Pendekatan Persuasif dalam Menjalankan Etika Sosial Baru

Oleh : MHD. Natsir Yunas
Dosen Jurusan PLS FIP UNP Padang/Kandidat Doktor Pendidikan Masyarakat UPI Bandung

Pandemi Covid-19 telah merubah berbagai lini kehidupan sosial hidup bermasyarakat. Masyarakat dituntut untuk patuh dan membiasakan diri dengan kebiasaan baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan, namun sekarang semua harus dilakukan. Apabila dulunya setiap bertemu dengan orang yang dikenal, harus diawali dengan bersalaman, maka sekarang tidak lagi. Masyarakat dilatih untuk senantiasa hidup bersih dengan selalu mencuci tangan dan memakai masker, serta mematuhi semua aturan protokol kesehatan. Secara bertahap masyarakat saat ini sedang membangun etika sosial yang baru dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

Saat ini masyarakat harus membiasakan diri untuk mematuhi etika sosial yang sedang dibangun bersama. Memakai masker bukan lagi hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi untuk melindungi orang lain dan menjadi bagian dari etika yang harus dipatuhi bersama. Setiap individu harus melakukan itu, sehingga ketika ada masyarakat yang tidak mematuhi, maka dianggap menyalahi etika sosial yang sedang dibangun oleh masyarakat. Etika sosial dengan mematuhi protokol kesehatan menjadi kebiasaan baru yang harus dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Protokol kesehatan yang dilaksanakan dalam penyelenggaraan jenazah yang terindikasi positif Covid-19 merupakan salah satu kasus yang memaksa masyarakat untuk terbiasa dengan etika sosial yang baru. Pihak keluarga tidak bisa lagi membawa pulang jenazah tersebut seperti biasanya. Tindakan mengambil paksa jenazah untuk dibawa pulang, meskipun itu adalah keluarga sendiri adalah salah satu bentuk kesalahan dan menyalahi etika sosial di masa pandemi ini. Tentu saja ini terasa berat dan keluar dari kebiasaan selama ini, tetapi harus dipatuhi. Ada kesadaran yang harusnya muncul dalam diri setiap individu masyarakat bahwa pelanggaran terhadap etika sosial yang berlaku tidak hanya membahayakan dirinya tetapi juga membahayakan kesehatan orang lain. Sehingga masyarakat bisa berubah menjadi lebih baik dengan membangun etika sosial baru untuk dipatuhi bersama.

Perubahan yang terjadi di tengah masyarakat seharusnya bisa berjalan natural. Sehingga tidak perlu ada pemaksaan dan hukuman yang akan membebani masyarakat. Maka seharusnya kepatuhan terhadap etika sosial yang baru dijalankan penuh kesadaran, tanpa ada unsur paksaan. Karena pemaksaan dengan hukuman terhadap mereka yang melanggar protokol kesehatan di beberapa daerah tidak sepenuhnya efektif untuk meningkatkan kepatuhan dan mengubah kebiasaan dalam masyarakat.

Berita Lainnya
1 dari 1.229

Dalam masa pandemi ini perlu dipikirkan upaya perubahan yang lebih persuasif, sehingga masyarakat menjadikan protokol kesehatan yang dijalankan sebagai kebutuhan bukan semata mematuhi aturan. Harus ada upaya sistematis dan terprogram dengan baik dalam bentuk rekayasa sosial terhadap masyarakat. Agar terbentuk etika sosial yang bisa dipatuhi oleh setiap individu atas dasar kesadaran penuh dari masyarakat. Salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah dengan membuat rekayasa sosial berbasis gaya hidup. Artinya merubah perilaku masyarakat di era postmodern seperti sekarang ini, lebih dimaknai sebagai bagian dari perkembangan gaya hidup dan perilaku konsumsi. Bukan sekedar tindakan yang rasional-kalkulatif (Suyanto: 2020).

Dalam konteks ini bisa dipahami bahwa menyuruh orang untuk memakai masker bukan hanya sekedar mematuhi agar dia terhindar dari penularan Covid-19. Tetapi yang lebih penting adalah apakah dia merasa keren atau tidak dengan menggunakan masker tersebut. Sehingga memakai masker membuat dia nyaman dan menambah kepercayaan dirinya dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Begitu juga dengan kebiasaan mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer, belajar daring, dan lain sebagainya harus dimaknai sebagai bagian dari perkembangan mode dan gaya hidup modern saat ini. Karenanya akan sulit meminta masyarakat untuk taat dan patuh memakai masker, sementara dalam pemahamannya memakai masker masih dianggap sebagai simbol dari orang yang sedang sakit dan penuh penderitaan. Mereka akan memakai tanpa disuruh jika memakai masker dimaknai sebagai simbol kemajuan dan gaya hidup.

Oleh sebab itu, ketika kesadaran sudah tertanam dengan baik dalam setiap individu masyarakat, maka protokol kesehatan yang selalu digaungkan pemerintah menjadi lebih mudah untuk diimplementasikan dalam kehidupan. Karena hidup bersih tidak hanya sebagai bentuk kepatuhan pada himbauan pemerintah, tetapi terlebih lagi bentuk ketaaan kepada Tuhan Yang Maha Esa . Karena Sang Pencipta sangat menyukai manusia yang selalu hidup bersih. Bahkan Rasul SAW pun menjelaskan bahwa kebersihan sebagian dari Iman.

Saat ini masyarakat sedang membangun etika sosial baru yang harus mereka jalankan bersama. Menuntut masyarakat merubah perilaku mereka dengan mematuhi etika sosial yang baru haruslah dilakukan dengan tindakan yang persuasif dengan melibatkan berbagai unsur yang mereka segani di tengah masyarakat. Seperti melibatkan pemuka agama dan pemuka adat yang banyak bersentuhan dengan masyarakat. Memaksa masyarakat untuk menjalankan etika sosial baru dengan berbagai hukuman tidak akan efektif.

Semoga saja dengan menjalankan ini semua akan terbentuk etika sosial baru yang barangkali tidak hanya bertahan semasa pandemi, tetapi kebiasaan-kebiasaan positif yang ada saat ini menjadi nilai baru yang dijalankan oleh seluruh lapisan masyarakat. Wallahu ‘alam bish shawab.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya