Membaca Ulang Wasiat Guru Sekumpul dalam Konteks Kekinian

Oleh : Taufikurrahman, S.Pd.I
Peminat Sosial Keagamaan di Banjarmasin

Wacana dan praktik keagamaan bangsa Indonesia akhir-akhir ini mengalami pergeseran ke arah yang lebih eksklusif. Sebagian pihak, baik karena denominasi agama atau fraksi politik, merasa diri paling benar sehingga menganggap kelompok yang lain salah. Pemahaman demikian menimbulkan terganggunya situasi jalinan sosial. Keharmonisan yang biasa dirasakan perlahan sirna terkikis egoisme dan sektarianisme.

Hal tersebut diperparah dengan kondisi sosial kemasyarakatan yang juga mengalami ketimpangan dan ketidakharmonisan. Dunia kita seakan berubah menjadi hutan belantara, di mana bahasa global kita adalah kekuatan besi dan baja. Bahasa bisnis kita adalah persaingan. Bahasa politik kita adalah penipuan. Bahasa sosial kita adalah pembunuhan dan bahasa jiwa kita adalah kesepian dan keterasingan.

Jika kita hubungkan, maka tidak perlu heran krisis bangsa yang berkepanjangan bermula dari krisis moralitas yang melanda hampir sebagian besar kita, yang telah lupa akan nilai-nilai spiritual dan ajaran yang bersumber dari Ilahi.

Demikian ini yang sebetulnya sudah diwanti-wanti oleh Almukarram KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau akrab kita sapa dengan Abah Guru Sekumpul, puluhan tahun silam dengan 10 wasiat yang ditinggalkan sebelum beliau wafat.

Kesepuluh wasiat dimaksud yakni: 1. Menghormati ulama; 2. Murah diri, murah hati, manis muka; 3. Memaafkan segala kesalahan orang lain; 4. Jangan bersifat tamak dan memakan harta riba; 5. Jangan menyakiti orang lain; 6. Jangan merasa baik dari orang lain; 7. Berpegang kepada Allah segala hajat yang dikehendaki; 8. Baik sangka terhadap muslim; 9. Banyak-banyak sabar apabila mendapat musibah, banyak-banyak syukur atas nikmat; 10. Tiap-tiap orang yang iri dengki atau adu asah jangan dilayani, serahkan segala sesuai kepada Allah (tawakkal).

Wasiat tersebut adalah bagian kearifan ulama kharismatik Martapura tersebut, dan ini mengisyaratkan agar warga Kalimantan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya agar mengamalkan dan membumikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sepuluh wasiat Abah Guru Sekumpul ini mengarahkan pada pandangan substansi beragama yang inklusif humanis profetik. Inklusif humanis profetik adalah sebuah konsep vertikal-horizontal, komprehensif amaliyah dari hablun minallah dan hablun minannas, dan ia lebih bersifat intrinsik dari kesadaran (consciousness) diri pribadi. 

Keseluruhan warisan wasiat tersebut saling terintegrasi satu dengan lainnya, sehingga selain sebagai khalifah fil ardh dan ibadullah, manusia juga sebagai ibadurrahman yang secara ritual dan sosial melakukan ibadah dengan penuh rasa cinta, baik interaksi dengan Allah, interaksi dengan sesama orang Islam, interaksi dengan sesama warga masyarakat, interaksi sesama manusia, hingga interaksinya dengan alam dengan segala isinya yang merupakan ciptaan Allah SWT.

Berita Lainnya
1 dari 151
Loading...

Sikap pola keagamaan yang inklusif humanis profetik bertujuan untuk menciptakan lingkungan beragama yang sehat dan dinamis, mampu menjadi pemersatu dan duta kedamaian di lingkungan masyarakat pluralistik Indonesia.

Wasiat ini diamalkan baik ketika bersentuhan dengan ras, etnis, kelas sosial, kelompok budaya, dan atau bahkan paham keagamaan yang berbeda.  Abah Guru Sekumpul dalam wasiatnya mengisyaratkan kepada jamaah dan seluruh masyarakat untuk menyadari secara penuh akan adanya sunatullah dalam keragaman pikiran, pendapat dan pemahaman. Semuanya adalah bagian dari fakta sosial yang tidak dapat dipungkiri.

Namun fakta sosial tersebut bisa disikapi dengan mengamalkan wasiat Abah Guru Sekumpul. Kesepuluh wasiat Abah Guru Sekumpul tersebut adalah amalan yang sangat mulia dalam mengantarkan kehidupan bermasyarakat menjadi aman, damai, tenteram dan sejahtera baik di dunia, terlebih di akhirat.

Sebuah untaian wasiat yang tepat untuk bangsa yang tengah diselimuti kekosongan jiwa, di mana kekerasan seolah menjadi keterampilan. Lagu kita adalah kebohongan dan penindasan, sehingga kemesraan dan kebahagiaan hidup menjadi benda mahal yang sulit didapatkan.

Wasiat penting ini harus dibaca ulang dan direaktualisasikan dalam konteks kekinian mengingat kondisi keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang digambarkan di atas.

Betapa indahnya senyum tulus, murah hati dan kasih sayang. Betapa bahagianya jika sikap ramah, saling memaafkan, tidak iri dengki dan tolong menolong menjadi kebiasaan. Hidup penuh makna dan berarti hanya akan kita temui jika kita dapat mensinergikan kekuatan kebaikan yang ada pada diri, bukan justru mengembangkan potensi buruk yang senantiasa dipelihara oleh nafsu setan yang mempunyai singgasana dalam diri kita.

Kini, wasiat yang disampaikan Abah Guru Sekumpul puluhan tahun silam terasa sangat aktual dan dalam maknanya. Meski dituturkan dalam bahasa yang sangat sederhana.

Sudah selayaknya, momentum Haul ke-15 Abah Guru Sekumpul dimaknai sebagai kegiatan akbar dengan spirit mendayagunakan wasiat ulama yang menjadi tuntunan dan teladan bagi masyarakat. Bukan sosok yang terlena oleh arus dominasi politik praktis, hingga lupa bahwa sisi keulamaannya perlahan terkikis oleh nuansa kehidupan duniawi.

Jadi, pertanyaan retorik akhir sebagai internalisasi diri bagi publik Banjar dan tanah air tercinta: Apakah kita mau turut serta mengamalkan warisan ajaran inklusif humanis profetik Abah Guru Sekumpul?

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya