Meneladani Sikap Nasionalisme KH Ahmad Dahlan sebagai Sumber Belajar IPS Terpadu

Oleh : Masniah Ani, SP.d
Guru SDN Kebun Bunga 6 Banjarmasin

Globalisasi yang terjadi saat ini merupakan tantangan bagi bangsa Indonesia untuk memperkuat ketahanan negara, salah satunya dengan cara menanamkan sikap nasionalisme pada para generasi muda bangsa. Sikap nasionalisme dianggap sangat penting karna berguna dalam mempertahankan jati diri bangsa dan agar tiap masyarakat memiliki filter dalam menyaring budaya maupun kebiasaan baru yang masuk dan mempengaruhi kehidupan berbangsa bernegara. KH Ahmad Dahlan adalah seorang tokoh nasionalis yang bergerak dalam bidang organisasi dan kependidikan. Nama beliau sangat dikenal dan harum dalam pendidikan terutama pendidikan Islam. Sikap nasionalisme yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan dapat dijadikan sebagai sumber belajar IPS dan diharapkan dapat membuat generasi muda lebih mengenal tokoh-tokoh penting Indonesia tersebut serta meneladani sikap nasionalisme dan budi pekerti beliau.

Kata Kunci: Sikap nasionalisme, sumber belajar IPS, KH Ahmad Dahlan.

Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki kekayaan alam dan budaya yang sangat melimpah. Di umurnya yang sudah menginjak hampir 75 tahun kemerdekaan, Indonesia telah memiliki segudang prestasi yang sebagian besarnya dihasilkan oleh rencana dan kerja keras terutama dalam bidang pendidikan. Pengertian pendidikan terdapat dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 ayat (1) yang menyebutkan bahwa, “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”. Sehingga di dalam dunia pendidikan banyak sekali terdapat hal-hal yang mempengaruhi pendidikan, salah satunya yang berdasar dari faktor eksternal/luar yang contohnya adalah konsep-konsep terbaru yang dihasilkan dari pemiki
ran tokoh-tokoh yang sebagian besarnya berasal dari dunia barat dan sedikit banyaknya menimbulkan benturan karena kurang cocok dengan budaya kita yaitu budaya ketimuran (Ahmad, F, 2015).

Pendidikan adalah faktor terpenting dalam pembentukan sebuah peradaban. Maka dari itu dalam mencari dan memakai sumber belajar yang akan digunakan saat mengajar, guru hendaknya bisa memuat materi yang konsep-konsepnya bisa diterima oleh peserta didik di negara kita dan tidak berbenturan dengan nilai kebudayaan kita, terutama pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Mata pelajaran IPS dikenal sebagai mata pelajaran yang sangat luas cakupan materinya. Bahasan pada tulisan kali ini mengarah pada peranan dan sikap nasionalisme yang dimiliki oleh K.H. Ahmad Dahlan yang dapat digunakan sebagai sumber belajar IPS. Sikap yang dimiliki oleh KH Ahmad Dahlan ini tidak hanya bisa dimuat dan dikhususkan untuk melengkapi materi semangat kebangsaan atau dari sudut pandang materi sejarahnya saja, melainkan bisa menjadi role model peserta didik dalam pendalaman materi pendidikan karakter yang diselipkan pada pembelajaran IPS di sekolah. Lewat adanya materi tentang sikap nasionalisme dan peran KH. Ahmad Dahlan, dihar
apkan peserta didik dapat lebih mengenal tokoh nasional tersebut dan dapat meneladani sikap nasionalisme beliau sebagai benteng diri dari pengaruh globalisasi yang sangat massif ini.

Berita Lainnya
1 dari 182

KH Ahmad Dahlan adalah seorang tokoh nasionalis Indonesia yang menjadi pelopor berdirinya organisasi Islam Muhammadiyah. Sebagai tokoh besar Islam beliau banyak memiliki pemikiran-pemikiran yang telah mendobrak sistem ke-Islaman masyarakat di Yogyakarta yang pada masa itu sangat kental dipengaruhi oleh budaya kejawen. Setiap pemikiran beliau terselip banyak sekali makna yang dapat dipetik, makna tersebut berasal dari amanat-amanat beliau tentang syariat islam yang lurus dan bagaimana seharusnya menjalankan kehidupan bermasyarakat sosial yang baik dan damai (Anurkarina, FW, 2015). Ketika beliau mendobrak sistem ke-Islaman yang ada di Yogyakarta yang menurut beliau sedikit melencengpun beliau menggunakan cara dan pendekatan yang bijaksana agar tujuan mulia beliau tercapai dan tidak ada pihak-pihak yang merasa terlecehkan ataupun terpojokan.

Selain sikap bijaksana yang dimiliki oleh KH Ahmnad Dahlan, beliau juga memiliki sikap yang sangat tegas. Beliau pernah mengutarakan bahwa antara agama dan tradisi adalah dua hal yang berbeda yang masing-masing diantaranya tidak boleh mencampuri untuk tujuan yang menyeleweng, seperti adanya tradisi ‘padusan’ yang diadakan sebagai tanda mensucikan diri oleh umat islam sebelum masuknya bulan ramdhan. Namun kata beliau, jangan sampai tradisi tersebut wajib, namun hukum berpuasanya di anggap enteng malah banyak yang tidak menjalankan ibadah puasa (Anurkarina, F.W., 2015). Jika sesuatu itu berjalan seiringan maka kedua hal tersebut akan mewujudkan tujuan yang mulia. Disini terlihat sekali sikap bijaksana beliau diiringi pula dengan sikap ketegasannya.

Sikap ketiga yang bisa kita teladani oleh beliau yaitu keteguhan sikapnya, digambarkan dari kalimat yang pernah beliau ucapkan yang intinya beliau mengambil ajaran dari mana saja yang menurut beliau paling jelas dalilnya. Kalimat tersebut beliau lontarkan ketika bertukar pendapat masalah arah kiblat yang benar, beliau menyampaikan pendapat tersebut dengan tetap memperhatikan dan tidak meremehkan pendapat orang lain yang berbeda dengan beliau. Namun, pendapat yang beliau berikan, selalu mengandung dalil yang jelas dan beliau sangat teguh pada keyakinannya terhadap kebenaran yang ditunjukkan dari dalil tersebut.

Kemudian beliau juga memiliki sikap berfikiran terbuka dimana beliau tidak hanya berpegang pada hal apa yang beliau yakini semata melainkan juga mudah menerima pendapat dari orang lain dan tidak menggeneralisasi orang lain. Hal ini ditunjukkan saat beliau pernah mencoba berpakaian lebih modern, namun beliau dianggap melanggar kode etik kiyai yang tidak boleh berpakaian seperti kaum priyai. Beliau pun menjelaskan bahwa jangan mudah menilai dan menggeneralisir sikap seseorang melalui jenis pakaian yang ia pakai, cobalah menilai dari akhlaknya karena penampilan tidak akan bisa mendeskripsikan sikap dan akhlak dalam diri seseorang.

Nasionalisme adalah suatu sikap politik yang dimiliki setiap warna negara yang memiliki kesamaan kebudayaan, cita-cita, wilayah dan tujuan (Subiyakto, B., 2016). Sikap-sikap yang beliau miliki ini secara tidak langsung mencerminkan pula jiwa nasionalismenya, beliau sangat berhati-hati dalam mengambil segala langkah dan tindakan, hal itu beliau lakukan karena mengingat beliau merupakan seorang tokoh besar keagamaan yang sangat berpengaruh. Beliau lebih memilih menyampaikan ajaran agama dengan sopan santun daripada dengan tindakan yang keras dan memojokan suatu ajaran atau suku tertentu, jika hal itu dilakukan maka mungkin saja dapat memecahbelah persatuan umat Islam bahkan masyarakat Indonesia yang merupakan masyarakat multikultural ini. Pada kehidupan masa kini yang serba modern dimana pengaruh budaya luar yang masuk ke negera kita sudah tidak dapat dibatasi lagi, maka hendaknya para pendidik dapat menenamkan dan menyelipkan pendidikan karakter pada tiap mata pelajaran yang diajarkan di sekolah terutama pada
pembelajaran IPS. Pembelajaran IPS memiliki banyak cakupan materi yang luas sekali, maka tidak sulit untuk memasukan materi tentang sikap dan suri tauladan tokoh-tokoh besar nasionalis sebagai bahan dan sumber belajar IPS, yang diharapkan dapat menumbuhkan sikap nasionalisme juga pada diri tiap-tiap peserta didik.

Pendidikan IPS adalah mata pelajaran yang merupakan integras dari ilmu humaniora dan ilmu sosial (Syaharuddin, S & Mutiani, M, 2020). Pada masa globalisasi ini sangat penting bagi tiap diri masyarakat memiliki filter atau penyaring pengaruh buruk yang dengan mudahnya memasuki negara kita, maka dari itu pendidikan IPS memiliki peran agar tiap masyarakat memiliki jati diri bangsa yang kuat, teguh dalam melestarikan budaya nasional dan memiliki sistem hubungan sosial yang baik agar faktor luar yang bermaksud mengganggu kesatuan Indonesia tidak akan pernah berhasil menghancurkan kesatuan tersebut (Subiyakto, B, 2016). Hal ini dihantarkan lewat sumber belajar yang dipilih dan diaplikasikan dengan baik dalam pembelajaran IPS. Sebelum menghantarkan materi tentang sejarah sebagai suatu disiplin ilmu dalam IPS ini, tentunya guru dan peserta didik haruslah memahami konteks peristiwa dan pemikiran yang muncul terlebih dahulu agar pembelajaran IPS tersebut lebih bermakna (Abbas, EW, 2020).

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya