Karyawan dan Dosen Uniska Perlu Sejahtera Jangan Oligarki


Banjarmasin, KP – Sebagai seorang pemimpin tertinggi di sebuah universitas, rektor harus mampu membangun komunikasi yang baik dan efektif kepada bawahan. Salah satu tugas dan fungsi dari kepemimpinan yaitu menciptakan sinergi antar para pengikut dan menggerakan mereka untuk mencapai tujuan organisasi itu sendiri.
Demikian juga bagi Universitas Islam Kalimantan (Uniska) MAB yang semakin berkembang seperti sekarang ini, dan tercatat memiliki jumlah mahasiswa terbanyak untuk Perguruan Tinggi Swasta di wilayah Kalimantan.
Dan ditahun 2021 ini nasib dan kemajuan Uniska tersebut masih tergantung atau ditangan rektor, pasalnya pemilihan rektor Uniska masih belum final sampai hari ini. Dimana ada dua (2) bakal calon yang maju untuk menjadi pemimpin Uniska kedepannya yakni Prof. Abdul Malik, M.Pt.,P.Hd yg merupakan sang petahana dan Dr. Ir. H. Sanusi, M.I.Kom sebagai penantang.
Meski sebelumnya sdh dilakukan pemilihan dalam rapat oleh 25 anggota senat dengan melaksanakan voting namun hasil tersebut belum final sebab masih ada keputusan penentu yakni dari pihak Yayasan Uniska.
DR Muhammad Uhaib As’ad. Salah satu Dosen senior Fisip Uniska melihat, pemilihan Rektor Uniska di tahun 2021 menjadi catatan paling bersejarah. Sebab para pendukung rektor semakin terang-terangan menyatakan dukungannya kepada calon rektor masing-masing.
Dan situasi Pilrek saat ini sangat berbeda pada tahun-tahun sebelumnya. Sebab Pilrek dipermudah dan dipersempit demi kepentingan karena diduga telah di intervensi oleh pihak yayasan.
“Sekarang senat dan petinggi Uniska tak satu lagi,” katanya.
Digambarkannya, jika dalam sapu lidi adalah kumpulan beberapa lidi-lidi, dalam lidi tersebut ada yang kecil, besar, panjang serta pendek. Aka tetapi lidi-lidi tersebut diikat dan digenggam. Kemana diarahkan tentunya kumpulan lidi tersebut terbawa dan seraya mengikutinya.
“Tapi, jika ikatan serta genggaman itu terlapas maka lidi tersebut berhamburan,”ucap Uhaib
Baginya, Uniska harus memiliki sistem yang baik jika ingin membangun Uniska ke depannya, terutama yang dilakukan oleh Rektor nanti. Jangan melakukan kepentingan oligarki demi kepentingan ekonomi yang tanpa melihat kepentingan sejati akademisi.
“Misalnya adanya penunjukan dekan di salah satu fakultas yang tanpa memiliki jenjang karir, kemudian ada jabatan di fakultas yang berputar pada orang itu saja,”ucap Dosen yang pernah ke beberapa negara dalam tugas penelitiannya.
Bagi Uhaib, Kampus Uniska bersiap menjadi perguruan tinggi yang sehat, maju dan memiliki sistim yang profesional. Seperti yang dikatakan calon Rektor Dr. Ir. H. Sanusi, M.I.Kom, dimana Uniska sudah saatnya memiliki banyak badan usaha, dan tidak lagi tergantung pada SPP.
“Sudah saatnya Uniska membangun unit-unit usaha dimana hasilnya nanti bisa menutupi semua biaya kampus termasuk gaji dosen maupun karyawannya,” lanjut Uhaib.
Ia menyampaikan, pilrek saat ini masih dalam proses rapat Yayasan Uniska. Bijak melihat, jangan sampai hal yang terlewatkan terulang kembali.
“Jangan sampai masuk kelubang yang sama,” ucapnya.
Sementara Dosen Teknik Sipil Uniska Adhi Surya Said mengatakan siapapun nantinnya yang bakal memimpin Uniska, setidaknya harus memperhatikan kesejahteran karyawan serta dosen pengajarnya.
“Misal berikan beasiswa bagi dosen untuk sekolah kejenjang berikutnya, mengambil gelar doktor dan sebagainya,” katanya.
Dikatakannya pula, bawalah Uniska ini kedepan hingga lebih dikenal, jadilh pemimpin yang amanah serta berikan yang terbaik.
“Bagaimana mau maju jika tak terayomi dengan baik,” pungkasnya. (fin/KPO-1)

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya