Nilai Tukar Nelayan Kalsel Meningkat Sejak 2016

Banjarbaru, KP – Tingkat kesejahteraan nelayan maupun pembudidaya ikan di Provinsi Kalsel terus menunjukan perbaikan. Hal ini terlihat dari data nilai tukar nelayan (NTN) dan nilai tukar pembudidaya ikan (NTPi) yang dikeluarkan BPS Provinsi Kalsel.

“Ini bukan data dari kita yang menyampaikan tapi dari BPS, data itu adalah indikator kesejahteraan nelayan,” kata DR Aryadi Noor MSi, Kabid Pengelolaan Ruang Laut dan Plt Kabid Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Kalsel, baru-baru tadi.

Nilai tukar nelayan sebagai alat ukur kesejahteraan yang diperoleh dari perbandingan besarnya harga yang diterima, dengan harga yang dibayarkan oleh nelayan. Begitu pula pula dengan NTPi adalah hasil perbandingan besaran pendapatan dengan pengeluaran yang dikeluarkan para pembudidaya ikan.

NIlai tukar nelayan di Kalsel pada tahun 2016 menunjukkan Sebesar 112,71 poin lalu tahun 2017 turun menjadi 112,24 poin. Pada tahun 2018 naik cukup signifikan menjadi 114,43 poin

Sementara Nilai tukar pembudidaya ikan di Kalsel atau NTPi pada tahun 2016 sebesar 102,09 kemudian tahun 2017 naik menjadi 102,15 poin dan tahun 2018 menjadi 104,23 poin.

Berita Lainnya
1 dari 1.147

“Dari data NTN dan NTPi tersebut dapat kita lihat cerminan kesejahteraan nelayan dan pembudidaya ikan di Kalsel,” kata Aryadi.

Sesuai arahan Gubernur Kalsel, Dinas Kelautan dan Perikanan terus berupaya meningkatkan kesejahteraan para nelayan. Mulai dari peningkatan volume GT kapal nelayan, modernisasi alat tangkap dan menjamin ketersediaan BBM.

Untuk pelabuhan perikanan, Pemprov Kalsel saat ini memiliki 4 buah UPT pelabuhan yaitu di Stagen Kotabaru, Muara Kintap Tanah Laut, Banjaraya Banjarmasin, serta Tanjung Sedang Batulicin.

“Untuk pelabuhan di Muara Kintap dan Stagen masih perlu peningkatan fasilitas agar dapat difungsikan secara maksimal sebagai pelabuhan perikanan,” terang Aryadi.

Sementara pelabuhan perikanan di daerah Teluk Tamiyang Kotabaru belum menjadi UPT. “Untuk Teluk Tamiyang belum jadi UPT Pelabuhan Perikanan Provinsi Kalsel, masih dalam proses melengkapi fasilitas,” tambah Aryadi.

Sebagai sekretaris HNSI (himpunan nelayan seluruh Indonesia) Aryadi mengatakan organisasi tersebut kini aktif lagi setelah sempat 10 tahun vakum dalam berbagai kegiatan. “HNSI sebagai organisasi mewadahi para nelayan, siap menjadi partner atau mitra kerja pemerintah daerah untuk meningkatkan kesejahteraan maupun produksi Perikanan di Kalsel,” kata Aryadi. (adpim/K-2)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya