Anggaran 2019 tak Terserap Rp 5 Trilyun Lebih

Banjarmasin, KP – Realisasi pendapatan dengan realisasi belanja daerah Provinsi Kalimantan Selatan pada tahun anggaran 2019 terdapat selisih yang cukup besar. Kementerian Keuangan RI Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Selatan mencatat, selisih realisasi pendapatan dan belanja di 2019 mencapai Rp 5,29 trilyun.

Selisih ini cukup menjadi perhatian Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalsel. Pasalnya, duit sebanyak itu seharusnya dapat dimanfaatkan untuk pembiayaan pembangunan guna mendorong pertumbuhan ekonomi Kalsel.

Lebih rinci, belanja negara di Kalsel pada tahun 2019 dialokasikan sebesar Rp32,13 trilyun. Terdiri dari belanja Kementerian Negara/Lembaga (K/L) Rp9,8 trilyun dan Transfer Keuangan dan Dana Desa (TKDD) Rp22,3 trilyun. Realisasi belanja sebesar Rp29,4 trilyun atau 91.52 persen yang terdiri dari K/L Rp9,17 trilyun dan TKDD 20,22 trilyun.

Pendapatan pemerintah pusat di Kalsel dari target Rp11,06 trilyun terdiri dari target pajak Rp10,13 trilyun dan Bukan Pajak (PNBP) Rp929 miliar terealisasi sebesar Rp10,69 trilyun atau 96.67 persen, dengan rincian realisasi pajak Rp9,52 trilyun atau 93.96 persen dan PNBP Rp1,17 trilyun atau 126,2 persen.

Pada belanja pemerintah daerah secara agregat di Kalsel tahun anggaran 2019 dari pagu Rp24,53 trilyun realisasi sebesar Rp21,95 trilyun atau 89,47 persen, sementara itu realisasi pendapatan APBD sebesar Rp27,24 trilyun atau 116,48 persen dari target sebesar Rp23,39 trilyun.

Berita Lainnya
1 dari 458
Loading...

Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalimantan Selatan, Usdek Rahyono menjelaskan, salah satu penyebab adanya selisih ini dikarenakan Pemprov Kalsel ketergantungan terhadap sektor pertambangan. Sementara nilai ekonominya tergantung dari harga di pasar dunia.

“Tidak terserap anggaran di 2019 memang karena kinerja dalam sektor pertambangan atau kinerja dalam perekonomian untuk komoditas itu menurun, berakibat pada dan bagi hasil yang ditetapkan target-targetnya tak tercapai sehingga bagi hasil pencapaianya hanya 79 persen,” ucapnya usai Seminar Kebijakan Fiskal Regional 2019 Kalsel di General Building SAC, Kampus Universitas Lambung Mangkurat, Selasa (10/3/2020).

Nah, berdasar pertimbangan, dan sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kalsel, perlu adanya terobosan untuk swithing atau pengalihan ekonomi ke sektor lainnya.

Usdek melanjutkan melalui Seminar Kebijakan Fiskal dengan mengusung tema “Bersama Berpatisipasi Dalam Fiskal Pemerintah untuk Mendukung Indonesia Maju” yang menghadirkan pembicara dari berbagai pihak seperti, Prof. Muhammad Handry Imansyah, MAM, PhD dari FEB ULM, Andriansyah, P.hD dari Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan dan Giri Susilo, M.Si dari Kanwil Ditjen Perbendaharaan Kalsel tersebut juga diharapkan bisa menghasilkan rekomendasi, masukan serta saran yang bermanfaat untuk pengambilan kebijakan fiskal untuk Kalsel di masa mendatang.

“Contohnya didaerah ini cocoknya dikembangkan seperti sekarang kan masih mengandalkan pertambangan ini harusnya pertambangan tak jadi prioritas lagi. Mungkin beralih ke pertanian atau mungkin ke industri pengolahan, dari kajian ini nanti diberikan masukkan kepada pemerintah daerah,” katanya. (sah/hif/K-1)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya