Solusi Cerdas Swabelajar Jarak Jauh Masa Pandemik Covid-19

Oleh : Suriani,SPd
Guru Inti Mapel IPS SMPN 1 Karang Bintang

Merebaknya penyebaran virus covid-19 (Corona) secara cepat dan masif di 204 negara, membuat hampir semua sendi kehidupan luluh lantak. Di Indonesia per tanggal 31 Maret 2020 mencapai 1.528 kasus terkonfirmasi, meninggal 136 orang penderita. PBB melalui WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) memaklumatkan sebagai pandemi global dan diperlukan upaya pencegahan yang sistematis, kompak dan terintegrasi dengan semua elemen baik pemerintah, badan swasta dan khalayak umum. Sektor industri dan manufaktur, sektor pariwisata, sektor industri keuangan dan pasar modal, sektor perdagangan, sektor transportasi, dan banyak lagi sektor lainnya pasti mengalami tren perkembangan yang negatif. Tak terkecuali bidang pendidikan mengalami dampak serupa gara-gara virus Corona.

Kebijakan pendidikan di Indonesia mengalami perubahan yang sangat cepat dalam merespon keadaan di situasi sulit wabah Corona ini. Kemendikbud dalam beberapa minggu terakhir telah merilis beberapa kebijakan terkait virus Corona, berupa peraturan kementrian (Permen), seperti Permen Peniadaan UN/UASBN, penundaan pelaksanaan KSN (Kompetisi Siswa Nasional), termasuk pengalihan/pengaturan cara pengajaran klasikal ke moda daring, semua karena gara-gara virus Corona, fenomena-fenomena tersebut menarik untuk dicermati.

Selaku Pendidik penulis tertarik untuk mencermati dampak virus Corona dalam dunia pendidikan, khususnya membahas cara pembelajaran dari klasikal ke model moda daring dihubungkan dengan perilaku orangtua siswa dalam membimbing anaknya di rumah. Kalender pendidikan yang telah disusun sedapat mungkin dilaksanakan sesuai jadwal, sedikit saja even yang tak dapat dilaksanakanya itu UN dan UASBN. Kedua even ini terpaksa dibatalkan demi keselamatan bangsa dan Negara di bidang kesehatan. Siapa pun kita pasti sependapat bahwa kesehatan lebih penting daripada apa pun.

Menurut pengamatan penulis peristiwa unik yang terjadi selama diberlakukannya pembelajaran jarak jauh berbasis moda daring. Peserta didik dan guru dilarang bertatap muka demi mengantisipasi atau memutus mata rantai pandemi virus Corona. Dari segi penguatan tanggungjawab pendidikan pembelajaran moda daring dengan syarat peserta didik harus di rumah membawa hikmah yang cukup besar. Yakni meningkatnya peran serta orang tuasiswadalampenyelenggaraanpendidikan. Ada tiga unsur yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan pendidikan di Indonesia, yakni pemerintah, masyarakat dan orang tua siswa. Siapakah stake holder terpenting dalam pendidikan? Tak lain adalah orang tua.

Keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di kabupaten/kota untuk merumahkan dimulai tanggal 18 Maret sampai dengan 4 April 2020. Meski pun tidak berlaku sama, setidaknya sekitar tanggal tersebut mulai diperlakukan pembelajaran moda daring. Minggu pertama berlakunya kebijakan hanya siswa saja yang dirumahkan, guru wajib hadir di sekolah untuk memberi materi sesuai jadwal masing-masing. Seminggu berjalan ternyata terbit lagi kebijakan bahwa guru juga harus di rumahkan, namun kegiatan Proses Belajar Mengajar (PBM) tidak boleh terganggu.

Berita Lainnya

Penggunaan Anggaran dalam Bayangan Covid-19

Haul Pahlawan Pangeran Antasari ke-158

1 dari 152
Loading...

Guru diminta membuat program pengajaran dengan moda daring dan harus di-share kepada peserta didik, baik melalui aplikasi Whatsapp, Google Class Room, Ruang Guru, Rumah Belajar, Zenius dan aplikasi lain yang sejenisnya. Demi menyukseskan PBM jarak jauh ini. Beberapa provider/penyelenggara pendidikan non formal berbayar menggratiskan programnya, seperti Ruang Guru dan Zenius selama waktu tertentu. Termasuk provider bidang telekomunikasi seperti Telkomsel dan Indosat sebasar 30 GB. Intinya guru dan siswa tetap berinteraksi baik dengan live streaming, video call, rekaman video dan lain-lain secara aman dan nyaman.

Berbagai komentar bermunculan terkait pelaksanaan pembelajaran dengan moda daring ini. Tidak sedikit siswa yang mengeluh beratnya menyelesaikan tugas. Inti keberatan bukan pada materi, sesuai arahan pihak berwenang guru sedikit mungkin membebani siswa dengan beban yang berat. Umumnya keluhan ditujukan kepada orangtuanya, mereka komplain kepada orang tuanya, kebanyakan keluhan bahwa orang tua mereka lebih kejam daripada guru di sekolahnya. Ada-ada saja keluhan anak didik kita, “Lebih baik turun ke sekolah dengan resiko kena virus Corona daripada dibimbing mama yang nggak pantas jadi guru? Lebih kejam daripada guru!” Keluhan siswa ini mengelitik tapi juga sekaligus menjadi bahan renungan bahwa perlunya orang tua menyadari apa itu pendampingan dan apa itu pengasuhan? Pertanyaannya benarkah peran orang sebagai pendampingan? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pendampingan memiliki arti; proses, cara, perbuatan mendampingi. Jika diperluas pendampingan dimulai dari proses, dan diketahui cara bagaimana mendampingi anak, tentu tak sesederhana yang dibayangkan.

Pendampingan menurut ilmu psikologi anak dideskripsikan sebagai upaya yang terus menerus (berkelanjutan) dan sistematis dalam menfasilitasi individu/kelompok/komunitas anak-anak untuk mengembangkan diri mereka, memberikan keterampilan dalam mengatasi permasalahan dan membantu menyiapkan kemampuan-kemampuan dan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan untuk masa depan mereka dan juga individu/kelompok/komunitas orang dewasa untuk membantu mereka menciptakan lingkungan yang mendukung dan menguatkan bagi anak. (Yayasan Pulih, 2011). Jika sependapat dengan definisi ini siapa yang disebut pendamping? Tidak lain adalah guru, bukan orang tua siswa. Hampir sama dengan pengertian fasilitator, yaitu seseorang yang melakukan fasilitasi, yakni membantu mengelola suatu proses. Kata kunci pendampingan adalah proses yang sistematis, apakah orangtua siswa dapat melakukan secara sistematis. Belum bisakan? Umumnya orang tua diperlukan secara insidentil dalam PBM anaknya.

Lantas peran orang disebut apa? Kata tepatnya adalah pengasuhan (parenting) itulah peran orangtua siswa dalam dunia pendidikan. Definisi pengasuhan menurut Masud Hoghughi (Direktur Aycliffe Centre for Children, County Durham) merupakan hubungan antara orang tua dan anak yang multi dimensi dapat terus berkembang. Mencakup beragam aktifitas dengan tujuan : anak mampu berkembang secara optimal dan dapat bertahan hidup dengan baik. Oleh karenanya pengasuhan meliputi pengasuhan fisik, pengasuhan emosi dan pengasuhan sosial. (Yayasan Pusat Kemandirian Anak,2018) Kembali kepada masalah banyaknya keluhan siswa dalam menyelesaikan tugas mandiri belajar (swabelajar) di rumah. Dalam pengasuhan putra-putrinya diharapkan orang tua siswa memahami peran pengasuhan. Ada baiknya membaca dan mempelajari dahulu ilmu pengasuhan anak. Dengan harapan agar pengasuhan anak dapat mencapai tujuan yang baik yakni anak dapat berkembang secara optimal. Tak dibenarkan adanya tindakan kekerasan. Ada dua jenis kekerasan, yakni kekerasan fisik dan kekerasan verbal. Kedua jenis kekerasan ini sama berbahayanya. Dalam berbagai sudut pandang, baik pendidikan, psikologi dan hukum tidak dibenarkan membimbing anak dengan kekerasan ada didalamnya.

Dalam teori pendidikan pengasuhan yang dilakukan oleh orang tuasiswa sangat strategis perannya. Setiap anak memiliki cita-cita di masa depannya. Guru sebagai pendamping (fasilitator) yang baik biasanya sebelum memulai pelajaran di kelas mengetahui dahulu cita-cita anak didiknya. Sehingga guru sebagai pendamping memfasilitasi dengan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan di kelas.

Di rumah orang tua sebagai pengasuh memberikan jalan untuk mengatasi permasalahan dalam swabelajar dan membantu menyiapkan kemampuan-kemampuan dan keterampilan-keterampilan yang dibutuhkan. Termasuk memberikan alternatif pendampingan tambahan seperti memfasilitasi putra-putrinya pada lembaga pendidikan non formal, manfaatkan bimbingan belajar gratis Ruang Guru, Zenius dan Rumah Belajar. Untuk Ruang Guru dan Zenius unduh aplikasi. Ikuti langkah-langkah pembukaan akun. Buka beranda aplikasi. Cari materi yang dibutuhkan anak, tersedia berbagai macam pilihan belajar, live streaming, video, dan lain-lain. Tujuannya tidak tersesat tentukan topik atau materi pokok, silakan berselancar. Akan tersedia contoh soal dan penyelesaiannya, mudah bukan?

Benefit selanjutnya, di situasi saat ini sangat kondusif untuk memperbaiki kualitas pengasuhan anak, jangan mengambil keputusan sendiri jika memang diperlukan hubungi guru pemberi pelajaran bila memang memerlukan bantuan. Tujuannya agar terdapat kesesuaian apa yang diharapkan sekolah dengan harapan orang tuanya. Sehingga musibah dampak virus Corona dapat berubah menjadi berkah untuk keluarga. Dapat mengasuh anak dengan baik, membangun hubungan personal dengan anak lebih ekslusif. Dapat mengarahkan gawai sebagai alat Bantu swabelajar anak, membuat anak betah di rumah dan berkomunikasi dengan baik. Seperti prinsip Baiti Jannati (rumahku surgaku). Semoga!

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya