Membuat Panting, Antara Seni dan Profesi

Banjarmasin, KP – Muhammad Husni namanya. Dia dikenal sebagai seorang perajin yang membuat panting, alat musik khas Banjar. Tak hanya ahli membuat alat musik panting, ia juga piawai memainkannya.

Husni Babun, begitu ia biasa dipanggil, menjadikan halaman rumahnya, di kawasan Sungai Lulut, Jalan Martapura Lama, Kompleks Citra Graha Blok G no 4, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar sebagai bengkel kerjanya.

Selama ini, Husni membuat panting dari batang kayu pohon nangka. Kalau kayu lain, hasilnya kurang bagus. Batang pohon nangka biasa dipesannya dari wilayah Kabupaten Banjar dan Tanah Laut.

“Pohon nangka ini sulit dicari di Banjarmasin, makanya saya harus memesan di daerah lain,” terangnya, beberapa waktu lalu

Husni menceritakan, dulunya, sebelum membuat panting, ia bekerja serabutan. Mulai mengamen lagu-lagu Banjar, menjadi penarik becak, buruh bangunan, supir angkutan hingga penjual buah.

“Perjalanan waktu, membawa saya jadi pembuat alat musik panting. Dari mencintai kesenian Banjar, hingga akhirnya, membuat alat musik panting menjadi profesi” tutur Husni yang juga memiliki grup Panting Kambang Pandahan, dan menerima panggilan untuk acara perkawinan atau hajatan.

Hanya saja, menurut Husni, beberapa bulan semenjak pandemi Covid-19 melanda, usahanya jadi tak menentu. Tak ada pesanan dari pelangganya. Batang-batang kayu pohon nangka dan panting setengah jadi, terlihat menumpuk di halaman rumahnya, tempat biasa dia bekerja. Sementara, di dalam rumah, terlihat sejumlah alat-alat musik yang sudah selesai dikerjakan, seperti babun, tiang gong, panting, bahkan gitar gambus.

Berita Lainnya
1 dari 449
Loading...

“Hampir enam bulan belakangan ini tidak ada orderan alat musik panting. Karena wabah virus Corona, pesanan jadi sepi. Saya cuma mengolah seadanya saja dari sisa bahan baku, untuk stok jika ada pesanan” ujarnya, sembari mengukir panting kepala naga dengan pahat dan palu kayu.

Sebelum wabah virus Corona, lanjut Husni, dalam sebulan ia bisa mendapat penghasilan antara Rp7 juta hingga Rp8 juta. Uang itu diputar lagi untuk modal beli bahan baku, sebagian lagi untuk kebutuhan keluarga. Namun, beberapa bulan ini pemasukannya nihil.

“Alhamdulillah, dari hasil membuat alat musik panting bisa menghidupi keluarga, menyekolahkan anak-anak dan mempunyai rumah. Kondisinya lebih baik dari 10 tahun lalu, sebelum saya menggeluti profesi ini,” ungkap pria berusia 40 tahun, yang dikenal ahli membuat ukiran kepala naga pada panting olahannya.

Namun, selama pandemi, Husni mengaku langganannya terpaksa menghentikan pesanan.

“Biasanya, pesanan datang dari Dinas Pariwisata, grup-grup kesenian dan toko musik yang ada di Banjarmasin,” bebernya.

Ia berharap, pandemi Covid-19 segera berakhir, dan orderan hasil karyanya mulai masuk lagi.

“Mudah-mudahan wabah Corona segera hilang dari muka bumi ini, masyarakat sehat dan perekonomian semakin membaik,” ucap Husni, yang pernah meraih penghargaan dari Pemerintah Provinsi dan Kabupaten-Kota, serta Kesultanan Banjar.

Apresiasi itu merupakan buah ketekunan Husni dan keteguhannya, yang ingin musik Banjar tetap lestari, dan tak semakin tergerus perkembangan zaman. (opq/K-1)

loading...
Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya