Menengok Maskot Kampung Wisata Sungai Biuku, yang Muncul Malah Kura-Kura

Banjarmasin, KP – Kampung Selanjung Sungai Biuku beberapa waktu terakhir cukup menjadi sorotan lantaran memiliki tempat yang cukup asri, ternyata kampung ini juga menyimpan reptil langka yang menjadi bagian nama kampung tersebut. Masyarakat Banjar menyebutnya dengan nama Biuku.

Kampung yang diresmikan pada akhir Juli 2019 lalu sebagai salah satu kampung wisata di Kota Banjarmasin itu lokasinya berada di kawasan Kelurahan Sungai Andai, Kecamatan Banjarmasin Utara itu hanya berjarak sekitar 9 KM dari gedung Balai Kota Banjarmasin

Saat memasuki kawasan tersebut, pengunjung bakal disambut dengan karya hasil olahan tangan para warganya.

Mulai dari tempat peristirahatan berbentuk gazebo, spot foto berwarna-warni, hingga sejumlah ikon seperti jembatan dan menara yang terbuat dari kayu.Selain itu juga terdapat obor-obor kecil yang berjejer di sepanjang ruas jalan.

Berbicara tentang nama reptil yang diambil sebagai bagian nama kampung tersebut, juga dibangun dua ikon patung biuku.

Patung pertama diletakkan tak jauh dari pintu gerbang. Dan patung kedua, lokasinya tepat di depan kolam biuku.

Lantas, apakah ada biuku di kolam itu? Saat awak media mencoba menengok kolam yang menurut warga setempat berisi reptil langka tersebut, sayangnya, tak nampak seekor biuku pun muncul di situ.

Yang ada justru kura-kura air seukuran bola sepak berwarna hitam dengan ukuran tak lebih besar dari telapak tangan orang dewasa yang berkeliaran kesana-kemari sebanyak empat ekor

Salah seorang warga setempat, Bahran mengatakan, sebenarnya ada sepasang biuku yang hidup di kolam tersebut. Namun, keduanya hanya muncul dari tempat persembunyiannya ketika sedang lapar.

“Apabila masih kenyang, biuku memilih membenamkan diri ke dalam tanah,” ungkapnya pada Kalimantan Post sembari menunjuk ke kolam yang ada di dekat patung Biuku, Minggu (20/12) pagi.

Dengan rasa penasaran, awak media yang saat itu sedang ada disana mencoba menunggu Biuku muncul ke permukaan. Sayang, hingga 15 menit berlalu, hewan bercangkang keras itu tak kunjung menampakkan diri.

“Sepertinya kalian kurang beruntung,” tambah Bahran.

Untuk diketahui, Biuku masih sejenis dengan kura-kura air tawar. Yang membedakan ada pada bentuk tempurungnya yang agak lebih memanjang dibandingkan kura-kura air tawar lainnya, selain itu kakinya juga memiliki selaput.

Biuku sendiri memiliki nama beken, yakni ‘Tuntong Sungai’. Populasinya yang kian minim, menempatkan biuku ke dalam daftar merah. Artinya, reptil dengan status kritis alias langka.

Berita Lainnya
1 dari 3.596

Menurut Bahran, dua ekor Biuku yang diletakkan di kolam itu sendiri merupakan sumbangan dari warga setempat. Sehingga agar tak kabur kemana-mana, kolam tersebut dipagari dengan bambu yang diletakkan di sebuah kolam khusus yang dibuat sangat sederhana.

“Kalau tidak dibikin kandang seperti itu (menancap dalam), nanti Biuku atau kura-kura lain bisa kabur,” tambahnya.

Lelaki berusia 60 tahun itu mengungkapkan, bahwa ada kura-kura yabg pernah kabur. Beruntungnya, yang kabur hanya kura-kura air payau. Bukan biuku.

Namun tak lama kemudian, kura-kura itu berhasil ditemukan. Tak jauh dari salah satu kediaman warga setempat.

Senada dengan penuturan warga lainnya. Arbiyah menceritakan, kura-kura yang ada di kolam tersebut, kerap kabur dari tepatnya. Terutama saat air sungai mulai naik.

“Malam tadi saja, airnya pasang. Sampai menggenangi teras rumah ini,” ucapnya.

Selama ini. Kampung pariwisata itu dikelola oleh masyarakat setempat. Termasuk, dalam upaya memelihara biuku serta kura-kura lain yang ada di kawasan tersebut.

Arbiyah mengaku, warga bergantian memberi makan hewan-hewan yang ada di dalam kolam. Makanannya pun bervariatif. Mulai dari buah-buahan berupa pisang, hingga sayur-sayuran yakni kangkung.

Agar tidak terlalu terbebani, warga juga membuka sejumlah rekreasi. Salah satu diantaranya, wisata susur sungai dengan menggunakan sampan.

Untuk orang dewasa, ditarif Rp3 ribu. Sedangkan untuk anak-anak ditarif Rp2 ribu per-orang.

Namun berhubung masih pandemi, yang datang ke kawasan tersebut pun mulai berkurang.

“Pengunjung yang datang biasanya remaja dan yang sudah berkeluarga,” ucap Arbiyah.

Arbiyah juga menambahkan. Semenjak diresmikannya kampungnya itu menjadi salah satu destinasi wisata, juga memiliki dampak positif terhadap masyarakat.

“Warga jadi sadar pentingnya kebersihan lingkungan, dan pengunjung yang datang bisa menikmati suasana alam yang asri khas pedesaan,” tutupnya.

Kawasan ini digadang-gadang menjadi salah satu destinasi wisata alam unggulan di Kota Banjarmasin. Pepohonan rindang dan berada di samping sungai jadi modal utama untuk mewujudkannya.

Tiap tahun, kampung ini terus tampak berbenah. Bahkan, pada bulan Oktober lalu, dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarmasin mengumpulkan 30 warga di sana.

Selama sepekan, warga dilatih mengembangkan destinasi wisata itu. Rinciannya, sebanyak 15 warga diambil dari kawasan Selanjung Sungai Biuku, dan 15 warga lainnya dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kota Banjarmasin.(Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. TerimaSelengkapnya