Didatangi Sekda, Owner Feri Alalak Tagih Janji Wabup Batola

Banjarmasin, KP – Pemilik kapal feri penyeberangan Alalak-Berangas, H Ranissa akhirnya ditemui oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Barito Kuala, yakni Abdul Manaf yang merupakan Sekda Kabupaten Batola.

Manaf menjelaskan, bahwa kedatangannya tersebut bertujuan untuk mengakhiri polemik yang terjadi akibat jawaban Wakil Bupati Batola, Rahmadian Noor atas pertanyaan netizen yang membuat owner feri itu tersinggung.

“Kedatangan saya kesini mewakili Pak Wakil Bupati yang hari ini berhalangan untuk hadir menemui pemilik feri,” ucapnya pada awak media, Rabu (10/2) siang.

Menurutnya, Wabup Batola sendiri tidak bermaksud untuk menyinggung atau membuat statement yang akhirnya menimbulkan polemik dan berimbas pada operasional kapal penyeberangan.

Bahkan, ia menambahkan, Wabup Rahmadian Noor sudah mengetahui tujuan dari operasional feri tersebut untuk membantu proses distribusi logistik antar daerah.

Sekda Manaf membeberkan kalau Wabup Rahmadian, akan secepatnya datang, usai rapat RUPS di Hotel Rattan Inn selesai.

“Semoga kesalahpahaman ini cepat berakhir. Karena Pak wakil bupati tahu betul kalau H Rani (Rannisa) ini banyak membantu untuk melancarkan arus lalu lintas,” pungkasnya.

Kedatangan Sekda Batola itu disambut baik oleh pemilik PT Ranissa Delapan Tiga Satu. Tanpa mengurangi rasa hormat ia bersedia menemui Sekda Batola yang sengaja datang untuk menemui Ranissa.

Kendati demikian, ia mengaku belum puas dan menyayangkan bahwa bukan pejabat yang bersangkutan yang datang menemui dirinya.

“Kita hanya minta sikap gentleman dari Wabup Batola. Karena beliau yang membuat janji untuk bisa datang sendiri ke kantor saya untuk meminta maaf,” ujarnya

Bahkan, kata pria yang akrab disapa Rani itu, jika Rahmadian tak kunjung datang, bisa saja dia memperpanjang persoalan yang sudah membuat harga dirinya terluka.

“Kalau beliau tak datang langsung untuk minta maaf bukan tak mungkin saya bisa tuntut beliau atas pencemaran nama baik di media sosial,” tukasnya.

Walaupun masih merasa geram lantaran tidak ditepatinya janji bertemu, Rani akhirnya tetap kembali mengoperasikan LCT miliknya sebagai feri penyeberangan truk di Sungai Alalak.

“Ini kita lakukan karena alasan kemanusiaan. Saya tahu benar rasanya jadi supir, karena saya juga pernah jadi sopir. Saya tahu rasa capeknya. Kalau saya menuruti ego, kasihan para sopir, ada yang sampai tidur di pinggir jalan, bahkan ada yang uang sakunya habis,” tandasnya.

Berita Lainnya
1 dari 2.411

Ia menambahkan, bahwa feri miliknya tersebut sudah mulai beroperasi sejak Rabu pagi. “Dalam sehari, sarana alternatif penyeberangan mobil angkutan rute Banjarmasin-Batola milik kita bisa menyeberangkan hingga 400 mobil,” tutupnya.

Sebelumnya diketahui, sejak kemarin siang, aktivitas penyeberangan kapal feri penyeberangan truk angkutan di alalak tak nampak lagi.

Rupanya hal tersebut terjadi lantaran pemilik kapal yakni H Ranissa merasa tersinggung dengan statement yang dikeluarkan oleh Wakil Bupati (Wabup) Barito Kuala (Batola), Rahmadian Noor.

Owner PT Rannisa Delapan Tiga Satu itu membeberkan bahwa pihaknya keberatan dengan pernyataan Wabup Batola yang menulis kalimat “bila jembatan sudah jalan maka ferry Berangas tidak diperlukan lagi” dalam menjawab pertanyaan warga melalui media sosial.

Jawaban tersebut kemudian diposting oleh netizen yang belum diketahui nama akunnya itu ke story instagram.

Karena alasan itulah pihak perusahaan yang memiliki dua kapal LCT yang menghubungkan Kota Banjarmasin dan Kabupaten Batola itu menghentikan layanan penyeberangannya.

Akibatnya, tumpukan truk angkutan barang dengan tujuan Batola, dan Kalimantan Tengah kembali mengular hingga Jalan S Parman, Banjarmasin.

Ketika dikonfirmasi, pria dengan sapaan H Rani itu mengaku bahwa penghentian operasi penyeberangan tersebut sudah melakukannya sejak siang kemarin.

“Mulai tengah hari kita hentikan operasional penyeberangan karena ada pernyataan dari Wabup Batola yang tidak enak dibaca,” ungkapnya saat dihubungi awak media melalui sambungan telepon, Selasa (9/2) malam.

Menurutnya pernyataan tidak dibutuhkan lagi itulah yang membuat pihaknya memutuskan untuk memberhentikan penyeberangan.

“Bahasa tidak dibutuhkan lagi itulah yang membuat kami tersinggung. Lebih baik berhenti sekarang,” imbuhnya.

Padahal, ia merasa operasional kapal penyeberangan yang ia sediakan tersebut sifatnya adalah membantu para sopir truk angkutan agar proses distribusi logistik bisa tetap berjalan lancar.

“Jadi upaya yang selama ini kami lakukan dalam membantu penyeberangan dianggap apa. Boro-boro terimakasih, ini terkait harga diri,” cetusnya.

Ia mengaku bahwa pihaknya bersedia kembali membuka jasa penyeberangan, namun dengan catatan Wabup Batola harus datang dan meminta maaf secara langsung.

“Kami bisa saja menghentikan penyeberangan selamanya kalau tidak minta maaf,” tandasnya.(Zak/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya