Siap-siap Bakal Numpuk Lagi

Banjarmasin, KP – Pemko Banjarmasin telah memutuskan untuk menghentikan swab massal. Swab hanya dilakukan secara bertahap di puskesmas. Alasannya karena banyak penumpukan hasil sampel uji yang belum keluar. 

Data terakhir yang disampaikan Dinas Kesehatan Banjarmasin tercatat ada sekitar 500 spesimen yang masih belum keluar.

Namun, belakang rencana mengurangi penumpukan itu bakal sulit dilakukan. Menyusul adanya rencana swab massal yang dilakukan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sebanyak 10 ribu dalam waktu dekat ini.

Walikota Banjarmasin Ibnu Sina mengaku sudah berkoordinasi dengan Pemprov terkait rencana swab massal tersebut. Meski masih belum diketahui kapan akan dilakukan, Ibnu pun mengaku menyambut baik dengan rencana ini.

Meski begitu, menurutnya swab masal hendak dilakukan dengan ketentuan yang berlaku, serta perlu adanya pertimbangan agar pelaksanaan berjalan efektif dan efisien.

“Intinya mendukung. Tapi dilihat juga jumlah populasi sesuai anjuran pakar bahwa satu persen dari jumlah populasi penduduk. Juga dilihat daerah mana yang belum melaksanakan, tetap memperhatikan aspek efesiensi dan tepat sasaran. Kita nunggu instruksi Provinsi kapan mereka melaksanakan, kita siap saja,” ujarnya di balai kota, Jumat (24/07/2020).

Menurutnya, sesuai buku pedoman kelima dari Kementerian Kesehatan RI bahwa, upaya tracking dan skrining melalui swab hanya untuk kategori suspek, probabel dan kontak erat.

Berita Lainnya
1 dari 1.390
Loading...

Sementara di Banjarmasin tercatat warga yang masuk kategori tersebut ada sebanyak 434 orang. Artinya merekalah yang akan diusulkan untuk masuk dalam swab masal nanti.

“Swab itu untuk tracking dan skrining probabel suspek, dan kontak erat. Di Banjarmasin jumlahnya ada 434. Ini yang akan kami ajukan ke provinsi,” imbuhnya.

Meski diketahui Banjarmasin merupakan daerah yang memiliki kasus tertinggi CoVID-19. Ibnu agak keberatan jika swab massal dilakukan secara acak. Dan bisa semakin banyak warga yang diswab.

Alasannya tak mau dilakukan demikian lantaran itu bakal mengakibatkan antrian panjang untuk menunggu hasil swab-nya keluar. “Tak boleh kemudian  swab tanpa mengikuti ketentuan dan meteorologi. Nanti tiba-tiba ini secara acak. Jadi sesuai ketentuan itu saja,” harapnya.

Dibeberkan Ibnu, hingga saat ini saja warga Banjarmasin yang sudah menjalani rapid test sudah mencapai 11 ribu lebih. Kemudian untuk swab hampir mencapai 4 ribu.

“Ini kan banyak sekali. Tapi hasilnya memang belum semua keluar. Artinya tingkat kecepatannya. Terakhir ini kan paling sebentar 10 hari,” bebernya.

Lambatnya diketahui hasil swab memang menjadi persoalan yang dihadapi saat ini. Sehingga Pemko pun berinisiatif untuk membeli alat Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Yang kita inginkan kecepatan. Kalau bisa satu dua hari sudah keluar,” katanya. (sah/K-3)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya