Marhaban Yaa Ramadhan, Ramadhan Bulan Al-Qur’an

Oleh : Gita Pebrina Ramadhana, S.Pd, M.Pd
Dosen STAI Darul Ulum Kandangan, HSS – Pemerhati Masalah Pendidikan dan Remaja

Sambut Ramadhan dengan suka cita dan bahagia. Itulah sikap yang mesti dimiliki oleh setiap muslim. Walau di tengah pandemi seperti ini, semangat menyambut Ramadhan harus dimiliki oleh setiap muslim. Apalagi kita tahu bahwa Ramadhan adalah bulan penuh ampunan dan amal ibadah yang dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Ada empat keistimewaan yang dimiliki bulan Ramadhan. Pertama, bulan penuh ampunan. Bagi orang-orang yang beriman ampunan Allah SWT kepada hamba hambaNya adalah anugerah yang sangat besar. Bagaimana tidak seetiap hari manusia pasti memiliki perbuatan dosa atau maksiat, tetapi dosa dan maksiatnya berpeluang besar diampuni oleh Allah SWT pada bulan Ramadhan. Melaksankaan puasa Ramadhn pun juga dengan hati yang ikhlas dan hanya mengharapkan pahala dan ridho Allah SWT.

Kedua, bulan berlimpah keberkahan. Berkah ilahi bertambahnya kebaikan dan ketaatan. Kehadiran Ramadhan menjadi magnet yang sangat kuat sehingga hamba-hamba Allah terdorong terlakasanakan berbagai amal shalih dan ketaatan. Kualitas dan kuantitas amal shalih umat Islam pasti meningkat salaam ramadhan. Kondisi tersebut dipahami dalam sabda Rasulullah SAW, “Telah datang kepada kalian Ramdhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa didalamnya. Selama Ramadhan pintu pintu Jahim (neraka) tertutup dan setan-setan di belenggu. Didalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa saja yang dihalangi dari kebaikannya sunggu ia terhalangi. (HR.Ahmad)”

Ketiga, bulan bertabur pahala. Bulan Ramadhan identik dengan shaum (puasa) satu bulan penuh. Ibadah puasa Ramadhan adalah amalan yang istimewa di hadapan Allah SWT, keistimewaanya terletak pada balasan pahala yang berbeda dengan amalan lain.

Keempat, bulan diturunkannya Al-Qur’an. Keistimewaan dan kemuliaan Ramadhan bertambah karena bulan ini diturunkan Al-Quran. Allah SWT berfirman, “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasannya mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara) yang hak dan yang bathil. Karena itu siaap saja diantara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, hendaklah dia berpuasa”. (QS. Al-Baqarah : 185)

Berita Lainnya
1 dari 292

Sebagai seorang muslim, menerapkan Al-Qur’an sebagai aturan hidup adalah fitrah. Karena disitulah letak kaum muslim yang ingin hidup dengan penuh ketaatan dan keberkahan dari Allah SWT. Para sahabat dan salafush-shalih benar-benar merasakan indahnya hidup dalam naungan Al-Qur’an. Mereka menikmati indahnya penerapan hukum-hukum Al-Quran.

Dalam Al-Quran, Allah memerintahkan untuk memutuskan perkara berdasarkan wahyu yang telah diturunkan, begitulah fakta yang dlihat dan dirasakan oleh para sahabat dan shalafush shalih yaitu hukum-hukum Allah benar-benar diterapkan dalam kehidupan.

Namun kondisi tersebut begitu sangat berbeda dengan keadaaan hari ini. Saat ini Al-Qur’an hanya dijadikan sebagai bacaan dan hafalan semata. Tidak diterapkan diterpakan secara meyeluruh dalam kehidupan. Bagi para pembaca dan penghapal Al-Qur’an, pasti banyak menemukan kesenjangan ayat yang dibaca sesuai fakta dalam kehidupan. Yaitu fakta yang dibacakan justru benar-benar bertolak belakang dengan realita.

Seperti halnya negeri-negeri muslim yang tidak mendapatkan keadilan dinegeri-negeri mereka. Padahal kata Allah umat Islam adalah umat yang terbaik. Namun semuanya berbeda ketika peraturan yang diterapkan justru bukan hukum Allah SWT, tapi hukum buatan manusia. Sudah 100 tahun umat tanpa kepemimpinan Islam. Tidak dilindungi akidahnya, keadilannya, jiwanya, hartanya juga kehormatannya.

Begitu pun terkait banyak ayat Al-Quran lainnya. Pada intinya saat ini Al Qur’an telah kehilangan fungsi utamanya yakni sebagai petunjuk dan pedoman kehidupan. Al-Quran memliki beberapa fungsi diantara keutamaannya ialag sebagai petunjuk bagi umat manusia (QS. Al-Baqarah : 185).

Penting menjadikan Ramadhan sebagai momen yang tepat untuk mencari akar masalah solusi fundamental oleh seluruh kaum muslim di dunia. Akar utama tidak lain adalah syariah Islam yang dicampakan.

Maka dari itu, sudah saatnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalankan aturan kehidupan, baik dijalankan individu, kelompok maupun Negara meliputi ibadah maupun hukum-hukum muamalah, sanksi dan politik.

Berlangganan via E-MAIL
Berlangganan via E-MAIL
loading...

Situs ini menggunakan Cookie untuk meningkatkan Kecepatan Akses Anda. Silahkan Anda Setujui atau Abaikan saja.. Terima Selengkapnya