Januari 2021, Seluruh Sekolah di Banjarmasin Terapkan Belajar Tatap Muka

Evaluasi pembelajaran jarak jauh yang diterapkan selama berlangsungnya pandemi Covid-19 saat ini mempunyai banyak catatan

BANJARMASIN, KP – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin memastikan memastikan proses belajar tatap muka di setiap sekolah yang ada di Kota Banjarmasin akan diterapkan secara merata.

Kepala Disdik Kota Banjarmasin, Totok Agus Daryanto mengatakan, keputusan tersebut sudah sejalan dengan revisi SKB 4 Menteri RI yang baru saja dilakukan beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, dalam zoom meeting yang diikuti oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Menteri Kesehatan (Menkes), Menteri Agama (Menag) dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) dan BNPB Pusat yang merevisi SKB 4 Menteri.

Poin pertama dalam revisi tersebut tertuang bahwa keputusan pelaksanaan pembelajaran tatap muka memang harus diperhatikan kedepan.

“Karena kondisi sekarang hanya ada 13 persen dari seluruh sekolah di Indonesia yang menerapkan pembelajaran tatap muka, sedangkan sebagian besar sekolah lain tidak,” ucapnya pada Kalimantan Post, Minggu (22/11) siang.

Sementara itu, ia melanjutkan, evaluasi pembelajaran jarak jauh yang diterapkan selama berlangsungnya pandemi Covid-19 saat ini mempunyai banyak catatan.

“Diantaranya ada kemungkinan tumbuh kembang anak yang tidak baik dan resiko terjadinya kasus kekerasan terhadap anak di rumah,” bebernya.

Oleh karena itu Mendukbud mendorong kepada seluruh Pemerintah Daerah untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Namun dengan catatan, tetap memperhatikan keselamatan dan penerapan protokol kesehatan terhadap anak.

Sehingga, menurut pria dengan sapaan Totok itu menekankan bagi wilayah yang sudah termasuk zona kuning dan hijau sudah bisa menyelenggarakan sekolah tatap muka.

“Jangan sampai wilayah yang sudah keluar dari zona merah ini tidak menyelenggarakan proses belajar tatap muka, selama ini sekolah yang ada di wilayah zona kuning dan hijau masih melakukan pembelajaran jarak jauh,” ujarnya.

Padahal, ia melanjutkan, misalnya di Kota Banjarmasin saat ini sudah ada 40 kelurahan yang berstatus zona hijau. Seharusnya seluruh sekolah yang ada di wilayah itu bisa menerapkan sekolah tatap muka.

Berita Lainnya
1 dari 1.816

“Tidak perlu menunggu semua wilayah jadi zona hijau,” tukasnya.

Sementara saat ini kewenangan pelaksanaan pembelajaran tatap muka hanya dipegang oleh kepala daerah. Tidak perlu lagi memerlukan rekomendasi dari Tim Gugus Tugas P2 Covid-19.

“Makanya di pemberitaan nasional menunjukkan jika zonasi resiko Covid-19 tidak menjadi pertimbangan utama dalam rencana penerapan sekolah tatap muka,” sambungnya.

Sebelumnya, pihaknya telah menggelar simulasi pembelajaran tatap muka pada 4 sekolah tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sejak Senin, 16 November 2020 yang lalu selama 10 hari.

“Kita sepakat hasil simulasi ini akan kita rapatkan pada Kamis 26 November. Jadi hari Rabu simulasi pembelajaran tatap muka ini akan berakhir,” bebernya.

Setelah itu, ia mengaku bahwa Disdik akan kembali menggelar pembelajaran tatap muka dalam periode transisi yang ditargetkan digelar pada awal Januari 2021.

“Jadi sesuai dengan instruksi Pak Nadiem, pada Januari nanti sekolah tingkat Paud sampai dengan SMP di Banjarmasin bisa menggelar pembelajaran tatap muka. Tidak ada lagi sekolah tatap muka per jenjang pendidikan,” tegasnya.

Kendati demikian, sistem pembelajaran yang dilakukan secara daring di rumah tetap dilakukan. Karena setiap sekolah nanti akan menerapkan sistem belajar tatap muka per shift.

Untuk metode pembelajarannya sendiri akan dilakukan secara bervariasi dengan membagi dua shift, sehingga nanti akan ada kelompok siswa yang menjalani belajar tatap muka dan daring secara bergantian.

“Kedua metode pembelajaran ini tetap dilaksanakan, karena memakai shfting. Jadi sebagian siswa yang hari ini belajar tatap muka, besok mereka belajar di rumah. Begitu juga kelompok siswa yang satunya,” paparnya.

Ia mengklaim dengan dilakukannya simulasi tersebut, pihaknya bisa mencari formula yang tepat untuk menentukan metode pembelajaran di sekolah selama pandemi Covid-19 masih berlangsung.

“Alhamdulillah dengan simulasi ini kita bisa tahu bagaimana shifting yang ideal untuk diterapkan di masing-masing sekolah, bagaimana penyusunan kurikulumnya yang tepat, kemudian bagaimana kesiapan guru-guru yang mengajar. Tiga aspek itulah yang dicari dalam pelaksanaan simulasi kemarin,” pungkasnya. (Zak/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya