Dialog Interaktif Tanggap Bencana

INTERAKTIF KARHUTLA. (KP/Ist)
679

Marabahan. KP – Pemkab Barito Kuala (Batola) sudah melakukan antisipasi dalam rangka tanggap darurat yang melibatkan berbagai pihak. Sedangkan dalam penanggulangan sudah disiapkan anggaran baik di BPBD dan Dinsos.

Demikian dijelaskan Pj Sekda Barito Kuala (Batola), H Abdul Manaf, dalam Dialog Interaktif RRI terkait Tanggap Bencana bersama masyarakat di Taman Surya Lestari, depan Kantor Bupati Batola, Selasa (10/12/2019).

Dialog Interaktif ini merupakan program RRI Banjarmasin yang bernama Program Kentongan Tanggap Bencana. Program ini berisi dialog interaktif baik dengan masyarakat yang hadir maupun dengan para pendengar bersama para pihak yang terlibat seperti dari Pemkab, BPBD, TNI, maupun Polri.

Dari pihak Pemkab Batola dihadiri Pj Sekda H Abdul Manaf, Kepala Pelaksana BPBD Sumarno, dari Polres diwakili Wakapolres Kompol Jatmiko SH MM, dan dari Kodim diwakili Danramil Kuripan Kapten Inf Mahfudiansyah.

Dialog interaktif tanggap bencana yang langsung dihadiri Kepala RRI Banjarmasin Suyono ini ternyata cukup mendapat sambutan masyarakat yang hadir maupun melalui sambungan telepon untuk menyampaikan berbagai permasalahan penanggulangan karhutla maupun bencana lainnya.

Pj Sekda Batola H Abdul Manaf, menambahkan, penanggulangan bencana ini bukan hanya tugas pemerintah, namun tugas bersama seperti TNI, polri, serta seluruh lapisan masyarakat.

Dalam hal penanganan penanggulangan, menurut Manaf, pihaknya terus bersinergi dengan semua stakeholder, termasuk dari provinsi maupun pusat. “Kita terus berupaya bersinergi dengan pihak termasuk terhadap satgas, sehingga dimana pun bencana terjadi kita sudah siap untuk penanggulangannya,” katanya.

Terkait bencana puting beliung, Manaf menjelaskan, apabila terjadi bencana puting beliung atau pun bencana lainnya maka yang pertama kali melakukan tanggap daruratnya adalah BPBD dan Dinsos dalam hal pemberian bantuan yang sifatnya darurat dan mendesak untuk kebutuhan sehari-hari.

Kepala Pelaksana BPBD Batola, Sumarno menjelaskan, wilayah Kabupaten Batola jika musim kemarau tiba rentan terhadap kebakaran hutan dan lahan karena kondisi lahan yang bergambut.

Untuk di tahun 2019, sebut Sumarno, hingga akhir November ,di Batola hampir semua kecamatan dengan luas areal 1.156 hektar terkena dampak kebakaran hutan dan lahan dengan kerugian diperkirakan lebih Rp5 miliar. Sedangkan daerah-daerah yang rentan terbakar terutama di Kecamatan Jejangkit, Mandastana, Kuripan, Tabukan, Marabahan, dan lainnya.

Terkait dengan kegiatan karhutla, Sumarno menjelaskan, tahun 2019 pihaknya membuat status dari siaga bencana menjadi tanggap darurat bencana asap akibat karhutla yang berakhir 10 November 2019.

Sedangkan lahan yang terbakar selain semak belukar, lahan pertanian, kebun masyarakat dan kebun perusahaan (sawit).

Penyebab terjadinya kebakaran, menurut Sumarno, hampir 100 persen berasal dari faktor manusianya yang terkait dengan pembukaan lahan pertanian dan perkebunan. Selain disebabkan oleh faktor manusia, baik akibat kesengajaan maupun kelalaian. (hum/K-6)

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...