Corona, Negara dan Syariat Islam

Oleh : Ummu Zubair
Pemerhati Masalah Sosial

Sebagaimana kita ketahui covid-19 sudah dinyatakan pandemi oleh WHO, karena sudah menjangkiti lebih dari 100 negara di dunia dan telah dilaporkan sebanyak 316.662 kasus di dunia serta lebih dari 13.000 orang telah meninggal dunia setelah terjangkit penyakit ini dan termasuk di dalamnya Indonesia. Di Indonesia sendiri, virus ini sdh tersebar di beberapa kota dan dinyatakan sebagai zona merah oleh masing-masing pemerintah daerah. (https://www.worldometers.info/coronavirus/per 21 Maret 2020.

Penyakit Covid-19 ini sendiri adalah sebuah penyakit yang disebabkan sebuah virus dan merupakan salah satu jenis virus korona yang baru ditemukan yang diketahui berasal dari hewan kemudian menginfeksi manusia. Seperti virus pada umumnya, dia memiliki predileksi yang spesifik pada manusia yaitu bagian organ paru sehingga yang terinfeksi virus ini akan mengalami gangguan pernafasan yang bisa mengakibatkan sesak nafas bahkan gagal nafas dan mengantarkan pada kematian. Virus ini belum diketahui obatnya dan terus dilakukan penelitian oleh para ahli sehingga virus ini ketika masuk ke dalam tubuh manusia reaksinya tergantung daya tahan tubuh masing-masing meskipun kita tahu ada orang-orang yang memiliki kerentanan dengan penyakit ini seperti pada orang yang berusia lanjut dan riwayat penyakit yang mempengaruhi keparahan penyakit ini.

Keberadaan virus yang menjadi pandemi saat ini, seharusnya membuka kesadaran bagi kita, terutama kaum muslim, ketika kita menyadari betapa kecilnya virus ini, namun mampu melumpuhkan sekian negara. Hal yang harus kita renungkan adalah siapa yang menciptakan dan memerintahkan virus ini untuk berkembang sedemikian pesat dan menjangkiti sekian banyak manusia hingga akhirnya meninggal. Tentu pertanyaan ini akan mamu dijawab secara cemerlang hanya dengan kacamata keimanan. Tidak ada satu pun peristiwa di dunia ini yang terjadi tanpa kehendak Allah SWT. Yang artinya, di sini kita melihat Allah sedang menunjukkan kepada manusia, bahwa sepandai dan sepintar apapun manusia, dia ini tidak kuasa ketika dihadapkan dengan kuasa-Nya. Makanya, ketika kemarin ada yang mengatakan konstitusi harus berada di atas kitab suci. Hari ini Allah memberi jawabannya dengan sangat gamblang bahwa tidak patut manusia sebagai ciptaannya bersikap sangat sombong terhadap aturan-aturan Allah yang sudah disebutkan dalam Alqur’an. Satu hal yang harus ditunjukkan pada umat, bahwa Allah menginginkan kita kembali pada aturannya dan tidak menyombongkan diri di hadapannya. Oleh karenanya patutlah kita meminta kepada Allah penuh kerendahan hati karena kita hanyalah ciptaannya dan makhluk yang sangat lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali Allah menolong kita dalam kondisi seperti ini.

Selain sikap pasrah yang kita tunjukkan, tentu kita harus melakukan ikhtiar. Jika kita saat ini merasa takut dengan adanya virus Corona bisa menjangkiti kita sama dengan seperti kita takut akan tertabrak mobil. Ketakutan ini bersifat manusiawi, namun kita bisa melakukan berbagai upaya agar kita tidak tertabrak mobil, seperti bejalan di pinggir atau mengikuti rambu-rambu lalu lintas yang sudah ditentukan. Begitu juga ketika mengatasi wabah virus Corona ini, tentu kita perlu melakukan berbagai upaya yang sesuai untuk menghindari virus Corona ini.

Berita Lainnya
1 dari 155
Loading...

Dalam Islam ada berbagai langkah komprehensif yang perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya wabah hingga bagaimana Islam mengatasi wabah ini jika terlanjur terjadi, baik dari sisi ikhtiar individu, masyarakat, sampai pada skala negara. Pertama dari aspek preventif. Islam adalah agama pencegahan. Islam mewajibkan kaum muslim untuk ber-ammar ma’ruf nahiy munkar.Yakni menyeru kepada kebaikan dan mencegah kepada kemunkaran. Pembinaan pola baku sikap dan perilaku sehat baik fisik, mental maupun sosial, pada dasarnya merupakan bagian dari pembinaan Islam itu sendiri. Dalam hal ini keimanan yang kuat dan ketakwaan menjadi keniscayaan. Islam memang telah memerintahkan kepada setiap orang untuk mempraktekan gaya hidup sehat, pola makan sehat dan berimbang serta perilaku dan etika makan. Misalnya diawali dengan makanan. Allah SWT telah berfirman: “Makanlah oleh kalian rezeki yang halal lagi baik yang telah Allah karuniakan kepada kalian”. (TQS. An-Nahl [16]: 114). Kebanyakan wabah penyakit menular biasanya ditularkan
oleh hewan. Islam telah melarang hewan apa saja yang tidak layak dimakan. Dan hewan apa saja yang halal dimakan. Apalagi sampai memakan makanan yang tidak layak dimakan, seperti kelelawar.

Upaya pencegahan yang berada pada area yang dikuasai seorang individu adalah dengan senantiasa menjaga sanitasi dengan sering mencuci tangan, menjaga kebersihan badan, tempat dan pakaian, menutup mulut dengan tangan atau baju saat bersin. Sungguh syariat Islam telah mengatur hal ini. Islam senantiasa menganjurkan muslimin menjaga kebersihan dan kesucian. Rasulullah SAW bersabda, “Bersuci itu separoh keimanan”. (HR. Muslim) 

Di samping menjaga kebersihan, upaya yang dapat dilakukan agar terhindar dari sakit corona adalah menjaga kebugaran tubuh. Sifat virus saat menyerang ia dapat mati ketika tubuh inang memiliki imunitas atau kekebalan tubuh yang tinggi. Imun akan kuat jika tubuh bugar. Oleh karenanya sangat dianjurkan untuk menjaga pola makan yang sehat, rajin berolah raga dan istirahat yang cukup ditambah mengkonsumsi asupan vitamin dapat meningkatkan kebugaran.Oleh karena itu, negara memiliki peran untuk selalu menjaga perilaku sehat warganya. Selain itu, pemerintah juga mengedukasi agar ketika terkena penyakit menular, disarankan menggunakan masker. Dan beberapa etika ketika sakit lainnya. Hal ini sangat membantu pemulihan wabah penyakit menular dengan cepat. Karena warga negara telah membangun sistem imun yang luar biasa melalui pola hidup sehat.

Adapun dari segi sarana dan prasarana kesehatan yang berkualitas hanya bisa direalisasikan jika didukung dengan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai serta sumber daya manusia yang profesional dan kompeten. Penyediaan semua itu menjadi tanggung jawab dan kewajiban negara. Karenanya negara wajib membangun berbagai rumah sakit, klinik, laboraturium medis, apotik, lembaga litbang kesehatan, sekolah kedokteran, apoteker, perawat, bidan serta sekolah kesehatan lainnya yang menghasilkan tenaga medis. Negara juga wajib mengadakan pabrik pabrik yang memproduksi peralatan medis dan obat-obatan, menyediakan SDM kesehatan baik dokter, apoteker, perawat, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan tenaga kesehatan. Pelayanan kesehatan harus diberikan secara gratis kepada rakyat baik kaya ataupun miskin tanpa diskriminasi baik agama, suku, warna kulit dan sebagainya. Pembiayaaan untuk semua itu diambil dari kas Baitul Mal, baik dari pos harta milik negara maupun milik umum.

Langkah berikut ketika terjadi wabah dalam suatu wilayah, dengan menerapkan karantina atau isolasi terhadap penderita. Sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Rasulullah pernah terjadi wabah kusta yang menular dan mematikan. Maka ketika itu Rasul memerintahkan untuk tidak dekat-dekat pada penderita kusta tersebut. Rasulullah juga pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya, jika sedang berada di tempat yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar. Beliau bersabda: “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah tersebut. Sebaliknya jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu”. (HR. Al-Bukhari). Dari hadits tersebut, maka negara Khilafah akan menerapkan kebijakan karantina dan isolasi khusus yang jauh dari pemukiman penduduk apabila terjadi wabah penyakit menular. Ketika diisolasi, penderita diperiksa secara detail. Lalu dilakukan langkah-langkah pengobatan dengan
pantauan ketat. Selama isolasi, diberikan petugas medis yang mumpuni dan mampu memberikan pengobatan yang tepat kepada penderita. Petugas isolasi diberikan pengamanan khusus agar tidak ikut tertular. Pemerintah pusat tetap memberikan pasokan bahan makanan kepada masyarakat yang terisolasi.

Maka dari ituPemerintah harusnya serius melindungi warganya dari ancaman virus corona. Sebagai pemimpin negara yang mayoritas penduduknya muslim. Pemerintah seyogjanya melirik bagaimana Islam mengatasi wabah penyakit menular. Karena Islam memiliki seperangkat solusi dalam mengatasi wabah pandemi. Islam selalu menunjukan keunggulannya sebagai agama sekaligus ideologi yang lengkap. Ia mengatur semua hal tak terkecuali di bidang kesehatan. Termasuk juga menutup kran-kran masuknya wisatawan asing terutama dari negara yang terkena wabah.

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya