Dewan Prihatin Pedagang KWK Gulung Tikar

Tiga lokasi kawasan usaha kuliner yang disediakan Pemko Banjarmasin, kian sepi masing-masing adalah KWK Gang Pengkor, Tepi Siring, dan Jalan Lingkar Dalam Selatan

BANJARMASIN, KP – Ketua Komisi II DPRD Kota Banjarmasin HM Faisal Hariyadi menyatakan keprihatinannya, karena banyak pedagang kuliner yang menempati Kawasan Wisata Kuliner (KWK) Difasilitasi Pemko gulung tikar.

Kepada KP Rabu (3/3/2021) ia berpendapat, upaya Pemko Banjarmasin meningkatkan pariwisata usaha masyarakat kecil kota ini dengan mendorong Usaha Kecil Menengah (UKM) belum sesuai harapan.

Disebutkan dari tiga lokasi kawasan usaha kuliner yang disediakan Pemko Banjarmasin, seiring waktu kian sepi pengunjung.

Seperti ujarnya usaha kuliner di Gang Pengkor Kayu Tangi I, tempatnya belakang Gedung Wanita Jalan Brigjen Hasan Hasan Basri Kecamatan Banjarmasin Utara.

Usaha kuliner Gang Pengkor yang didirikan awal Januari tahun 2014 silam itu sekarang ini sudah tidak lagi ditempati pedagang.

” Padahal lokasi usaha kuliner sebagai solusi atas kebijakan Pemko Banjarmasin yang menertibkan Pedagang Kaki Lima (PKL) berjualan di sepanjang Kayu Tangi Jalan Brigjen H Hasan Basri itu dulunya ditempati sekitar 90 pedagang,” ujarnya.

Berita Lainnya
1 dari 2.643

Menurutnya, nasib sama juga dialami usaha kuliner berlokasi di Jalan Pos tepatnya berada di tepian Sungai Martapura yang kini juga tidak ada lagi aktivitasnya.

Terakhir kebijakan Pemko Banjarmasin, merelokasi ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) Jalan A Yani Jalan Lingkar Dalam Selatan dengan mendirikan KWK Baiman yang sekitar Januari 2017 di Jalan Lingkar Dalam Selatan, Kelurahan Pekapuran Raya, Kecamatan Banjarmasin Selatan.

Padahal awalnya KWK Baiman ditempati sekitar 100 PKL yang direlokasi ke tempat berjualan baru tersebut. Namun baru beberapa bulan ditempati, satu-satu persatu pedagang meninggalkan tempat itu karena tidak mampu lagi bertahan dengan alasan sepi pengunjung.

” Meski masih tetap bertahan, namun pedagang yang berjualan di KWK itu diperkirakan masih tersisa sekitar 25 pedagang yang masih bertahan, sedang yang lainnya memilih pindah dan mencari tempat berjualan baru,” ujarnya.

Menyikapi sepinya pengunjung ini Faisal Hariyadi berharap, Pemko terus melakukan agar pedagang KWK di kota ini tetap bisa bertahan.

Ia menilai sepinya pengunjung KWK salah satunya karena Pemko kurang memberikan sentuhan. Hal ini ujarnya, dapat dilihat masih cukup banyaknya sarana dan prasarana pendukung yang belum dilengkapi “Seperti perlunya dipasangi berbagai lampu-lampu hias agar lokasi wisata kuliner pada malam hari lebih terlihat menarik, ” katanya.

Faisal Hariyadi mengakui, sejak mewabahnya virus corona (Covid-19) setahun lalu dan hingga sekarang belum mampu teratasi, dampak dirasakan bukan hanya masalah kesehatan, tapi juga terhadap perekonomian dan berbagai aktifitas kegiatan serta sosial masyarakat lainnya.

Kondisi ini kiranya dapat dimaklumi, menyusul kebijakan pemerintah dari mulai menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga sekarang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarkat secara Mikro (PPKM). (nid/K-3)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya