10 Pramuka Putri Keracunan Asap Genset

DIRAWAT – Salah satu korban keracunan ketika mendapat perawatan medis. (KP/Net)

MARTAPURA, KP – Perkemahan Besar Pramuka Penggalang Kwartir Cabang Kabupaten Banjar 2018 di Lembaga Pendidikan Pramuka (Lemdika) Sungai Ulin Banjarbaru mendadak geger, Sabtu (10/11) sekitar pukul 03.40 WITA.

Pasalnya, di tenda siswa SMPN 1 Gambut, sebanyak sembilan pramuka putri dan satu pendamping yang mengikuti kegiatan tersebut dalam keadaan lemas, muntah-muntah dan mulut berbusa. Tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut.

Mereka adalah, Eva Maka Suci, Heney, Nur Syifa Ramadani, Nur Rivdah Putri Ananda, Nur Adela Putri, Alya Syifa, Shinta Ammelia Hapsari, Aniuridha, Arbainah, dan Nur Alfalah Amanda Putri.

Insiden itu diketahui, ketika Indra Kusuma dan dua temannya yang juga mengikuti kegiatan tersebut sejak 9 November sampai 11 November, pergi ke tenda yang ditempati anggota Pramuka putri dari SMPN 1 Gambut.

“Waktu itu, Sabtu sekitar pukul 04.00 Wita, saya bersama Ahmad Hafi Badali dan Rizki Pramata mau pinjam ember untuk mandi. Kami kaget, teman-teman kami dalam keadaan muntah-muntah, sebagian mulut mengeluarkan busa dan kondisi badan mereka lemas,” ujar Indra saat di depan IGD RS Ratu Zalecha.

Melihat kondisi teman-temannya tersebut, Indra langsung memanggil panitia dan langsung mematikan genset yang masih hidup.

Setelah mendapat laporan, panitia berlarian ke tenda siswi SMPN 1 Gambut dan memberikan pertolongan pertama kepada para korban. Kemudian panitia membawa para korban ke IGD RS Ratu Zalecha Martapura Kabupaten Banjar menggunakan mobil dari Emergency Banjar Response, PMI Kabupaten Banjar, PMI Kota Banjarbaru dan KSR PMI Unit Akper Intan Martapura.

Para korban dilarikan ke IGD RS Ratu Zalecha Martapura Kabupaten Banjar karena diduga keracunan gas, Sabtu (10/11) pagi. Tak lama berselang, para orangtua berdatangan ke IGD RS Ratu Zalecha, termasuk dari panitia, kepala sekolah dan Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, Abdul Ghani Fauzi.

Direktur RS Ratu Zalecha, dr Topik Norman Hidayat, mengatakan 10 orang yang dilarikan ke rumah sakit mengalami keracunan gas Carbon Monoksida (CO). Dan semua korban dirawat di ruang perawatan paru Al-Hakim.

“Kami menerima korban sekitar pukul 06.30 Wita. Setelah dilakukan observasi, semua korban keracunan gas Carbon Monoksida,” ujarnya.

Keadaan korban, satu orang dalam keadaan gawat darurat, sedangkan sembilan pasien dalam keadaan perbaikan klinis dengan kondisi stabil dan membaik.

“Seluruh pasien dalam penanganan dokter spesialis paru dr Hendra Agus Setiawan. Kepada mereka dilakukan tindakan oksigenisasi dengan menggunakan pantri mask. Ini agar meningkatkan tekanan oksigen sekaligus mengeluarkan CO,” ujarnya.

Topik menjelaskan pasien kebanyakan menghirup CO, dimana CO memiliki daya ikat 200 sampai 300 lebih besar dari O2 maupun lainnya.

“Beruntung pasien dibawa ke rumah sakit dengan cepat, sehingga bisa diberikan penanganan yang benar,” ujarnya.

Ahli spesialis paru yang menangani pasien, dr Hendra Agus Setiawan mengatakan sangat bahaya mengunakan atau menyalakan genset dalam ruangan tertutup.

Karena genset menghasilkan CO yang bisa menyebabkan keracunan.

“CO sendiri tidak berbau, berbentuk dan hanpir sama dengan O2. Jika memiliki gejala pusing, lemas, dan muntah dari seluruh orang yang ada di ruangan, maka segera keluar dari ruangan tersebut dan segera bawa ke rumah sakit terdekat,” ujarnya.

Setelah mendapatkan perawatan, kini kondisi mereka berangsur membaik dan sudah sadarkan diri.

Panitia kegiatan, Gapuri didampingi Ketua Panitia Isnu Wahyono mengatakan, kejadian sekitar pukul 05.30 wita, saat dinihari terjadi hujan kemudian peserta memasukan genset ke dalam tenda yang berisi para korban. Kegiatan diikuti dari semua pramuka penggalang di Kabupaten Banjar sebanyak 892 peserta dari 48 sekolah.

“Semua satu tenda, saat hujan dinihari mereka memasukan genset ke dalam tenda, sehingga diduga keracunan gas,” kata Gapuri.

Kepala SMPN 1 Gambut, H Samederi menyayangkan kejadian tersebut. Dirinya menerima laporan pada malam hari pendamping tidak diperbolehkan oleh panitia dan bukan disuruh pulang dan mendapat laporan begitu hujan kemudian memasukan genset ke dalam tenda, sehingga diduga keracunan gas.

“Kejadian ini menjadi pelajaran kedepan bagi pihak sekolah, pendamping agar benar-benar mendampingi serta akan melihat kesiapan panitia penyelenggara kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti ini,” katanya. (net/K-4)

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...