Menengok Sisi Positif Covid-19

Oleh : Maulana Achmadi, S.Sos, MAP
A
sisten Ombudsman RI Perwakilan Kalsel

Beberapa bulan terakhir ini kita dikejutkan oleh sebuah penyakit yang menjadi wabah internasional. Wabah yang kemudian ditetapkan oleh WHO sebagaiPandemi, yakni Corona Virus Disease 2019, atau biasa disingkat Covid-19. Berdasarkan laman Covid-19.kemkes.go.id sebagai media informasi resmi terkini penyakit infeksi emerging di Indonesia, hingga 16 April 2020 pukul 16.30 WIB, situasi COVID-19secara global berdasarkan data WHO, kasus yang terkonfirmasi sudah hampir mencapai 2 juta orang. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari PHEOC Kemkes RI, yang dimuat di laman yang sama, sudah ada 5.516 kasus terkonfirmasi, 496 yang meninggal dunia, 548 yang sembuh serta 4.472 kasus dalam perawatan.

Diprediksi grafiknya masih terus naik, dan baru akan turun melandai setelah mencapai fase puncak. Melihat kondisi yang cukup genting dalam menghadapi Pandemi Covid-19, Pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan strategis, salah satunya dengan menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), yang sudah diterapkan di 11 Daerah, termasuk di Ibu Kota Negara, Provinsi DKI Jakarta. Hal ini cukup memukul perekonomian Indonesia secara luas, sektor UMKM dan swasta termasuk yang paling terdampak. Namun di sisi lain, berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah ternyata juga memunculkan beberapa sisi positif bagi masyarakat. Untuk itu, tidak ada salahnya jika kita menengok fenomena Covid-19 di Indonesia ini dari sudut pandang yang lain, yakni dari sisi positifnya. Pelayanan Publik Dari sisi pelayanan publik, terdapat beberapa dampak positif setelah munculnya Covid-19, antara lain:

munculnya berbagai kreatifitas dan inovasi penyelenggara pelayanan publik untuk tetap memberikan pelayanan melalui sistem online atau meminimalkan kontak langsung. Berbagai instansi di berbagai daerah berinovasi sedemikian rupa agar selama kantor pelayanan diliburkan sementara dari layanan tatap muka, masyarakat tetap dapat mengakses pelayanan publik tanpa melakukan kontak langsung atau setidaknya dapat meminimalisir kontak langsung dengan penyelenggara layanan. Akibatnya, pelayanan publik semakin mudah dan murah, karena dapat di akses dari rumah atau di mana saja, secara online.

Salah seorangwarga Banjarmasin sempat bercerita tentang pengalamannya ketika mengurus perubahan Kartu Keluarga, ternyata dapat dengan mudah diurus secara online melalui WA tanpa harus datang ke Disdukcapil, apalagi produk akhirnya (Kartu Keluarga baru) langsung dikirimkan ke alamat pemohon. Contoh lainnya di Kota Banjarmasin, saat ini Dinas Perdagangan dan Perindustrian, melalui program ‘Acil Asmah’, layanan jual beli produk pedagang di pasar tradisional milik pemerintah, secara online dan barangnya akan dikirim langsung ke alamat pembeli.

Dampak lainnya, diterapkannya pola kerja work from home selama waktu yang ditetapkan oleh pemerintah, seolah memaksa uji coba penerapan wacana yang sudah viral sejak sekitar akhir tahun 2019 lalu,bahwa Aparatur Sipil Negara (ASN) dapat bekerja di luar kantor, tidak harus selalu kerja kantoran.Pola kerja yang membuat ASN dapat bekerja dengan lebih fleksibel, dengan tidak diharuskan selalu ke kantor, sepertinya terwujud di masa terjadinya Covid-19 sekarang ini. Ketika banyak kantor dipaksa Work From Home (WFH), banyak posisi dan jabatan yang ternyata jenis pekerjaannya memang dapat dikerjakan dari rumah, atau setidaknya mengurangi kewajiban ke kantor.

Berita Lainnya

Tambahan Kasus Baru 55 Orang

1 dari 1.028
Loading...

Jika kelak setelah Covid-19 mereda, danhasil evaluasi oleh pemerintah terhadap penerapan WFH menunjukkan dampak positif, bukan tidak mungkin mekanisme WFH akan dapat dipermanenkan. Pendidikan Diliburkannya siswa dari kegiatan belajar mengajar secara tatap muka langsung, sebenarnya memaksimalkan kembali peranan orang tua dalam pendidikan anak. Memperkuat bounding antara orang tua dengan anak, mengembalikan fungsi keluarga kepada prinsip dasar bahwa keluarga sebagai madrasatul’ula.

Keluarga dan orang tua sebagai salah satu pemegang peranan penting dalam kesuksesan pendidikan selain sekolah dan guru. Penggunaan pola pembelajaran jarak jauh selama diliburkannya siswa akibat Covid-19, menuntut guru/dosen, siswa/mahasiswa dapat memaksimalkan teknologi untuk proses belajar mengajar dan menggunakan teknologi untuk hal yang tepat. Jika selama ini gadget hanya digunakan untuk telepon, bermedia sosial dan ‘ngegame’, maka di masa-masa ini dapat dimaksimalkan sebagai media pembelajaran. E-mail, aplikasi chating, dan e-learning lainnya biasa digunakan untuk menyampaikan materi pembelajaran serta berinteraksi secara online selama proses pembelajaran jarak jauh.

Selain itu,penggunaanmetodepembelajaranjarakjauhdi masa wabah corona juga memunculkan berbagai cara mengajar yang baru bagi tenaga pendidik. Ada yang menggunakan aplikasi video conference, atau bahkan mendadak dapat inspirasi menjadi youtuber yang khusus membahas suatu bidang keilmuan yang dikuasai dan selama ini biasanya hanya diajarkan secara offline. Beberapa sekolah bahkan tetap melaksanakan ujian secara online, siswa dapat mengerjakan di mana saja berada, dengan ditentukan waktu pengumpulan tugas atau ujiannya.

Kesehatan Bidang kesehatan merupakan salah satu bidang yang paling terdampak dan paling sibuk selama Pandemi Covid-19. Sisi positifnya, jika selama ini kesadaran masyarakat tentang cuci tangan masih relatif rendah, walaupun Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan sudah bersusah payah melakukan sosialisasi masif tentang edukasi cuci tangan pakai sabun, bahkan sudah ada tanggal peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia yang biasa diperingati setiap tanggal 15 Oktober, adanyaCovid-19 membuat masyarakat auto sadar terhadap pentingnya cuci tangan pakai sabun dengan benar.

Bahkan saat ini tempat cuci tangan atau handsanitizer sangat mudah ditemukan di berbagai fasilitas umum. Selain itu, masyarakat juga semakin meningkat kesadarannya terhadap resiko penularan penyakit. Biasanya ketika ada yang sakit, terutama jenis penyakit yang berpotensi menular, seperti flu, perusahaan atau instansitempatpegawai/karyawan bekerja akan sedikit acuh terhadap kondisi kesehatan pegawai/karyawannya, apakah pegawai/karyawan itu menggunakan masker atau tidak. Bahkan jika yang bersangkutan mengajukan izin sakit untuk tidak bekerja di hari tersebut, besar kemungkinan akan dianggap sebagai pegawai/karyawan yang malas atau terlalu berlebihan (lebay).

Padahal, jika yang bersangkutan memang sedang sakit yang berpotensi menularkan penyakit, sebenarnya mengistirahatkan pegawai/karyawan di rumah adalah pilihan yang bijak, karena hal tersebut berarti turut menjaga agar karyawan yang lain di kantor tidak berpotensi tertular. Beda halnya di masa-masa PandemiCovid-19, jika ada pegawai yang memiliki beberapa gejala flu ringan, bisa jadi pegawai tersebut akan ‘dipaksa’ untuk istirahat di rumah, karena dikhawatirkan terjangkit Covid-19.

Di masa-masa Pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, menjaga kondisi kesehatan dan terus waspada sangatlah diperlukan, tetapi ada hal penting lain yang juga perlu dijaga, yakni kesehatan mental dan berpikir positif. Semoga hal-hal positif selama terjadinya Covid-19 dapat terus bertahan walaupun nantinya Covid-19 sudah berhasil kita taklukkan, dan semoga para pejuang di garda depan penanganan Covid-19 selalu diberikan kesehatan, keselamatan, kekuatan dan musibah ini dapat segera berlalu. Aamiin.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya