Penghapusan UN Tak Relevan Diterapkan ke Setiap Daerah

322

Banjarmasin, KP – Belakangan isu soal konsep Ujian Nasional (UN) yang ingin dihapuskan dan diganti dengan program merdeka belajar dinilai oleh beberapa ahli serta pengamat tidak relevan jika disamaratakan penerapannya di setiap daerah.

Sebut saja Pengamat Pendidikan asal Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (FKIP ULM) Banjarmasin, Syubhan Annur salah satunya turut berkomentar atas fenomena isu yang beredar UN bakal dihapuskan itu.

Menurutnya tidak semua daerah bakal efektif menerapkan penghapusan UN tersebut, ia berasumsi dalam perjalanannya konsep yang ingin menggatikan UN tetap harus melihat kondisi pendidikan dan tidak bisa disamaratakan antara daerah yang maju dari sektor pendidikannya dengan daerah yang belum maju pendidikannya.

“Untuk melihat ini dapat dilihat dari APK dan APM pendidikan pada setiap provinsi kabupaten dan kota,” ucapnya.

Lanjutnya, dengan kata lain merubah konsep lama memerlukan waktu yang tidak sedikit, sama halnya dengan kurikulum dan sebaiknya sebelum melakukan perubahan pemerintah terlebih dahulu mensosialisasikan ke berbagai lapisan masyarakat.

“Paling tidak tentang penggati UN sebagai asessment proses hasil belajar di sekolah, agar masyarakat tidak terkejut, sehingga diharapkan dengan adanya inovasi baru semoga pendidikan kita bisa sejajar dengan negara-negara lainnya,” bebernya.

Menurut Syubhan, Konsep UN sebenarnya hanya mengukur tingkat pencapaian kognitif siswa seberapa jauh capaian pengetahuan dan pemahaman siswa dalam mengikuti pembelajaran di sekolah, namun dalam perkembangannya dewasa ini siswa tidak hanya diukur dari tingkat capaian kompetensi kognitif saja.

Berita Lainnya
Loading...

“Tapi perlu juga pencapaian kompetensi lainnya yaitu aspek afektif dan psikomotoriknya juga,” terangnya.

Dijelaskannya, UN juga belum menyentuh kemampuan pengembangan kognitif dan karakter siswa, UN lebih memperkuat aspek memory siswa dimana kognitif dan memory-memory hal yang berbeda, bahkan UN juga belum menyentuh aspek afektif atau dengan kata lain aspek karakter/values siswa.

Akademisi yang sedang menempuh gelar Doktor di Universitas Negeri Semarang ini melanjutkan, dengan kata lain UN hanya berdasarkan kemampuan siswa dalam ingatan hafalan, “makanya kalau kita lihat banyaksiswa lebih fokus menghapal dibandingkan memahami dari isi pembelajaran,” ujar Syubhan.

Ia mengakui memang ada sisi positif dan negatifnya ketika bicara soal penghapusan UN, “kalaupun dihapus atau diganti istilah mas Nadiem Makariem Mendikbud agar lebih menekankan pada aspek kognitif, afektif(karakter), dan psikomotorik siswa,” kata Syubhan.

“Dimana harus adanya asesment kompetensi minimum mirip dengan skoring PISA, literasi dan numerasi, plus survey karakter,” ungkapnya.

Syubhan menegaskan soal perubahan jangan pernah ditakutkan, tetapi perubahan menjadi motivasi untuk bangkit dalam mengejar ketertinggalan dan semoga ketakutan orang tua terhadap ketidaklulusannya Anak-anak mereka menjadi motivasi bagi siswa untuk terus belajar untuk menggapai cita-cita.

“Akan tetapi konsep hapalan juga penting karena sebagai salah satu pendekatan scientifik yaitu mengingat, Konsep yang dicanangkan oleh mendikbud ini dinamakan merdeka belajar,” pungkasnya. (zai/KPO-2)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya