Perkara Penggelapan Motor Pelakunya Tak Terungkap, si Panadah yang ‘Diseret’ ke Pengadilan

185

Banjarmasin, KP – Jadi dipertanyakan atas perkara penggelapan sepeda motor, karena pelakunya tak terungkap, malah si panadah yang ‘diseret’ (diajukan,red) dan dimejahijaukan di Pengadilan Negeri (PN) Banjarmasin, Kamis (29/05/2020).

Berkas dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Mashuri SH dalam persidangan dipimpin majelis hakim Aris Bawono Langgeng SH MH ini, menuding terdakwa Dianto (32), warga Jalan Kasih Dangsanak, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanah Laut, diduga melakukan penadahan sebagaimana diatur Pasal 480 KUHP, dinilai penasihat hukum, cacat hukum.

“Dalam kasus tersebut perkara awalnya belum terungkap, yakni Pasal 372 KUHP, kasus dugaan penggelepan sepeda motor sebagaimana dilaporkan korban Hariono ke pihak kepolisian,” kata Krisna Dewa SH, kepada wartawan usai persidangan, yang beragendakan keterangan saksi pelapor dan saski dari pihak kepolisian Polsek Banjarmasin Tengah.

Krisna Dewa SH lebih lanjut mengatakan, seharusnya dibuktikan dulu kasus penggelepannya, termasuk para pelaku penggelapannya harus ditangkap.

“Tapi dalam hal ini, penyidik langsung menangkap Dianto atas tudingan penadah,” ujarnya lagi.

Secara kronologis dijelaskan, awalnya sepeda motor korban jenis Honda Vario bernomor polisi DA 6630 I, dipinjam wanita bernama Ida bersama suaminya atas nama Otot. Kemudian oleh keduanya, sepeda motor tersebut dibawa ke Kabupaten Tapin. Sesampai di Tapin, keduanya kemudian menyuruh seorang pria bernama Anang, yang merupakan keluarga dari Otot, untuk menawarkan sepeda motor tersebut kepada Nopriandi.

Berita Lainnya

Bocah ‘Lawan’ Perampas HP Berkedok Ojol

Sembilan Motor Balapan Liar Terjaring

Loading...

Namun, oleh Nopriandi sepeda motor itu justru ditawarkan kepada terdakwa Dianto seharga Rp2,7 juta.

Tapi sebelumnya diminta dilebihkan sebesar Rp2,9 juta, untuk keuntungan bagi Nopriandi.

Dalam persidangan kemarin, saksi korban Hariono mengaku sepeda motor jenis Honda Vario miliknya pertama kali dipinjam temannya bernama Ida pada 27 Januari 2020, dengan STNK yang kebetulan sudah tergantung dikunci kontak.

Setelah ditunggu satu hari atau 1 x24 jam, sepeda motor tidak datang, korban kemudian melaporkan kasusnya ke Polsek Banjarmasin Tengah.

Kemudian, sekitar 12 hari kemudian, ia dapat kabar dari kepolisian kalau kendaraan miliknya sudah ditemukan, namun tidak diberitahu di mana sepeda motor tersebut ditemukan.

“Saya tidak dikasih tahu tempat ditemukannya sepeda motor tersebut,”aku saksi. (K-2)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya