Allah SWT Cahaya Langit dan Bumi

Oleh : Andi Nurdin Lamudin
Praktisi Hukum dan Pengamat Sosial Budaya

Di dalam Alqur’an : “Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah ibarat misykat. Dalam misykat itu ada pelita. Pelita itu dalam kaca. Kaca itu laksana bintang berkilau. Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati. Pohon zaitun yang bukan di Timur atau di barat. Yang minyaknya hampir-hampir menyala dengan sendirinya, walaupun tiada api menyentuhnya. Cahaya di atas cahaya! Allah menuntun kepada cahaya-Nya, siapa saja yang Ia kehendaki. Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia. Sungguh Allah mengetahui sesuatu”. (Q. An Nuur : 35)

Imam Al-Ghazali, dengan judul aslinya berbahasa Arab, Misykat al-Anwar, Al-Mathba’ah al-Arabiyah, Mesir, cetakan 1,1343 H. Dijelaskan oleh Al-Ghazali bahwa Segala puji bagi allah SWT. Tuhan pelimpah cahaya-cahaya, Pembuka penglihatan, Penyingkap rahasia-rahasia dan penyibak selubung tirai-tirai. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Muhammad SAW, cahaya segala cahaya, pemimpin orang-orang yang banyak beramal saleh, kekasih Sang Penguasa Yang maha Perkasa, pembawa berita gembira dari Yang Maha Pengampun, penyampai ancaman dari Yang Maha Kuasa, penumpas para pengingkar, dan pembuka tabir kepalsuan kaum durhaka. Demikian pula kepada keluarganya yang tersucikan dan para sahabatnya yang baik-baik.

Kemudian Al-Ghazali meneruskan jika anda telah meminta kepadanya (Al-Ghazali), wahai saudaraku (semoga Allah membimbingmu untuk memperoleh kebahagiaan teragung yang sejati, mencalonkanmu untuk bermi’raj menuju puncak persada tertinggi, menyinari pandangan hatimu dengan cahaya hakikat dan menyucikan nuranimu dari segala sesuatu selain yang haq). Anda telah memohon kepadaku (Al-Ghazali) agar mengungkapkan, untukmu, rahasia cahaya-cahaya Ilahi disertai pula dengan makna-makna tersembunyi di balik pengertian harfiyah beberapa ayat suci Alqur’an yang ditilawahkan, dan hadist hadist Nabi SAW, yang dirawikan.

Sebagaimana surat An-Nurr ayat 35, mengapa gerangan Allah SWT membuat perumpamaan-perumpamaan dengan misykat, kaca, pelita dan pohon? Demikian sabda Nabi SAW, “Allah SWT mempunyai tujuh puluh ribu hijab (tirai penutup) cahaya dan kegelapan. Seandainya Ia menyibakkannya niscaya cahaya-cahaya wajahNya akan membakar siapa saja yang memandangnya”.

Menurut Al-Ghazali, sungguh, dengan mengajukan permintaan itu anda telah mendaki persada tinggi yang teramat sukar. Demikian tingginya sehingga puncaknya tak dapat dijangkau oleh mata pemandang. Anda telah mengetuk pintu terkunci yang hanya dapat terbuka bagi para ilmuwan yang mendalam ilmunya dan kuat pijakannya. Bahwa untuk itu,tidak semua rahasia boleh diungkapkan dan disiarkan. Bahwa tidak setiap hakikat boleh dikemukakan dan diterangkan. Bahkan ‘hati orang-orang merdeka adalah kuburan berbagai rahasia’. Sebagaimana seorang yang arif dan sufi, “Mengungkapkan rahasia Ilahi adalah kekufuran”. Juga sabda Rasulullah SAW, “Di antara berbagai ilmu ada yang tersembunyi rapat, tidak seorang pun mengetahuinya kecuali para ‘alim billah (yang beroleh ilmu tentang Allah, dengan perkenan-Nya). Apabila mereka menuturkannya tidak seorangpun akan menyanggahnya kecuali orang yang terkelabui”.

Berita Lainnya
1 dari 154
Loading...

Demikianlah Al-Ghazali menjelaskan persiapan bagi yang ingin mengetahui makna An-Nuur ayat 35. Bahwa menurut Emha Bintang, yang juga berkonsultasi dengan Cakrawala Bintang, juga mengikuti diskusi itu Numadina Milenia, kakek Lahmudin dan nenek Nurhayati. Tuganal dan Tuhalus, diang, dan inteng. Dengan keahlian dan bidang profesionalisme masing-masing. Seperi bayang-bayang atau wayang, di mana ada semar, dengan anaknya bagong, petruk dan garing. Untuk mencapai sebuah logika alam semesta dan syurgaNya Allah SWT. pasti melihat bayang-bayang itu di muka bumi ini dengan sebagai Rasul terakhir. Di mana Nur Muhammad, bagi Datu Hamid Habulung, merupakan penguasa yang bertugas untuk mengatur alam semesta, sebelum hari pengadilan dan kebangkitan terlaksana.

Emha Bintang menjelaskan jika Al-Ghazali, mengajarkan bahwa pertama An-Nur (cahaya) yang sebenarnya hanyalah Allah SWT. kedua, sebutan cahaya bagi selain Dia hanyalah Majaz (kiasan), tak ada Wujud sebenarnya. Untuk selanjutnya makna cahaya, adalah menurut orang awam, dan orang khusus dan ketiga khusus bil khusus. Karena itu bagi yang khusus adalah bahwa Allah SWT adalah ‘Cahaya tertinggi dan terakhir’ dan bahwa Ia adalah cahaya yang hakiki dan sebenarnya, tiada sekutu bagiNya.

Karena itu bagi orang awam bahwa cahaya menunjuk kepada sesuatu yang tampak, disamping itu seuatu yang tampak adalah sesuatu yang nisbi. tampak karena pandangan indra, yaitu indra penglihatan. Maka ada tiga bentuk penglihatan mata. Pertama adalah, yang tidak tampak sendirinya, seperti benda-benda yang gelap. Kedua, yang tampak dengan sendirinya. Namun tidak dapat menampakkan sesuatu lainnya. Seperti bintang dan zat api apabila tidak dalam keadaan menala. Ketiga, yang tampak dengan sendirinya dan menampakkan benda-benda lainnya, misalnya matahari, bulan, api yang menyala dan pelita.

Maka dengan demikian, adapun ‘cahaya’ ialah nama yang diberikan untuk bagian ketiga ini dan adakalanya untuk sesuatu yang melimpah (memancar) dari benda-benda bersinar ke atas permukaan benda-benda padat. Di dalam arti, bahwa kesimpulannya cahaya adalah sebutan sesuatu yang tampak dengan sendirinya ataupun yang membuat tampak benda lainnya, seperti matahari. Bahwa menurut Al-Ghazali, inilah definisi dan hakikat ‘cahaya’ dalam makna dan pengertian yang pertama atau orang awam.

Akal pikiran adalah cahaya yang dapat menjangkau jauh kedepan, dengan mampunya akal pikiran menrima ilmu pengetahuan tentang sesuatu. Adalah sesuatu yang nampak kecil seperti ‘Bintang’ di dalam pandangan mata, ternyata akal pikiran berdasarkan ilmu pengetahuan bahwa lebih besar dari matahari atau bumi. karena itu pandangan mata seringkali tertipu dengan idntitas benda sebenarnya.

Alqur’an adalah cahaya dari akal pikiran. Di mana apa yang dihalalkan Alqur’an dan cara kebersihan sebelum shalat dengan berwudhu, adalah sebuah cara untuk menghilangkan virus seperti korona dan virus flu burung dan lainnya. Karena virus tidak tahan dengan air dan kebersihan, serta hidup di Indonesia dengan pancaran matahari yang bersinar. Bahwa Al-Qur’an melarang hubungan sesama jenis, atau LGBT, akan melahirkan penyakit aid dan penyakit yang tidak ada obatnya. Karena itulah penyimpangan terjadi, karena tidak mengikuti Alqur’an. Alqur’an adalah cahaya yang merupakan kalam Tuhan, cahaya langit dan bumi. Pemimpin dunia wajib berdasarkan Alqur’an.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya