Pendidikan Karakter Harus Dimuai Sejak Anak Usia Dini

Oleh : Noor Baiti, M.Pd
Akademisi UMB Banjarmasin

Membicarakan moral merupakan hal sangat penting dan mendasar. Moral adalah mustika hidup yang membedakan manusia dengan binatang. Orang-orang yang bermoral kuat dan baik secara individual maupun sosial ialah mereka yang memiliki akhlak dan budi pekerti yang baik. Mengingat begitu urgennya moral, maka institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menenamkannya melalui proses pembelajaran.

Penguatan pendidikan moral dalam konteks sekarang sangar relevan untuk mengatasi krisis moral yang sedang terjadi di negara kita. Diakui atau tidak saat ini terjadi krisis yang nyata dan mengkhawatirkan dalam masyarakat dengan melibatkan milik kita yang paling berharga, yaitu anak-anak. Kondisi krisis moral ini menandakan bahwa seluruh pengetahuan agama dan moral yang didapatkanya dibangku sekolah ternyata tidak berdampak terhadap perubahan perilaku manusia Indonesia.

Meski penyebab merosotnya sangatlah kompleks, terdapat fakta yang tidak dapat di mungkiri. Lingkungan moral tempat anak-anak dibesarkan saat ini sangat meracuni kecerdasaan moral mereka. Pendidikan karakter harus dimulai sejak usia dini melalui pendidikan formal, nonformal dan informal. Guru, sebagai pemimpin dalam kelas adalah kunci utama dalam pendidikan karakter melalui pendidikan formal di sekolah. Menurut Kemendikbud 2013 pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan yang berkesinambungan antara keluarga dan lingkungan.

Untuk menyelaraskan kebutuhan ini, maka perlu ada kerjasama dalam mendidik anak antara orang tua, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat Adapun tujuan pendidikan moral dan nilai agama menurut para ahli filsafat etika, seperti Emmanuel Kant (1960) sudah lama merumuskan tujuan pendidikan moral yang disampaikan secara formal di sekolah atau secara nonformal oleh orang tua.

Pertama, Memaksimalkan rasa hormat kepada manusia sebagai individu. Kedua, memaksimalkan nilai-nilai moral universal, maksudnya tujuan pendidikan moral bukan saja demi terlaksananya aturan-aturan yang didukung oleh otoritas masyarakat tertentu Anak datang dari berbagai macam lingkungan keluarga, masyarakat dengan pola sikap orang tua dan anak yang berbeda pula.

Hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan tingkah laku anak. Terkad ang anak menunjukkan tingkah laku yang menyimpang, misalnya ada yang selalu menyendiri, membuat keributan, agresif, dan bosan bermain.

Jadi, harus dicari penyebabnya jika itu terjadi pada diri anak. Anak memiliki dasar atau bibit sifat perilaku yang sangat beragam. Jika tidak diarahkan secara tepat, bisa saja bibit mendasar itu berubah menjadi sifat negatif dan nanti akan mengubah sikap anak menjadi hal yang negatif pula, seperti pemalas, cuek, dan egois.

Mengenali lebih dini bibit sifat itu memudahkan orang tua dan pendidik dalam mengarahkan anak untuk mengembangkan diri kearah yang lebih positif. Beberapa sikap anak yang perlu diluruskan sejak dini, diantaranya :

1. Anak Egois.

Hal utama yang terlihat dari seorang anak yang egois adalah sikap keras kepala. Biasanya orang cepat kehilangan kesabaran saat menghadapi anak seperti ini. Anak cenderung ingin menang sendiri, tidak mau mendengarkan orang lain dan harus dituruti keinginannya. Bila tidak, biasanya anak akan mengeluarkan berbagai ancamannya, seperti mogok makan, menangis, berteriak-teriak, berguling-guling dan ada yang membenturkan dirinya sendiri, misalnya membenturkan badan dan kepalanya. Cara menangani anak seperti ini adalah jangan panik saat anak berulah. Hadapi anak secara sabar. Hal penting yang ingin didapatkan oleh anak seperti itu adalah perhatian. Jadi, saat ia berubah pastikan saja bahwa anak sedang diperhatikan;

Berita Lainnya
1 dari 261

2. Anak Perajuk.

Sikap seperti ini adalah cepat ngambek dan cenderung cengeng. Hampir mirip dengan anak egois. Hanya saja, anak perajuk tidak menunjukkan sikap yang keras. Padahal ini disebabkan karena anak merasa tidak mendapat perhatian dari orang tuanya. Jadi untuk menghadapinya, orang tua dan guru harus memperhatikannya;

3. Anak Pemalas.

Anak pemalas adalah anak yang enggan melakukan kewajibannya. Anak cenderung mengendalikan orang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Cara mengatasinya, yaitu memberikan contoh sekaligus pengertian secara konsisten. Beri ia sifat tanggung jawab sejak dini. Contoh merapikan mainan;

4. Anak Pendendam.

Pada usia dini, anak yang bersifat pendendam cenderung terlihat membalas perlakuan padanya secara kasar demi memuaskan kekesalannya. Jika tidak ditangani secara tepat, sikap yang seperti ini bisa terbawa hingga dewasa dan anak merasa hal yang dilakukan itu benar;

5. Pemalu.

Ciri anak pemalu adalah jarang memulai pembicaraan sebelum diajak berbicara. Anak pemalu cenderung menutup diri sehingga sulit ditebak keinginannya. Sebagai pendidik, khususnya di usia dini harus dengan sabar melatih anak agar tidak takut mengemukakan pendapatnya. Ajaklah anak untuk berpartisipasi setiap kegiatan di luar rumah sehingga terbuka peluang bagi anak Pengembangan moral anak dapat dilakukan melalui belajar penguasaan diri dan disiplin. Menurut Sjarkawi, perilaku manusia termasuk perilaku moral ditentukan oleh tiga faktor yang terdapat dalam diri seseorang yaitu, id, ego dan superego.

Id adalah sesutau dalam diri seseorang yang mendorong individu untuk berperilaku mengikuti nafsu, ego merupakan penentu terbentuknya perilaku riil, sedangkan superego sebagai pengembang elemen pendorong dan berfungsi sebagai agen pengendali yang memberikan pertimbangan kepada individu tentang perilaku salah dan mengontrol apakah hal itu baik atau tidak. Sebagai sebuah ilustrasi untuk lebih memahami ketiga istilah tersebut, berikut ini anda dapat mempelajari sebuah fragmen tentang kemauan seseorang dalam kehidupannya.

Ketika seseorang anak seusia Taman Kanak-kanak disuruh mandi sore oleh ibunya, ia tetap menginginkan agar dirinya bermain dan tidak perlu mandi (Id). Kemudian ibunya menasihati dengan mengutip ucapan ibu guru di TK bahwa untuk menjaga kesehatan kita harus mandi (Super Ego). Kemudian anak tersebut melihat bahwa teman-teman sebayanya sudah mandi tinggal dia sendiri yang belum mandi (Ego) maka disitulah peran orang tua/guru untuk senantiasa mengarahkan segala kemampuan yang tim bul dari diri anak ke arah yang positif, dengan pendekatan pendidikan. Dalam teori penanaman moral dan etika pun hal itu dikenal dengan istilah disonansi moral. Respon positif sebagaian pendidik dalam penanaman moral anak haruslah sedini mungkin ditanamkan kepada anak-anak sehingga pondasi pendidikan moral anak akan lebih kuat.

Bila kita mampu memberikan yang terbaik untuk itu semua, bukan tidak mustahil bangsa ini akan melahirkan manusia yang berperilaku moralis, yang akan menghantarkan pada kehidupan manusia yang mulia. Amiin semoga bermanfaat.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya