Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19 yang Berlarut-larut

Oleh : Hj Dede Yudiani S.Pd
Guru Geografi SMAN I Jejangkit

Pandemi virus Corona membawa banyak perubahan. Waktunya pun relatif lama. Sejak kemunculannya di akhir 2019, di Kota Wuhan, China. Pada awal 2020, banyak menjadi perbincangan di dunia tentang kondisi virus Corona. Semula orang mengira bahwa virus hanya di daerah atau di negara asalnya, tanpa menyadari bahwa suatu saat virus tersebut sampai ke tempat ini.

Asal mula virus tersebut berasal dari hewan yaitu kelelawar. Menurut berita yang beredar, masyarakat sekitar memakan kelelawar. Ternyata di kelelawar tersebut ada virus yang bernama virus Corona 2019.

Dalam perkembangannya, ternyata korban dari virus tersebut semakin hari semakin banyak. Korban yang meninggal dunia pun juga semakin banyak. Tidak hanya di negara Tiongkok, tetapi juga sampai ke negara-negara di sekitarnya.

Seiring dengan semakin meluasnya perkembangan virus tersebut Indonesia, beberapa negara bahkan sudah mulai lockdown atau mengkarantina wilayahnya.

Nah, ketika terjadi keadaan ini, banyak orang menyadari bahwa ini tidak hanya tentang virus corona di Wuhan atau di Tiongkok sana, tetapi juga menjadi permasalahan yang benar-benar ada di sekitar kita.

Masuknya Covid 2019 di Indonesia

Masuknya Covid 2019 di Indonesia pada awal Maret 2020 mengejutkan Indonesia. Beberapa waktu kemudian, semakin bertambah korbannya.

Menghadapi virus ini, pemerintah meliburkan sekolah, mengkarantina wilayah dan melakukan pembatasan sosial berskala besar lainnya. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan.

Ketika sekolah tidak diizinkan melakukan pembelajaran secara tatap muka, maka yang harus dilakukan adalah pembelajaran secara online atau daring. bagi yang tidak memiliki perangkat seperti handphone maka diganti dengan tugas yang harus diambil setiap minggu.

Seberapa efektifkah pembelajaran dengan metode seperti ini? Kalau dilihat dari sisi efektifnya, tentu tidaklah bisa lebih baik daripada pembelajaran tatap muka. Pembelajaran tatap muka tetap pembelajaran yang terbaik. Hanya saja, saat pandemi atau situasi yang berat seperti ini, pembelajaran jarak jauh adalah solusi yang terbaik.

Berita Lainnya

Rakyat dan Calon Pemimpin Merakyat

Korean Wave Tidak Layak Menjadi Panutan

1 dari 166

Pembelajaran jarak jauh atau menggunakan handphone dan jaringan internet, susah bagi daerah yang statusnya daerah tertinggal, karena tentu masih banyak yang harus ditingkatkan lagi dalam hal sarana dan prasarana serta infrastruktur yang ada.

Tantangan pembelajaran jarak jauh

Pembelajaran jarak jauh setidaknya harus didukung oleh dua hal.

Pertama, harus tersedia jaringan internet yang kuat. Kalaupun tidak ada, setidaknya, harus tersedia jaringan internet walaupun dengan tidak begitu kuat.

Kedua, peserta didik harus memiliki handphone untuk bisa mengakses internet. Bila kedua hal ini tidak ada, kentu akan sangat sulit untuk bisa mengikuti pembelajaran jarak jauh.

Berdasarkan pengalaman penulis, mengajar dengan metode pembelajaran jarak jauh, untuk ketersediaan jaringan internet sudah lumayan. Sebagian besar peserta didik sudah bisa mengakses internet dari rumahnya. Hal ini karena penulis mengajar di sekolah menengah atas, yang yang biasanya tidak jauh dari pusat kecamatan. Hal ini tentunya berbeda dengan sekolah dasar atau sekolah menengah pertama.

Untuk ketersediaan handphone bagi para peserta didik, sebagian besar peserta didik sudah memiliki handphone. Bagi mereka yang tidak memiliki handphone, situasi seperti ini memaksa mereka untuk membeli handphone. Kalaupun tidak mampu membeli, solusinya buat mereka adalah dengan pembelajaran jarak jauh berupa penugasan yang diambil setiap minggu satu kali.

Bila melihat hasil yang ada, efektivitas pembelajaran jarak jauh seperti ini hasilnya masih jauh dibandingkan pembelajaran tatap muka.

Setidaknya ada tiga hal yang menyebabkan tidak maksimalnya pembelajaran jarak jauh. Pertama, pembelajaran seperti ini lebih kepada transfer pengetahuan daripada pendidikan. Guru tidak bisa mendidik secara langsung kepada siswa, karena hanya jarak jauh. Guru pun hanya berbagi pengetahuan dan pemahaman kepada siswa. Terkait menegur perbuatan yang salah, sulit bagi guru.

Kedua, pembelajaran seperti ini tidak maksimal, karena di saat jam pembelajaran pendidik ataupun peserta didik kadang dalam proses belajar mengajar tidak benar-benar fokus. Terkadang, saat jam pelajaran, ada pekerjaan lain yang juga dikerjakan. Bahkan ada yang sambil dalam perjalanan. Ada juga peserta didik yang sambil membantu orang tua, ke sawah misalnya.

Ketiga, pendidik sulit mengukur pemahaman peserta didik. Ketika peserta didik diberi materi yang agak sulit, misalnya materi yang ada hitung-hitungannya. Terkadang, saat diajarkan secara langsung saja peserta didik banyak yang kurang paham, apa lagi bila diajarkan jarak jauh.

Jadi, bagaimanakah kelanjutan pendidikan di masa pandemi covid 19 yang berlarut-larut ini? Yang pasti pemerintah, khususnya kementerian pendidikan harus memberikan solusi terbaik terkait dengan kurikulum dan ketersediaan sarana dan prasarananya. Semoga keadaan ini berakhir dengan baik.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya