Memprihatinkan, Tenaga Medis di Banjarmasin Hadapi Corona Pakai Jas Hujan Kresek

banjarmasin, KP – Kondisi tenaga medis di Puskesmas Banjarmasin sangat memprihatinkan. Mereka harus berhadapan dengan wabah virus mematikan Covid-19 hanya dengan Hazmat dari jas hujan kresek.

Lebih miris lagi, mereka juga harus membuat sendiri topi proteksi. Alat pelindung wajah itu mereka buat dari plastik mika yang kemudian diikat dengan gelang karet.

Tentu Alat Pelindung Diri (APD) yang digunakan tenaga medis ini sangat tak standar jika mengacu pada protokol kesehatan untuk penanganan Covid-19 alias virus corona.

Harusnya APD seperti Hazmat, masker N95, kacamata pengaman, sarung tangan, dan topi proteksi yang standar sudah mereka miliki saat ini.

Mengingat, Banjarmasin dikategorikan sebagai wilayah red zone di Kalsel, sebagai penyumbang terbanyak pasien positif terinfeksi corona.

Lebih serius lagi, baru-baru ini Banjarmasin juga dinyatakan sebagai salah satu wilayah transmisi lokal baru penyebaran Covid-19.

Pemko Banjarmasin sudah menyiapkan diri untuk menghadapi pandemi ini. Termasuk anggaran biaya penanganan Covid-19 ini. Jumlahnya pun tak sedikit.

Miliaran rupiah sudah dianggarkan, bahkan Pemko kembali berencana mengalihkan pos anggaran perjalanan dinas puluhan miliar untuk keperluan yang sama.

Duit itu termasuk untuk penyediaan APD bagi tenaga medis. Namun ketika fakta di lapangan seperti ini tentunya menjadi sesuatu hal yang sangat ironis.

Tenaga medis didorong sebagai garda terdepan menghadapi virus mematikan yang selalu meneror keselamatan jiwa mereka hanya dengan perlindungan diri seadanya.

Berita Lainnya
1 dari 1.033

Menanggapi hal ini, Walikota Banjarmasin H Ibnu Sina yang juga menjabat sebagai Ketua Gugus Tugas Covid-19 menjelaskan, bahwa Banjarmasin sudah mendapat jatah APD dari Pemprov Kalsel.

Akan tetapi yang menjadi kendala jatah yang diberikan terbatas sehingga keperluan untuk tenaga medis di Puskesmas masih belum bisa terpenuhi.

“Kan kita dapat kiriman juga terbatas, termasuk alat Ravid Test,” ucapnya.

Selain itu, Pemko juga sebenarnya sudah memesan APD dari anggaran dana tak terduga yang sudah disiapkan. Akan tetapi lagi-lagi ter kendala lantaran barang tersebut saat ini sedang menjadi rebutan di semua daerah di Indonesia.

Kemudian juga, keterlambatan datangnya pesanan juga berhubungan dengan terhambatnya jalur pengiriman melalui udara akibat pandemi virus corona.

“APD ini sudah kita pesan kemudian ketersediaan suplainya kan harus dari Jawa. Sementara terkendala penerbangan. Kemudian seluruh Indonesia juga berebut barang ini,” jelasnya.

Ibnu pun mengungkap, bahwa APD yang sudah dipesan itu akan datang pekan depan. Sehingga untuk menunggu itu tenaga medis ini diperlakukan menggunakan pelindung diri yang mereka miliki untuk sementara waktu.

“Kemudian apa yang kita bisa lakukan barang sudah dipesan kemudian seminggu lagi baru datang. Kemudian apa yang bisa kita lakukan sementara gunakanlah apa yang bisa digunakan untuk melindungi diri,” katanya.

Selain itu, Pemko juga akan mendapat bantuan APD dari para relawan dalam waktu dekat ini. Sehingga, bila sudah diserahkan maka ia ingin agar secepatnya didistribusikan kepada tenaga medis yang sangat memerlukan baik di Puskesmas maupun di rumah sakit.

“Karena mereka inilah yang berhadapan langsung dengan pasien. Yang mereka tak tau apakah positif atau negatif, justru jangan sampai garda terdepan melawan Covid-19 ini bertumbangan sebelum waktunya. Nah ini yang kita tak ingin perawat dokter terinfeksi karena APD yang tak memadai,” pungkasnya. (sah/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya