cara menurunkan demam anaknya. Buka TikTok, muncul video “cukup pakai bawang merah dan minyak kayu putih, dijamin sembuh tanpa dokter.” Buka WhatsApp, diteruskan pesan berantai bahwa vaksin menyebabkan autisme. Buka Facebook, ada iklan obat herbal ajaib klaim sembuhkan diabetes dalam tiga hari.
Di Indonesia, menurut survei Kominfo dan UNICEF (2024), lebih dari 60 persen remaja dan orang tua pernah menerima informasi kesehatan yang tidak akurat, dan hampir separuhnya mengaku sulit membedakan mana yang berbasis sains dan mana yang sekadar mitos. Fakta ini ironis, karena di saat yang sama, akses internet dan gawai semakin merata. Teknologi digital yang seharusnya memudahkan akses informasi kesehatan yang valid, justru menjadi panggung utama penyebaran kepalsuan.
Lalu, siapa yang bertanggung jawab memilah kebenaran? Selama ini kita serahkan pada mesin pencari dan algoritma. Padahal, algoritma dirancang untuk memicu keterlibatan emosional, bukan untuk memverifikasi fakta. Di sinilah celahnya. Dan di sinilah seharusnya perpustakaan dan pustakawan mengambil peran.
Bukan Sekadar Tempat Buku
Banyak orang masih memandang perpustakaan sebagai gedung tua berisi buku-buku berdebu. Pandangan itu keliru dan usang. Perpustakaan modern, terutama di sekolah dan perguruan tinggi, telah bertransformasi menjadi pusat literasi digital. Mereka menyediakan akses jurnal ilmiah, basis data kesehatan terpercaya, pelatihan literasi informasi, hingga ruang diskusi kritis.
Pustakawan masa kini bukan lagi sekadar penjaga buku. Mereka adalah information navigator yang terlatih dalam mencari, memverifikasi, dan menyajikan informasi berbasis bukti. Mereka menguasai cara menelusur literatur ilmiah, membedakan sumber primer dan sekunder, serta memahami etika informasi. Di dunia kesehatan, kemampuan ini sangat vital.
Coba bayangkan jika setiap sekolah memiliki pustakawan yang aktif mengkurasi konten kesehatan untuk siswa dan guru. Bayangkan jika perpustakaan desa menjadi pusat rujukan warga untuk mengecek klaim-klaim kesehatan yang beredar di WhatsApp. Bayangkan jika pustakawan dilibatkan dalam kampanye vaksinasi atau edukasi gizi nasional. Itu bukan mimpi. Itu kebutuhan mendesak.
Pustakawan sebagai Garda Terdepan
Tema “Stand with science” menuntut komitmen kolektif untuk berpijak pada fakta ilmiah. Namun komitmen itu tidak akan terwujud jika masyarakat tidak memiliki kemampuan mengakses dan memahami sains itu sendiri. Kemampuan itulah yang disebut literasi kesehatan.
Menurut WHO, literasi kesehatan bukan sekadar kemampuan membaca brosur kesehatan, tetapi juga kemampuan mencari, menilai, dan menggunakan informasi kesehatan untuk pengambilan keputusan. Nah, siapa profesi yang paling tepat melatih kemampuan itu? Bukan guru, karena beban kurikulumnya sudah berat. Bukan dokter, karena mereka sibuk merawat pasien.
Jawabannya: pustakawan.
Di negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia, pustakawan klinis sudah bekerja di rumah sakit, mendampingi tim medis dalam mencari bukti ilmiah terbaru. Pustakawan sekolah melatih siswa mengenali hoaks sejak dini. Sayangnya, di Indonesia, peran ini masih sangat minim diakui. Pustakawan lebih sering direndahkan sebagai profesi “gagal jadi guru” atau “penjaga buku yang sepi pengunjung.”
Together for Health: Mengapa Pustakawan Harus Dilibatkan?
Jika kita benar-benar ingin together for health (bersatu untuk kesehatan), maka semua elemen harus dilibatkan, termasuk pustakawan. Ini bukan retorika. Ini kebutuhan sistemik.
Pemerintah, melalui Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan, harus mulai memasukkan pustakawan dalam program edukasi kesehatan nasional. Perpustakaan sekolah dan umum harus diberi anggaran untuk mengembangkan koleksi kesehatan digital yang valid. Pelatihan literasi kesehatan bagi pustakawan harus menjadi prioritas, bukan kegiatan seremonial belaka.
Di tingkat masyarakat, kita bisa mulai dengan mengajak pustakawan terdekat untuk menjadi narasumber di kegiatan posyandu, pengajian, atau forum warga. Bisa juga dengan memanfaatkan media sosial perpustakaan untuk menjadi kanal klarifikasi hoaks kesehatan secara rutin.
Yang tidak kalah penting: apresiasi terhadap profesi pustakawan harus diubah. Mereka bukan sekadar pegawai administrasi. Mereka adalah pahlawan literasi, yang di era krisis informasi ini, secara tidak langsung menyelamatkan nyawa dengan mencegah keputusan kesehatan yang keliru.
Saatnya Memberi Seragam pada Pahlawan Tak Berseragam
Peringatan Hari Kesehatan Sedunia 2026 seharusnya menjadi momentum untuk meluaskan definisi “pahlawan kesehatan”. Bukan hanya mereka yang memegang stetoskop atau menyuntik vaksin, tetapi juga mereka yang memastikan informasi yang sampai ke masyarakat adalah informasi yang benar, ilmiah, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pustakawan adalah pahlawan kesehatan yang tak berseragam. Mereka bekerja tanpa sorotan kamera, tanpa ucapan terima kasih dari pasien yang sembuh, tanpa plakat penghargaan di dinding. Namun di balik sunyi rak-rak buku, mereka menjaga fondasi paling dasar dari kesehatan publik: pengetahuan yang benar.
Mari bersama-sama stand with science, dan mulailah dengan mengakui serta memberdayakan pustakawan. Karena kesehatan yang berkelanjutan tidak mungkin dibangun di atas kebodohan dan kebohongan. Hanya dengan informasi yang benar, kita bisa sehat bersama.
Selamat Hari Kesehatan Sedunia 2026. Hormat kami pada para pustakawan, pahlawan kesehatan tanpa seragam.














