Penjual Bambu Terpukul Pandemi, 17 Agustus Diharapkan Jadi Berkah

Kondisi penjualan bambu saat ini sedang seret-seretnya dan pedagang bambu pun ikut  terpukul akibat pandemi

BANJARMASIN, KP – Matahari sedang terik-teriknya. Persis di atas ubun-ubun. Saat itu Supian sedang sibuk menyelesaikan aktivitasnya. Bambu yang berserakan di atas rakit harus segera dirapikan agar tak hanyut ke sungai.

Ya, Supian merupakan salah seorang penjual bambu di kawasan Sungai Baru, atau sering disebut Kampung Ketupat. Bambu berbentuk rakit itu biasanya disandarkan di siring. Lebih tampak jika dilihat di atas Jembatan Dewi.

Saat dijumpai, bungsu dari empat bersaudara ini mengaku kondisi penjualan bambu saat ini sedang seret-seretnya. Perdagangan sektor ini juga ikut  terpukul akibat pandemi. Omset penjualan menurun drastis dibanding sebelum pandemi.

“Sebelum CoVID-19 orderan bisa sampai 100 batang. Sekarang paking 10 sampai 20 batang saja. Itupun susahnya minta ampun,” keluh Supian saat dijumpai, Minggu (19/07/2020) siang.

Bambu-bambu ini umumnya digunakan untuk menopang para pekerja bangunan guna membangun gedung, atau setidaknya pengecatan yang memerlukan bambu tak sedikit.

Namun sejak pandemi terjadi, proyek pembangunan pun ikut tergerus lantaran ekonomi yang merosot tajam. Otomatis pembelian bambu ikut terseret. “Paling terasa saat PSBB. Tak ada pembeli sama sekali,” bebernya.

Supian mengungkapkan, lantaran pembelian dalam jumlah banyak jarang ditemui, saat ini yang dirinya harakan hanya bisa berharap kepada pembeli biasa.

Sebab, meski batangan bambu umumnya digunakan oleh pekerja bangunan, bukan berarti tak dapat digunakan untuk keperluan lain. Contoh untuk kurungan unggas, membuat rangka layang-layang, atau mendirikan umbul-umbul.

Berita Lainnya
1 dari 1.439
Loading...

Contoh terakhir adalah harapan besar Supian untuk menghabiskan tiga rakit bambu miliknya yang saat ini masih tersisa. Peringatan HUT RI pada 17 Agustus mendatang menjadi harapan besar agar bambu yang tersisa bisa ludes terjual untuk keperluan umbul-umbul.

“Biasanya akhir Juli mulai ramai pembeli. Sehari, biasanya bisa laku 400 batang sehari. Semoga saja tak terjadi kendala,” harapnya.

Lantas berapa harga bambu per batangnya? Supian mengungkapkan, harga bambu yang dia jubal bervariatif, tergantung besar dan ukuran panjangnya. 

Untuk bambu yang biasanya digunakan para pekerja bangunan rata-rata belasan meter. Dibandrol dengan harga Rp25 ribu per batangnya.

Sedangkan untuk ukuran kecil yang panjangnya lima sampai tujuh meter, dijual dari harga Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per batangnya.

Bambu-bambu yang dijual Supian, tidak diambil di Banjarmasin. Melainkan dari kawasan Hulu Sungai. Tepatnya, di Kandangan. Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

“Perlu empat hari empat malam untuk sampai ke sini. Diangkut menggunakan perahu, melalui jalur sungai,” jelasnya.

Datang ke Banjarmasin, bambu-bambu sudah terikat tali dan berbentuk rakit. Supian, biasanya membeli sebanyak enam rakit. Dalam satu rakit, terdiri dari 2.000 batang bambu.

“Ketika digunakan, bambu bisa bertahan hingga dua bulan. Pembeli terjauh saya saat ini, baru wilayah Kalimantan tengah,” pungkasnya. (sah/K-3)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya