BANJARBARU, Kalimantanpost.com – Menteri Lingkungan Hidup (LH) RI, Hanif Faisol Nurofiq mengapresiasi inisiasi gerakan pemilahan sampah yang dicanangkan Universitas Lambung Mangkurat (ULM).
Menteri Hanif mengatakan, pengelolaan sampah di lingkungan pendidikan merupakan langkah krusial untuk membentuk budaya peduli lingkungan di kalangan intelektual muda.
“Gerakan dengan tagline Sampah Kampus Selesai di Kampus (SKSD) yang diinisiasi Rektor ULM itu dinilai sejalan dengan agenda nasional Kementerian LH dalam menangani persoalan sampah di tanah air,” kata Hanif kepada wartawan usai meninjau pengolahan sampah di Fakultas Teknik ULM Banjarbaru, Kamis (9/4/2026), di Banjarbaru.
Hanif menekankan kampus memiliki peran strategis sebagai ekosistem yang menggodok calon pemimpin masa depan untuk menumbuhkan budaya ramah lingkungan.
“Pilah sampah merupakan program kerja nasional Kementerian LH, yang harus diinisiasi semua pihak, tidak terkecuali kampus sebagai pusat sivitas akademika,” tambah Hanif.
Diharapkan, kebiasaan positif yang terbangun di dalam kampus tersebut dapat memberikan dampak luas hingga ke lingkungan masyarakat luar.
Menteri LH meyakini, dengan dukungan instrumen keputusan Rektor, ULM mampu menjadi salah satu pionir penanganan lingkungan hidup di Indonesia.
Lebih lanjut, Hanif menganalogikan penanganan sampah sebagai sebuah kerja maraton yang membutuhkan napas panjang, bukan sekadar kerja sprinter yang bersifat sesaat. Sehingga, diperlukan inovasi berkelanjutan serta dukungan teknologi yang terus dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan zaman.
“Saya yakin Pak Rektor akan memperkuatnya melalui berbagai instrumen keputusan Rektor untuk menjadikan kampus ini benar-benar salah satu pionir kampus di tanah air dalam penanganan lingkungan hidup, khususnya sampah,” tuntasnya.
Rektor ULM, Prof Dr Ahmad Alim Bachri menambahkan, pihak universitas akan terus mengupayakan berbagai inovasi dan penyediaan fasilitas penunjang yang memadai.
Hal ini dilakukan guna memastikan proses pengelolaan sampah dari hulu ke hilir dapat berjalan optimal di dalam lingkungan universitas.
“ULM berkomitmen penuh untuk mewujudkan ekosistem kampus yang bersih melalui gerakan ‘Sampah Kampus Selesai di Kampus,” tukasnya.
Selain itu, juga mengupayakan inovasi dan penyediaan fasilitas yang memadai agar budaya memilah sampah ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan seluruh sivitas akademika ULM.
Peninjauan Menteri LH ini terkait inovasi pengolahan sampah residu yang dilakukan ULM, yang mengubahnya menjadi produk eco wood untuk furniture dan yang dimanfaatkan sebagai furniture dan kontruksi yang bernilai ekonomi tinggi.
Inovasi mengolah sampah residu ini
tidak hanya membantu mengurangi beban polusi lingkungan, tetapi juga membuktikan limbah anorganik dapat diolah menjadi barang yang fungsional dan estetis. (adv/lyn/KPO-4).















