Ditreskrimsus Polda Kalsel Polisline Rumah Penumpuk Oli Bekas

Banjarmasin, KP – Menyusul terbongkarnya rumah samping gedung Radio Chandra, Jalan Piere Tendean nomer 12, Banjarmasin Tengah yang ketahun sumber pembuang oli bekas akhirnya, Ditreskrimsus Polda Kalsel, Kamis (09/01/2019) secara resmi melakukan polisline lokasi tersebut.

Bahkan sebelumnya, satuan kompi yang dipimpin Kompol Aji Lukman Hidayat Kanit 1 Subdit 4 Ditreskrimsus Polda Kalsel lebih dahulu masuk ke lokasi areal penumpulan yang cukup luas dengan mengambil sampel oli yang masih tercecer di kawasan tersebut.

Giat tersebut menindaklanjuti informasi diperoleh dari masyarakat, akan adanya limbah oli yang dibuang melalui drainase yang mengalir ke siring sungai Martapura yang ternyata setelah dideteksi ternyata aliran dari milik PT Alpa Gaya Bhakti Pertiwi.

Menurut Kompol Aji Lukman Hidayat Kanit 1 Subdit 4 Ditreskrimsus Polda Kalsel, menerangkan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan uji sample air sungai dan drainase yang dikhawatirkan tercemar.

Berita Lainnya

Tambahan Kasus Baru 55 Orang

1 dari 892
Loading...

Aji juga menjelaskan bahwa saat ini kasus tersebut, masih dalam tahap penyedikkan yang telah dilakukan sejak kemarin Rabu 8 Januari 2020, dengan memanggil beberapa saksi pemilik rumah dari tempat penimbunan oli kadaluarsa yang berada persis didepan siring piere tendean.

“Hari ini kami bersama DLH melakukan penindakkan, dan mengambil lima sampel dari dalam lokasi bekas penumpukan, aliran, selokan depan drainase, aliran sungai hingga di Sungai Martapura,”terangnya.

Dugaan sementara, lanjutnya masuk dalam pembuangan oli yang masuk B3 (bahan, berbahaya, beracun,) atau dumping di aliran sungai Martapura. “Ini ngak boleh dan melanggar UU No 32 Lingkungan Hidup dengan ancaman hukuman 5 tahun penjera dan dengan Rp3 M,’’katanya.

Sementara itu, Kepala DLH Kota Banjarmasin Drs H Mukhyar, memaparkan bahwa pihaknya baru mengetahui akan adanya penimbunan oli tersebut yang tidak memilikki izin setelah ada laporan masyarakat karena aliran oli merembes di Sungai Martapura.

Untuk itu, ujarnya lagi pihaknya bersama Dit krimsus mengambil sample untuk mengetahui kadar tercemarnya air dari limbah timbunan oli tersebut.

“Kami berharap kedepan pelaku usaha bisa tertib lah, dan jangan melakukan pecematan lingkungan apalagi sungai sangat merusak biota,” ujarnya. (vin/KP0-1)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya