Jakarta, kalimatanpost.com –Di tengah berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi setiap hari, banyak keluarga semakin cermat mengatur pengeluaran rumah tangga. Mulai dari biaya transportasi, pendidikan, hingga kebutuhan sehari-hari, semuanya membutuhkan perencanaan yang matang. Dalam kondisi seperti ini, muncul pertanyaan yang sering dirasakan banyak keluarga: bagaimana menyediakan makanan bergizi tanpa membuat pengeluaran semakin besar?
Pertanyaan tersebut penting karena kualitas makanan yang dikonsumsi keluarga tidak hanya berpengaruh pada kesehatan hari ini, tetapi juga menentukan kualitas hidup di masa depan.
Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan prevalensi obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas meningkat dari 15,4 persen pada 2013 menjadi 21,8 persen pada 2018. Sementara itu, Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi diabetes pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 11,7 persen, meningkat dibandingkan 10,9 persen pada 2018. Berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke kini menjadi tantangan kesehatan yang semakin besar bagi masyarakat.
Kabar baiknya, memenuhi kebutuhan gizi keluarga tidak selalu membutuhkan biaya mahal. Banyak sumber pangan bergizi yang tersedia di sekitar masyarakat dengan harga yang relatif terjangkau. Inilah yang menjadi semangat kampanye Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA) yang terus didorong oleh Badan Pangan Nasional.
Bukan Soal Makanan Mahal, tetapi Isi Piring yang Seimbang
Selama ini masih ada anggapan bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan mahal atau menu tertentu yang sedang populer. Padahal, kesehatan tidak ditentukan oleh harga makanan, melainkan oleh keseimbangan gizi yang dikonsumsi setiap hari.
Prinsip B2SA sejalan dengan pedoman “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan, yaitu setengah piring diisi sayur dan buah, sementara setengah lainnya terdiri atas makanan pokok dan lauk pauk sebagai sumber energi dan protein.
Artinya, satu piring makan bergizi tidak harus berisi bahan pangan mahal atau impor. Masyarakat dapat memanfaatkan pangan yang tersedia di sekitar mereka sesuai potensi dan kebiasaan daerah masing-masing.
Sebagai contoh, satu menu B2SA dapat terdiri dari nasi, jagung, ubi, atau singkong sebagai sumber karbohidrat; telur atau ikan kembung sebagai sumber protein hewani; tempe atau tahu sebagai sumber protein nabati; serta sayuran dan buah lokal seperti bayam, kangkung, daun kelor, pisang, atau pepaya.
Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Badan Pangan Nasional, Andriko Noto Susanto, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
“B2SA itu tidak mahal. Dengan memanfaatkan pangan yang ada di sekitar, kita bisa memenuhi unsur gizi sesuai standar,” ujarnya.
Memasak Sendiri Membantu Menghemat Pengeluaran
Selain lebih terjangkau, memasak sendiri memberikan keleluasaan bagi keluarga untuk mengatur kualitas makanan yang dikonsumsi.
Keluarga dapat mengendalikan penggunaan gula, garam, dan minyak sesuai kebutuhan. Hal ini penting karena konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih merupakan salah satu faktor risiko berbagai penyakit tidak menular.
Saat memasak sendiri, keluarga juga dapat merencanakan menu dengan lebih baik. Tempe, tahu, telur, dan ikan dapat digunakan secara bergantian sebagai sumber protein. Sayuran dapat dimanfaatkan untuk beberapa kali makan. Bahkan bahan pangan yang tersisa masih dapat diolah kembali menjadi menu lain yang tetap bernilai gizi.
Kebiasaan sederhana tersebut bukan hanya membantu menjaga kesehatan, tetapi juga membuat pengeluaran rumah tangga menjadi lebih efisien.
Data Badan Pusat Statistik Provinsi DKI Jakarta menunjukkan pengeluaran masyarakat untuk makanan dan minuman jadi mencapai Rp476.836 per kapita per bulan. Angka ini menunjukkan bahwa makanan siap santap telah menjadi bagian penting dari pola konsumsi masyarakat perkotaan. Namun, sebagian kebutuhan tersebut sebenarnya dapat dipenuhi melalui pengolahan pangan di rumah dengan memanfaatkan bahan yang lebih terjangkau.
Pangan Lokal yang Kaya Gizi
Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat beragam. Selain beras, masyarakat juga mengenal jagung, singkong, ubi, talas, sagu, dan berbagai jenis umbi lainnya sebagai sumber karbohidrat.
Begitu pula dengan sumber protein yang mudah dijangkau seperti ikan, telur, tempe, dan tahu yang telah lama menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat Indonesia.
Badan Pangan Nasional juga mendorong masyarakat untuk lebih mengenal pangan utuh (whole food), yaitu bahan pangan yang masih dekat dengan bentuk aslinya dan tidak melalui proses pengolahan berlebihan. Kelompok pangan ini meliputi beras, jagung, ubi, telur, ikan, tempe, tahu, sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan.
Pangan lokal tidak hanya baik untuk kesehatan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi. Ketika masyarakat membeli dan mengonsumsi produk pangan lokal, manfaatnya dirasakan oleh petani, nelayan, peternak, pelaku UMKM, dan berbagai pelaku usaha pangan lainnya di daerah.
Melalui program Desa B2SA, Badan Pangan Nasional juga terus mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas konsumsi masyarakat sekaligus memperkuat ekonomi daerah. Program ini mencakup edukasi pola konsumsi pangan sehat, pelatihan pengolahan pangan lokal, pemanfaatan pekarangan, serta dukungan sarana pengolahan dan pendampingan teknis. Pada 2026, praktik Rumah Pangan B2SA di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, juga menunjukkan bahwa kelompok masyarakat dapat menjadi pemasok bahan pangan olahan untuk mendukung Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi pada program Makan Bergizi Gratis.
Mengurangi Makanan Terbuang, Menghemat Pengeluaran
Pola konsumsi yang baik tidak hanya berbicara tentang apa yang dimakan, tetapi juga bagaimana pangan dimanfaatkan secara bijak.
Kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menunjukkan Indonesia menghasilkan sekitar 23 hingga 48 juta ton susut dan sisa pangan setiap tahun. Jika pangan yang masih layak konsumsi dapat dimanfaatkan, jumlah tersebut diperkirakan cukup untuk memberi makan puluhan juta orang.
Di tingkat rumah tangga, langkah-langkah sederhana dapat membantu mengurangi pemborosan pangan. Mulai dari menyusun daftar belanja, membeli bahan secukupnya, menyimpan bahan pangan dengan benar, hingga mengolah kembali bahan yang masih layak konsumsi.
Selain membantu mengurangi sampah makanan, kebiasaan tersebut juga dapat menghemat pengeluaran keluarga.
Dimulai dari Langkah Sederhana di Rumah
Memenuhi kebutuhan gizi keluarga tidak harus dilakukan dengan cara yang rumit atau mahal. Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten justru dapat memberikan manfaat besar dalam jangka panjang.
Untuk sarapan, keluarga dapat memilih ubi rebus, telur, sayur, dan buah lokal. Saat makan siang, piring makan dapat diisi nasi atau jagung, ikan, tempe, sayur, dan buah. Sementara untuk makan malam, keluarga dapat memilih porsi yang lebih ringan seperti singkong, tahu, sayur bening, dan buah.
Pola makan seperti ini sederhana, mudah diterapkan, dan memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di sekitar masyarakat.
Pada akhirnya, makanan sehat bukan soal kemewahan. Yang lebih penting adalah memastikan setiap anggota keluarga memperoleh asupan yang beragam, bergizi, seimbang, dan aman. Dengan memanfaatkan pangan lokal, memasak secukupnya, serta mengurangi makanan yang terbuang, keluarga dapat menjaga kesehatan sekaligus mengelola pengeluaran dengan lebih bijak.
Karena memenuhi gizi keluarga tidak harus mahal. Yang dibutuhkan adalah pilihan yang tepat setiap hari.















