Agar Balapan Liar Benar-benar Bubar

Oleh : Umi Diwanti
Guru, Pengasuh MQ. Khodijah Al-Kubro

Tim patroli unit kecil lengkap (UKL) Polres Banjarbaru melakukan razia di wilayah perkantoran Setdaprov Kalsel di Banjarbaru pada Jumat (17/1) petang. Dalam operasi ini, polisi setidaknya mengamankan sebanyak 152 orang laki-laki, dan ada 13 orang perempuan.

Karena kebanyakan mereka berstatus pelajar dan masih di bawah umur. Oleh aparat mereka hanya didata identitas diri dan keluarga. Ini seperti perekaman sidik jari dan foto wajah sebagai catatan tersendiri di dalam pembuatan SKCK.

Di Kalimantan Selatan, balapan liar atau dikenal dengan istilah ‘Bali’ hampir ada di setiap kota. Bahkan di desa. Aksi mereka tak hanya membahayakan diri tapi juga pengguna jalan lainnya. Selain kecepatan sangat tinggi, mereka juga berani melawan arus lalu lintas. Meski sudah banyak korban jiwa, mereka tak kunjung jera. Mereka hanya bubar saat razia digelar. Sesaat kemudian mereka beraksi kembali. Ada apa gerangan?

Setidaknya beberapa hal ini yang menjadi penyebabnya. Pertama, remaja tak punya tujuan hidup. Tidak ada pelajaran spesial tentang ini, baik di sekolah maupun di rumah. Maka remaja pun tak paham waktunya harus dihabiskan untuk apa selain hura-hura. Tak peduli bisa celaka.

Kedua, remaja terpapar gaya hidup sekuler yang materialistis. Di mana ketenaran dan popularitas menjadi prioritas. Apalagi media hari ini justru gencar memasarkan gaya hidup model begini. Salah satunya film yang menayangkan kisah anak-anak genk motor yang diopinikan anak baik-baik. Jelas ini menjadi panutan bagi remaja kita.

Ketiga, kurangnya perhatian dan pengawasan orangtua. Anak-anak yang haus perhatian di dalam rumah akan mencarinya di luar rumah. Maka aktivitas apapun yang membuat mereka merasa nyaman akan mereka lakukan. Termasuk balapan liar ini.

Keempat, kurangnya penyaluran potensi dan penghargaan remaja di jalur yang positif. Setiap manusia apalagi remaja memiliki gharizah baqo’ (naluri eksistensi diri) yang menuntut pemenuhan.

Saat fasilitas dan ajang penyaluran bakat positif sangat minim, wajar jika akhirnya mereka menyalurkannya di tempat negatif. Apalagi penghargaan pada aktivitas positif remaja juga sangat minim.

Tak pernah terdengar ada penghargaan remaja teladan bagi yang rutin 5 waktu shalat berjamaah fi Mesjid misalnya. Sementara di Bali ini sebagian mereka menemukan sebuah pengakuan. Setidaknya berupa sorak sorai dari teman-temannya.

Kelima, ada ketidak konsistenan orang dewasa bahkan penguasa pada aktivitas balapan ini. Karena realitanya lomba-lomba balapan ini memang ada yang diadakan secara resmi. Berhadiah dan pemenangnya dibangga-banggakan.

Siapa yang tak kenal Valentino Rossi? Pembalap kawakan yang dibanggakan dunua. Secara tak sadar hal ini menjadi motivasi tersendiri bagi para remaja untuk bisa jadi pembalap. Saat arena resmi tak ditemukan, jalan raya jadi pilihan.

Keenam, lemahnya sanksi pada pelaku Bali. Apalagi dengan anggapan mereka masih di bawah umur. Tak ada sanksi meski perbuatan mereka telah membahayakan orang lain. Seharusnya sanksi tetap diberlakukan pada mereka yang sudah baligh, meskipun masih pelajar. Tak boleh ada pemakluman yang justru menyebabkan para remaja tak takut berbuat dosa.

Semua hal di atas jika dirunut akan bermuara pada diterapkannya pandangan hidup sekuler. Yakni penerapan aturan kehidupan dengan mengesampingkan Agama. Materi menjadi asas dan tujuan utama dalam setiap aturan dan perilaku manusia. Sehingga keluarga, sekolah dan masyarakat tak lagi menjalankan perannya sebagai pabrik pencetak generasi terbaik.

Fungsi keluarga sebagai pendidik pertama dan utama generasi semakin tergerus oleh arus kapitalisme. Gaya hidup materialisme dan tekanan ekonomi membuat rumah yang harusnya menjadi madrasah berubah menjadi sekedar tempat singgah.

Tak jarang ayah dan ibu sama-sama bekerja. Pulang ke rumah sudah sama-sama lelah. Jangankan mampu memberikan kehangatan dan pengarahan, bisa tak marah-marah saja sudah bagus. Akhirnya anak-anak mencari pelarian di luar rumah. Termasuk Bali ini diantaranya.

Di sinilah peran negara sangat penting. Yakni menjadi penjamin keterpenuhan ekonomi keluarga. Baik dengan penyediaan lapangan kerja yang potensial untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Maupun penyediaan kebutuhan kolektif secara cuma-cuma.

Saat kebutuhan rumah dapat terpenuhi dengan baik. Seorang ibu tak harus ikut menanggung beban nafkah. Bahkan seorang ayah pun tak harus bekerja sepanjang hari hingga kehilangan waktu untuk mendidik anak-anak.

Hilangnya fungsi keluarga juga diperparah minimnya pengetahuan orangtua akan kewajibannya. Dalam hal ini, negara juga wajib tampil dengan menyelenggarakan pendidikan yang mampu menciptakan output yang tak hanya ahli bekerja tapi juga ahli menjadi orangtua.

Demikian pula fungsi masyarakat sebagai kontrol sosial kian memudar bahkan menghilang. Tergilas gaya hidup individualis. Jika bukan anak atau keluarganya akan dibiarkan saja. Kadangkala ada juga orangtua yang tak terima anaknya dinasihati orang lain. “Urus anak sorang aja, kada usah meurusi anak urang!”

Alhasil, anak-anak yang lemah ketaqwaannya ini, sudahlah orangtuanya tak mampu mengawasi dengan baik. Aparat juga tidak selalu bisa menjaga setiap sudut jalan setiap saat. Ditambah lemahnya amar ma’ruf nahi mungkar oleh masyarakat, jadilah mereka remaja yang lepas kontrol.

Karenanya tak ada solusi laun kecuali dengan mengembalikan fungsi keluarga, masyarakat dan negara. Niscaya balapan liar akan benar-benar bisa bubar. Sebab para remaja menjadi paham tujuan hidupnya. Paham bagaimana harusnya melewati masa mudanya. Tak lagi mereka mau menghabiskan waktu, tenaga apalagi nyawanya untuk hal yang sia-sia. Insyaallah.

Loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

loading...