Belajar Dari Corona

Oleh : H. Ahdiat Gazali Rahman
Pengamat Sosial, Tinggal Di Amuntai

Sejak munculnya Corona yangdimulai dari Negara Tirai Bambu China, tepatnya di Kota Wuhan hingga menjalar ke seluruh penjuru dunia, virus Corona datang tampa diundang, tak pernah memilih Negara yang dituju apakah negara maju, moderen, sedang, berkembang, menjangkiti manusia yang tinggal di negara yang agamis, sekuler, atheis, hingga komunis, mengorbankan mereka yang awam hingga pejabat negara, dari yang berpendidikan tinggi hingga mereka yang tak lulus sekolah dasar, menjelajah negara kaya, miskin, negara dengan politik yang mapan atau negara yang politiknya amburadul. Negara yang sok bersih penataa kota hingga negara yang dianggap kotor. Semua negara tersebut berpacu untuk mencari cara bagaimana bisa mengatasi penyebaran virus Corona, mencoba dengan berbagai teori, melibatkan berbagai ahli dunia, agar virus ini bisa henggang dari negerinya. Apa yang terjadi? Memang ada sedikit negara yang berhasil menangani termasuk di Wuhan sendiri, namun sampai tulisan ini dibuat, banyak negara yang belum mampu mengatasi, termasuk Negara Indonesia.

Berita Lainnya
1 dari 151
Loading...

Pelajaran Bagi Umat Manusia
Umat manusia selama ini selalu membanggakan kehidupan dunia, terlebih bagi mereka yang telah menguasi teknologi, seolah dunia mereka yang mengatur, alam mereka yang menentukan, jarak yang jauh seolah dekat, karena hasil teknologi, yang tersembunyi bisa Nampak, yang sukar menjadi mudah, yang rumit dan susah, menjadi enteng dan mudah, mereka seolah mengatur dunia, banyak di antara mereka yang lupa pada “Pencipta Alam” ini yang dengan mudah menentukan perjalanan dunia ini, dunia ini sebanarnya berada dalam gengaman Allah SWT, yang berlaku sekarang adalah kehendaknya, untuk membuktikan itu diawali dari wuhan, tak ada orang terhormat, cendekia dunia yang mampu melawan kodrat Nya, semoga dengan virus Corona ini mengambalikan hakikat hidup manusia, sebagai buah hasil ciptaan yang kuasa, menyadarkan manusia yang sangat lemah di hadapan Ilahi. Menyadarkan manusia bahwa dunia ini ada yang mengatur yakni pemilik alama semesta, yaitu Allah SWT.

Pelajaran bagi Tokoh Dunia.
Bagi tokoh dunia yang selama bangga dengan berbagai teori yang selalu mampu menjadikan sebuah Negara maju, mundur, modern, terkebalakang, menjadikan Negara stabil aman, sejahtera dan makmur, menurut mereka, teori mereka seolah paham baru yang kadang ingin mengeliminir agama, demi sebuah konsep untuk menjadi Negara maju, modern, aman dan sejahtera, dengan teori ahli dunia yang telah banyak mempengaruhi pikiran tokoh politik dunia, hingga mencoba mengambil, menerapkan, menyisipkan, dalam konsep mengatur negaranya, melupakan hakekatnya sebenarnya bahwa bagaimanapun baik sebuah teori jika teori itu bertentangan kehendak Allah SWT, teori akan gagal. Memang hal ini sering terjadi, namun mereka selalu mencoba dan mencoba dengan pengetahuannya, kegagalan kadang menyadarkan para tokoh pada Sang Khalik, yang menciptakan alam ini. Banyak juga tokoh akhirnya kembali ke jalan yang benar dengan mengakui adanya pencipta, dengan membuat teori sesuai dengan kodrat Ilahi.
Banyak tokoh dunia yang sombong, angkuh, sok kuasa, seolah melupakan sang Pencipta Alam ini, dengan berbagai konsep, yang benar menurut mereka, mereka tak pernah berpikir apakah tindakan mereka itu bertentangan, bahkan berlawanan dengan yang telah ditentukan oleh Allah SWT. (Sunnatullah), Namun karena kesombongan mereka berbuat sesukanya. Dengan virus Corona ini semoga menginsperasi mereka bahwa ternyta konsep, teori dan tindakan mereka selama ini, tak banyak manfaat, jika itu bertentangan dengan kehendak Allah SWT.

Bagi Bangsa Indonesia
Negara yang usianya mendekati 75 tahun ini, setelah datangnya Corona seolah menjadi luluh lentak, negeri yang semula dijuluki “Surqanya dunia” karena subur alam, indah laut, gunung dan lingkungan, menjadi magnet tersendiri bagi mereka yang ingin menikmati atau tinggal menetap di negeri ini. Namun kini seolah menjadi kota mati dimana mana mareka dihantui adanya rasa kurang aman dari penyebaran virus Corona, virus ini menyebar tanpa melihat warna kulit, kedudukan seseorang dalam masyarakat, agama yang dianut, status dalam keluarga, pangkat, jabatan, pendidikan, semua mereka dapat terjangkit virus ini. Semua daerah, semua wilayah, semua sektor berpikir, bertindak bagaimana agar virus ini jangan menyebar ke seluruh penjuru negeri.
Sama dengan Negara lain yang mencoba menerapkan sebuah kebijakan lewat sebuah himbauan, edaran, keputusan hingga memberikan sanksi pada mereka yang melanggar, yang dapat dianggap akan mempermudah menyebarkan virus Corona ini pada orang lain, sebuah perasaan untuk melindungi bangsa ini dari terjangkitnya virus ini pada orang lain, yang seharusnya dilindungi.
Usaha tersebut sebuah tindakan yang sangat mulia, tugas kemanusia yang diperlukan agar virus ini jangan menyebar luas keseluruh wilayah negari ini dan mengorbankan banyak anak negeri.
Para tokoh politik, pejabat Negara sibuk berpikir bagaimana agar virus corona ini jangan menyebara keseluruh anak negari, dengan berbagai kebijakan yang dianggap cocok dengan bangsa ini, sebab jika kita mencontoh beberapa Negara dunia yang melakukan “lockdown” tentu ini sebuah kesulitan bagi banyak warganegara kita, terutama warga miskin dan kehidupan mereka tergantung pada usaha diluar rumah, dengan memaksa warga Negara untuk tidak keluar rumah akan menyebabkan mereka mereka harus diberikan bekal kehidupan yang layak, agar mampu untuk bertahan menghidupi dirinya dan keluarganya dirumah.Apalagi jika merujuk pada kehendak pendiri bangsa ini yang termaktup dalam UUD 1945 sebagaimana bunyi : (1) Pasal 27 ayat 2 Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Jika dilakukan “Lock down” maka Negara harus mampu melaksanakan pasal tersebut maka sangat masuk akal jika Negara dan daerah hanya mengambil kebijakanpembatasan sosial berskala besar (PSBB). Salah satu bentuk pengetatan pengawasan warga yang akan dilakukan dengan pembutan beberaoa posko di beberapa sudut kota. “yang akan mengatur para warganagara masyarakat yang berada di luar rumah, agar tidak sebebas mungkin melakukan kegiatan, yang mungkin dapat menyebabkan berkembang dan berjangkitkan virus Corona pada warga masyarakat lainya, yang tentu dalam pelaksanaannya memerlukan kesabaran dari petugas. Keihlasan, keterpaksaan bagi warga masyarakat, untuk memenuhi keputusan itu, taat pada aturan kehidupan mereka akan terganggu, mereka tak mampu memenuhi kebutuhan primer mereka, melanggar aturan akan kena sangsi, atau bahkan terserang virus Corona, berbuah kematian, hal ini bak buah simalakama, seperti diutara seorang ibu yang berjualan baju yang tertangkap petugas ketika razia penegakan PSBB, si ibu dengan surat penuh haru sambal mengatakan “jika tetap di rumah kami mati kelaparan, di pasar katanya jika tertular virus juga, ibu memilih jualan. Walaupun ada virus Corona mengancam, tapi keluarga terhindar dari kematian kerana kelaparan”. Semoga jadi renungan

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya